Imam Ahmad dan Nasehat Arab Badui

Imam Ahmad dan Nasehat Arab Badui

Ia dicambuk berkali-kali hingga tak sadarkan diri.

Pernah, suatu hari, tangannya diikat dengan tali lalu tali tersebut diikatkan ke kuda, kemudian kuda itu berjalan menyeretnya ke jalan-jalan!

Itulah cobaan yang menimpa Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kenapa beliau bisa mengalami cobaan seperti itu?

Penguasa di zaman beliau memaksa beliau untuk menyatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk (ciptaan Allah).

Namun, beliau tetap bergeming dengan keyakinan beliau bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah, bukan makhluk.

Akibatnya?

Beliau pun harus menerima siksaan demi siksaan.

Dalam keadaan siksaan masih terus mendera dirinya, berkatalah seorang Arab Badui menghiburnya:

يا أحمد, إن يقتلك الحق مت شهيدا, وإن عشت, عشت حميدا

“Wahai Ahmad, jika engkau mati karena membela kebenaran, niscaya engkau mati syahid. Dan jika engkau tetap hidup, niscaya engkau hidup dalam keadaan terpuji!”

Imam Ahmad berkata:

فقوى قلبي

“Maka ucapannya menguatkan hatiku.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Siapa yang tak kenal Imam Ahmad bin Hanbal?

Kesabaran dan ketegarannya dalam memegang prinsip agama tidak diragukan lagi.

Namun, walaupun begitu, beliau membutuhkan penguat yang menguatkan beliau dalam menghadapi cobaan yang beliau hadapi.

Dan siapa sangka, Allah takdirkan yang menguatkan beliau adalah ucapan seorang Arab Badui!

Ya, Arab Badui. Bukan Arab modern, apalagi seorang ulama!

Itu menunjukkan bahwa hikmah bisa muncul dari siapa pun.

Karena itu, jangan sampai kita meremehkan nasehat siapa pun, walau orang yang sangat awam sekalipun. Sebab, bisa jadi nasehatnya menginspirasi kita untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi.

 

Siberut, 4 Dzulqa’dah 1442

Abu Yahya Adiya