Rendah hati adalah sifat terpuji yang Allah cintai.
Nabi ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)
Ini salah satu hadis yang menunjukkan keutamaan sifat rendah hati, dan masih ada lagi hadis lain yang menyebutkan tentang itu.
Bagaimana agar Bisa Rendah Hati?
Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
التواضع أن تخرج من منزلك فلا تلق مسلما إلا رأيت له عليك فضلا
“Tawaduk (rendah hati) yaitu engkau keluar dari rumahmu, lalu tidaklah engkau menemui seorang muslim pun, kecuali engkau anggap ia memiliki kelebihan daripada dirimu.” (At-Tawadhu wa Al-Khumul)
Ya, inilah yang dinamakan rendah hati, yaitu memandang orang lain lebih baik daripada diri sendiri. Siapapun orangnya.
Imam Bakr bin Abdillah Al-Muzani berkata:
إِنْ عَرَضَ لَكَ إِبْلِيسُ بِأَنَّ لَكَ فَضْلًا عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ، فَانْظُرْ، فَإِنْ كَانَ أَكْبَرَ مِنْكَ فَقُلْ:
“Kalau Iblis membisikkan pada dirimu bahwa engkau lebih mulia daripada muslim yang lain, maka perhatikanlah, kalau si muslim itu lebih tua darimu, maka katakanlah:
قَدْ سَبَقَنِي هَذَا بِالْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ فَهُوَ خَيْرٌ مِنِّي
“Orang itu lebih dahulu beriman dan beramal saleh daripada diriku, karena itu ia lebih baik dari diriku.”
وَإِنْ كَانَ أَصْغَرَ مِنْكَ فَقُلْ:
Kalau ternyata si muslim tadi lebih muda darimu, maka katakanlah:
قَدْ سَبَقْتُ هَذَا بِالْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ وَاسْتَوْجَبْتُ الْعُقُوبَةَ فَهُوَ خَيْرٌ مِنِّي
“Aku lebih dahulu bermaksiat dan berbuat dosa daripada orang ini serta lebih pantas mendapatkan siksa, karena itu ia lebih baik daripada diriku.” (Hilyah Al-Auliya wa Thabaqah Al-Ashfiya)
Menghinakan Diri Bukan Termasuk Rendah Hati
Seorang sufi ingin memiliki sifat rendah hati. Ia pikul sekarung buah-buahan yang disukai anak-anak, lalu ia pergi ke pasar.
Setelah sampai di pasar, ia berkata kepada setiap anak kecil yang lewat, “Ludahi wajahku, niscaya akan kuberi buah yang engkau sukai.”
Lalu anak kecil itu meludahi wajah sufi itu, kemudian sufi itu memberinya buah. Demikianlah, ludah anak-anak kecil di pasar mampir ke wajah sufi itu, karena mereka menginginkan buah tersebut. Dan sufi itu pun merasa senang. (Al-Hikam karangan Ibn ‘Ajibah)
Apakah ini rendah hati?!
Apakah ini cara meraih sikap rendah hati?!
Tidak!
Rendah hati tidak diraih dengan menghinakan diri sendiri!
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan sungguh, telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70)
Allah telah memuliakan manusia dengan banyak kelebihan, maka bagaimana bisa ia malah merendahkan dan menghinakan dirinya sendiri?
Rendah hati itu terpuji. Adapun menghinakan diri sendiri, maka itu terlarang dan tidak terpuji.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ
“Tidak sepantasnya seorang mukmin menghinakan dirinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Siberut, 16 Dzulhijjah 1442
Abu Yahya Adiya






