Suatu hari Fudhail bin ‘Iyadh melihat seseorang berkeluh kesah. Ia mengeluhkan musibah yang menimpa dirinya kepada orang lain. Maka Fudhail pun berkata kepadanya:
يَا هَذَا! تَشْكُو مَنْ يَرْحَمُكَ إِلَى مَنْ لاَ يَرْحَمُكَ؟!
“Wahai fulan, engkau mengadukan Tuhan yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu?!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Ya, apakah pantas seorang hamba mengadukan keputusan Tuhan yang amat menyayanginya kepada orang yang tidak menyayanginya?
Apakah itu sikap seorang hamba kepada Tuhannya yang telah banyak memberikan nikmat kepadanya?
Syaqiq Al-Balkhi berkata:
من شكا مصيبة إلى غير الله لم يجد حلاوة الطاعة
“Siapa yang mengadukan musibah kepada selain Allah, niscaya ia tidak akan merasakan manisnya ketaatan.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Marilah kita perhatikan kesabaran para ulama terdahulu:
Tatkala akan meninggal dunia, Imam ‘Ali bin Saleh mengangkat pandangannya lalu membaca:
مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.“ (QS. An-Nisa’: 69)
Al-Hasan bin Saleh berkata:
ثُمَّ خَرَجَتْ نَفْسُهُ، فَنَظَرْنَا، فَإِذَا ثُقْبٌ فِي جَنْبِهِ قَدْ وَصَلَ إِلَى جَوْفِهِ، وَمَا عَلِمَ بِهِ أَحَدٌ.
“Lalu keluarlah ruhnya. Kami pun melihat jasadnya, ternyata ada lubang di samping badannya yang menembus sampai ke dalam badannya. Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui itu sebelumnya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Lubang menembus sampai ke dalam badannya, tapi ia tidak memberitahukan itu kepada yang lain?!
Kenapa begitu?!
Syaqiq Al-Balkhi berkata:
ذَهَب بَصَرُ عَبْدِ العَزِيْزِ عِشْرِيْنَ سَنَةً، وَلَمْ يَعْلَمْ بِهِ أَهْلُهُ وَلاَ وَلَدُهُ.
“Penglihatan ‘Abdul ‘Aziz bin Abi Rawwad telah hilang sejak 20 tahun, akan tetapi keluarga dan anaknya tidak ada yang mengetahuinya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Penglihatannya terganggu sejak 20 tahun lalu tapi ia tidak memberitahukan itu dan tidak ada orang terdekat yang tahu?!
Kenapa begitu?!
Itulah yang namanya kesabaran. Itulah yang namanya ketabahan. Itulah akhlak yang mulia.
Sufyan bin ‘Uyainah berkata:
مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ كِتْمَانُ الْمَصَائِبِ
“Termasuk akhlak yang sangat mulia yaitu menyembunyikan musibah.” (Hilyatul Aulia wa Thabaqat Al-Ashfiya)
Maka, jangan umbar penderitaanmu kepada orang lain. Cukuplah Tuhanmu yang tahu keadaanmu.
Adukanlah kesedihanmu dan penderitaanmu hanya kepada Tuhanmu, karena kasih sayang-Nya amatlah dekat dengan dirimu.
Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah) Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Siberut, 24 Rajab 1442
Abu Yahya Adiya






