Apa Kata Orang Nanti?

Apa Kata Orang Nanti?

Ketika hendak melakukan kebaikan, kadang muncul pertanyaan di benak ini, “Apa kata orang-orang nanti?”

Untuk melakukan kebaikan, apakah mesti kita memerhatikan pandangan orang lain?

Untuk menjadi sosok yang baik, apakah perlu kita mempertimbangkan penilaian orang lain?

Imam Asy-Syafi’i berkata:

رِضَاءُ النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ لَيْسَ إِلَى السَّلَامَةِ مِنَ النَّاسِ سَبِيلٌ. فَانْظُرْ مَا فِيهِ صَلَاحُ نَفْسِكَ فَالْزَمْهُ وَدَعِ النَّاسَ وَمَا هُمْ فِيهِ

“Keridaan orang-orang adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai. Tidak ada jalan untuk selamat dari orang-orang. Karena itu, lihatlah apa yang baik bagi dirimu, lalu kerjakanlah itu, dan biarkanlah orang-orang dalam keadaan yang mereka jalani.” (Al-‘Uzlah)

Ya, kalau kita mau mencari keridaan semua orang dan selamat dari celaan mereka, maka itu tujuan yang tidak mungkin tercapai.

Sebab, kalau pun sebagian orang rida kepada kita karena suatu perbuatan yang kita lakukan, maka yang lain justru marah.

Dan kalau pun sebagian orang senang kepada kita karena suatu perbuatan yang kita tinggalkan, maka yang lain malah murka.

Karena itu, Imam Asy-Syafi’i memberi nasehat:

“Lihatlah apa yang baik bagi dirimu, lalu kerjakanlah itu, dan biarkanlah orang-orang dalam keadaan yang mereka jalani.”

Ya, lakukanlah apa yang Allah ridai, sedangkan itu baik bagimu, dan jangan pedulikan orang lain!

Malik bin Dinar berkata:

مُنْذُ عَرَفْتُ النَّاسَ مَا أُبَالِي مَنْ حَمِدَنِي، وَلَا مَنْ ذَمَّنِي؛ لِأَنِّي لَا أَرَى إِلَّا مَنْ جَاءَ حَامِدًا مُفْرِطًا، أَوْ ذَامًّا مُفَرِّطًا

“Sejak aku mengenal orang-orang, aku tidak peduli orang yang memujiku dan tidak pula orang yang mencelaku. Sebab, yang kulihat hanyalah orang yang datang untuk memuji secara berlebihan atau mencela secara berlebihan.” (Az-Zuhd Al-Kabir)

Seandainya ada orang yang bisa membuat semua orang rida, tentu itulah nabi kita ﷺ. Sebab, beliau adalah makhluk paling mulia dan paling Allah cintai. Namun, kenyataannya, banyak yang menentang dan memusuhi beliau. Bahkan, di antara mereka yang menjadi musuh beliau adalah orang-orang yang masih kerabat beliau sendiri!

Nah, kalau beliau saja tidak bisa membuat semua orang rida, maka apalagi kita!

Celaan orang-orang tidak akan menjauhkanmu dari Allah, jika engkau memang dekat dengan-Nya. Sebagaimana pujian mereka tidak akan mendekatkanmu kepada Allah, kalau memang engkau jauh dari-Nya.

Celaan mereka tidak akan bisa menghentikan rezeki yang telah Dia tetapkan bagimu. Sebagaimana pujian mereka tidak akan bisa mendatangkan rezeki yang tidak Dia tetapkan bagimu.

Maka untuk apa pusing memikirkan penilaian orang lain?

Jadikanlah keridaan Allah yang pertama. Jadikanlah penilaian Allah yang utama.

Jangan ‘menghamba’ kepada manusia!

Nabi ﷺ bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

“Siapa yang mencari rida Allah dengan resiko membuat manusia marah, maka Allah akan rida kepadanya, dan akan menjadikan manusia rida kepadanya. Dan siapa yang mencari rida manusia dengan resiko membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya, dan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban)

 

Siberut, 27 Shafar 1443

Abu Yahya Adiya