Orang murtad yang kabur tidak bisa dikembalikan. Sedangkan orang muslim yang kabur harus dikembalikan.
Itulah salah satu isi kesepakatan dalam Perjanjian Hudaibiyah.
Di antara nota perjanjian yang disepakati Nabi ﷺ dan musyrikin Quraisy itu adalah siapa saja di antara kaum muslimin di Madinah yang murtad dan pergi ke Mekah, maka ia tidak boleh dikembalikan ke Madinah.
Sedangkan siapa saja di antara kaum muslimin di Mekah yang pergi ke Madinah, maka ia harus dikembalikan ke Mekah.
‘Umar bin Al-Khaththab menganggap perjanjian itu merugikan dan merendahkan kaum muslimin. Ia pun mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata:
أَلَسْتَ نَبِيَّ اللَّهِ حَقًّا
“Bukankah Anda ini benar-benar nabi Allah?”
Nabi ﷺ menjawab:
بَلَى
“Tentu.”
‘Umar berkata:
أَلَسْنَا عَلَى الحَقِّ، وَعَدُوُّنَا عَلَى البَاطِلِ
“Bukankah kita berada di atas kebenaran sedangkan musuh-musuh kita di atas kebatilan?”
Nabi ﷺ menjawab:
بَلَى
“Tentu.”
‘Umar berkata:
فَلِمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا إِذًا؟
“Lalu kenapa kita mau merendahkan agama kita?”
Nabi ﷺ berkata:
إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَلَسْتُ أَعْصِيهِ، وَهُوَ نَاصِرِي
“Sesungguhnya aku adalah rasul Allah dan aku tidak mendurhakai-Nya. Dialah Penolongku.”
‘Umar berkata:
أَوَلَيْسَ كُنْتَ تُحَدِّثُنَا أَنَّا سَنَأْتِي البَيْتَ فَنَطُوفُ بِهِ؟
“Bukankah Anda pernah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Ka’bah lalu melakukan tawaf di sana?”
Nabi ﷺ menjawab:
بَلَى، فَأَخْبَرْتُكَ أَنَّا نَأْتِيهِ العَامَ
“Tentu. Tapi apakah aku mengabarkan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini?”
‘Umar berkata:
لاَ
“Memang tidak.”
Nabi ﷺ pun berkata:
فَإِنَّكَ آتِيهِ وَمُطَّوِّفٌ بِهِ
“Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan melaksanakan tawaf di sana.”
‘Umar lalu menemui Abu Bakar kemudian berkata:
يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَيْسَ هَذَا نَبِيَّ اللَّهِ حَقًّا؟
“Wahai Abu Bakar, bukankah beliau itu benar-benar nabi Allah?”
Abu Bakar menjawab:
بَلَى
“Tentu.”
‘Umar berkata:
أَلَسْنَا عَلَى الحَقِّ وَعَدُوُّنَا عَلَى البَاطِلِ؟
“Bukankah kita berada di atas kebenaran sedangkan musuh-musuh kita di atas kebatilan?”
Abu Bakar menjawab:
بَلَى
“Tentu.”
‘Umar berkata lagi:
فَلِمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا إِذًا؟
“Lalu kenapa kita mau merendahkan agama kita?”
Abu Bakar berkata:
أَيُّهَا الرَّجُلُ إِنَّهُ لَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَيْسَ يَعْصِي رَبَّهُ، وَهُوَ نَاصِرُهُ، فَاسْتَمْسِكْ بِغَرْزِهِ، فَوَاللَّهِ إِنَّهُ عَلَى الحَقِّ،
“Wahai lelaki! Sesungguhnya ia itu benar-benar rasul Allah dan ia tidak akan durhaka kepada Tuhan-Nya dan Dialah Penolongnya. Karena itu, berpeganglah pada perintahnya dan jangan menyelisihinya. Demi Allah, sesungguhnya ia berada di atas kebenaran.”
‘Umar berkata:
أَلَيْسَ كَانَ يُحَدِّثُنَا أَنَّا سَنَأْتِي البَيْتَ وَنَطُوفُ بِهِ؟
“Bukankah beliau pernah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Ka’bah lalu kita melaksanakan tawaf di sana?”
Abu Bakar menjawab:
بَلَى، أَفَأَخْبَرَكَ أَنَّكَ تَأْتِيهِ العَامَ؟
“Tentu. Tapi apakah beliau mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan mendatanginya tahun ini?”
‘Umar menjawab:
لاَ
“Memang tidak.”
Abu Bakar berkata:
فَإِنَّكَ آتِيهِ وَمُطَّوِّفٌ بِهِ
“Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan melaksanakan tawaf di sana.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Akhirnya ‘Umar pun sadar bahwa keputusan Nabi ﷺ itu bukan berdasarkan hawa nafsu, melainkan berdasarkan wahyu.
Karena itu, ia mengokohkan diri untuk menerimanya. Lalu turunlah firman-Nya:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin yaitu:
الطمأنينة بعد ما أصابهم من الاضطراب والقلق من جراء الصلح
“Ketenteraman setelah mereka merasakan kebingungan dan kegelisahan karena sebab perjanjian itu (Hudaibiyah).” (Aisaar At-Tafaasiir Likalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir)
untuk menambah keimanan mereka di samping keimanan mereka (yang telah ada) yaitu
ليزدادوا بسبب تلك السكينة إيماناً منضماً إلى إيمانهم الحاصل لهم من قبل
“Agar dengan sebab ketenangan itu bertambahlah keimanan mereka disamping keimanan mereka yang telah ada sebelumnya.” (Fath Al-Bayaan Fii Maqashid Al-Quran)
Walaupun sekilas merugikan, namun dengan disepakatinya perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin bebas menyebarkan dakwah di berbagai tempat, sehingga tersebarlah Islam di berbagai daerah dan masuk Islamlah berbagai kabilah.
Bahkan, di kemudian hari, kaum muslimin berhasil merebut kota Mekah!
Siapa sangka, perjanjian yang dianggap merugikan malah melahirkan kejayaan!
Sebelumnya, adakah orang yang mengira akan terjadi demikian?
Akhirnya Islam menjadi unggul. Umat Islam pun menjadi jaya.
Karena itu, kalau sekarang kita mengharapkan kejayaan, maka hendaknya kita kembali kepada agama kita dan berpegang teguh padanya. Itulah kunci kejayaan kita.
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian berjual beli menggunakan ‘Inah (salah satu jenis riba), lalu kalian mengambil ekor-ekor sapi (yaitu sibuk dengan peternakan), dan rela dengan pertanian (yaitu sibuk dengan pertanian) serta meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud)
Ya, sampai kalian kembali kepada agama kalian!
Artinya….
Selama kalian bergelimang syirik, jangan harap kalian memperoleh kemenangan!
Selama kalian bergelimang bidah, jangan harap kalian mendapat kemuliaan!
Selama kalian bergelimang maksiat, jangan harap kalian menggapai keunggulan!
Selama kalian melalaikan agama kalian, jangan harap kalian meraih kejayaan!
Siberut, 2 Muharram 1443
Abu Yahya Adiya






