Bagaimana kedudukan Asy’ariyyah dalam pandangan Ahlussunnah?
Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:
الفرق المخالفة لأهل السنة متفاوتون في أخطائهم، فليس الأشاعرة في خطئهم كالخوارج والمعتزلة والجهمية بلا شك
“Sekte-sekte yang bertentangan dengan Ahlussunnah bermacam-macam dalam kesalahan mereka. Sekte Asy’ariyyah dalam kesalahan mereka tidak seperti Khawarij, Muktazilah, dan Jahmiyyah, tidak diragukan lagi.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Kalau memang mereka tidak seperti Khawarij, Muktazilah dan Jahmiyyah, apakah kesalahan mereka tidak boleh dibantah?
Syekh berkata:
ولكن ذلك لا يمنع من بيان خطأ الأشاعرة فيما أخطأوا فيه ومخالفتهم لأهل السنة في ذلك كما قد بين خطأ غيرهم لإظهار الحق وبيان بطلان ما يخالفه تبليغا عن الله سبحانه وعن رسوله صلى الله عليه وسلم وحذرا من الوعيد المذكور في قوله تعالى:
“Namun, itu tidak menghalangi untuk menjelaskan kesalahan Asy’ariyyah dalam perkara yang mereka salah dan menyalahi Ahlussunnah, sebagaimana kesalahan selain mereka juga dijelaskan untuk menampakkan kebenaran dan menjelaskan kebatilan yang menyalahi kebenaran sebagai bentuk penyampaian amanah dari Allah dari rasul-Nya dan sebagai bentuk mewaspadai ancaman yang disebutkan dalam firman-Nya (QS. Al-Baqarah: 159-160):
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh mereka yang melaknat. Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, maka mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari perkataan syekh tadi:
1. Kesalahan sekte Asy’ariyyah tidak separah Khawarij, Muktazilah, Jahmiyyah dan sekte lainnya.
Khawarij mengafirkan seorang muslim karena telah melakukan dosa besar, sedangkan Asy’ariyyah tidak.
Jahmiyyah dan Muktazilah menolak semua sifat Allah, sedangkan Asy’ariyyah tidak.
Dan banyak pendapat sekte Asy’ariyyah yang sesuai dengan pendapat Ahlussunnah.
Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa nama-nama Allah itu tauqifi (hanya bisa diketahui berdasarkan wahyu) dan musytak (memiliki kata dasar). Dan mayoritas tokoh sekte Asy’ariyyah berpendapat demikian juga.
Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa nama Allah lebih dari 99 nama. Dan mayoritas tokoh sekte Asy’ariyyah berpendapat demikian juga.
Karena banyaknya pendapat sekte Asy’ariyyah yang sesuai dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka wajarlah jika para ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa mereka adalah sekte yang paling dekat dengan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Syekh Dr. Nashir Al-‘Aql berkata:
ومن الحق والإنصاف أن نقول: إن الأشاعرة – في العموم – هم أقرب الفرق الكلامية إلى أهل السنة ، وأن منهم من هو إلى السنة أقـرب مـن سائرهم
“Termasuk kebenaran dan keadilan yaitu kita mengatakan bahwa sekte Asy’ariyyah-secara umum-adalah sekte kalam yang paling dekat dengan Ahlussunnah. Dan sesungguhnya di antara mereka ada yang lebih dekat dengan sunnah dibandingkan selainnya.” (Mabahits Fii ‘Aqidah Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah Wa Mauqif Al-Harakaat Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah Minhaa)
2. Sedikitnya kesalahan sekte Asy’ariyyah dibandingkan sekte lainnya janganlah menyebabkan seorang Ahlussunnah enggan meluruskan kesalahan mereka.
Sebab, seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Sebagaimana seseorang tidak ingin dirinya terjatuh dalam kesalahan, maka hendaknya ia juga tidak ingin saudaranya terjatuh dalam kesalahan. Itu adalah bukti adanya keimanan dalam hatinya dan bukti adanya rasa sayang kepada saudaranya.
Nabi ﷺ bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia menginginkan kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau seorang muslim menyaksikan saudaranya melakukan kesalahan, tetapi ia tidak mengingkarinya padahal ia mampu melakukannya, maka ia terancam siksa-Nya.
Siberut, 18 Jumada Al-Ulaa 1446
Abu Yahya Adiya






