Inilah Adab Tidur (bag. 2)

Inilah Adab Tidur (bag. 2)

 

  1. Makruh tidur di atas atap rumah tanpa ada penghalang yang bisa mencegahnya agar tidak jatuh.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ بَاتَ عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ لَيْسَ عَلَيْهِ حِجَابٌ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّ

“Siapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penghalangnya, maka hilanglah jaminan darinya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).

Al-‘Azhim Abadi berkata:

وَقِيلَ إِنَّ لِكُلٍّ مِنَ النَّاسِ عهدا من الله تعالى بالحفظ والكلامة فَإِذَا أَلْقَى بِيَدِهِ إِلَى التَّهْلُكَةِ انْقَطَعَ عَنْهُ

“Dikatakan bahwa setiap orang memiliki jaminan penjagaan dan pemeliharaan dari Allah. Jika ia menjatuhkan dirinya sendiri menuju kebinasaan, maka terputuslah jaminan itu darinya.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud)

 

  1. Tidak tidur dalam keadaan masih ada lemak, minyak, dan sisa makanan di tangan.

Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا نَامَ أَحَدُكُمْ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ فَلَمْ يَغْسِلْ يَدَهُ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Jika salah seorang dari kalian tidur, sedangkan di tangannya ada aroma lemak lalu tidak mencucinya, kemudian terkena musibah, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain)

Maksud terkena musibah di sini yaitu:

وَصَلَهُ شَيْءٌ من إيذاء الهوام وقيل أومن الْجَانِّ لِأَنَّ الْهَوَامَّ وَذَوَاتَ السُّمُومِ رُبَّمَا تَقْصِدُهُ فِي الْمَنَامِ لِرَائِحَةِ الطَّعَامِ فِي يَدَيْهِ فَتُؤْذِيهِ

“Sampai kepadanya gangguan serangga beracun. Dan ada yang mengatakan maksudnya gangguan jin. Sebab, serangga dan hewan-hewan beracun bisa jadi menuju dirinya ketika tidur dikarenakan aroma makanan yang ada pada tangannya lalu menyakitinya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi)

 

  1. Membaca ayat Kursi, 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah, surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ} [البقرة: 255]، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya” sampai akhir ayat. Sesungguhnya engkau akan terus mendapatkan penjagaan dari Allah dan tidak didekati setan sampai waktu Subuh.”

Adapun membaca 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah, maka itu sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Ada dua ayat terakhir surat Al-Baqarah. Siapa yang membacanya pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya (dari keburukan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas, maka itu sebagaimana  dikabarkan oleh Aisyah. Ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ، نَفَثَ فِي كَفَّيْهِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعًا، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ، وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ

“Bila mendatangi tempat tidurnya, maka Rasulullah ﷺ akan meniupkan ke dua telapak tangannya sambil membaca Qul Huwa Allaahu Ahad (surat Al-Ikhlas) dan Mu’awidzatain (surat Al-Falaq dan An-Naas), kemudian beliau mengusapkan itu ke wajah beliau dan anggota tubuh yang bisa dijangkau kedua tangan beliau.” (HR. Bukhari)

 

  1. Meletakkan tangan kanan di pipi dan membaca doa yang dipraktekkan Nabi ﷺ.

Al-Barra bin ‘Azib berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا نَامَ، وَضَعَ يَدَهُ عَلَى خَدِّهِ، ثُمَّ قَالَ:

“Jika ingin tidur, Nabi ﷺ meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya lalu mengucapkan:

اللهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

“Ya Allah, lindunglah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali hamba-hamba-Mu.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain Nabi ﷺ mengucapkan:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Bukhari)

 

  1. Bila kaget dan merasa takut di saat tidur atau akan tidur, hendaknya membaca doa yang diajarkan Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِي النَّوْمِ فَلْيَقُلْ

“Jika salah seorang di antara kalian merasa takut ketika tidur, maka hendaknya ia mengucapkan:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ

“Aku berlindung dengan kalam Allah yang sempurna dari kemarahan dan siksa-Nya, dan juga dari kejahatan hamba-hamba-Nya, serta bisikan-bisikan setan dan agar mereka tidak mendekatiku.”

فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

Niscaya, bisikan-bisikan itu tidak akan membahayakannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dan ini adalah redaksi Tirmidzi)

 

  1. Bila mengalami mimpi baik, maka jangan menceritakan itu kecuali kepada orang yang suka mendengarnya. Dan bila mengalami mimpi buruk, maka hendaknya ia bangun, meludahi arah kirinya 3 kali, dan berlindung kepada Allah, lalu melaksanakan salat, jika mau dan tidak menceritakan itu kepada siapa pun.

Nabi ﷺ bersabda:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنْ اللَّهِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلَا يُحَدِّثْ بِهَا إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

“Sesungguhnya mimpi yang baik itu adalah dari Allah. Bila seorang dari kalian bermimpi yang ia senangi, maka janganlah menceritakan itu kecuali kepada orang yang senang kepadanya.

وَإِنْ رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشَرِّهَا وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

Dan jika bermimpi buruk, maka hendaknya ia meludah tiga kali ke arah kirinya dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan dan keburukan mimpinya itu serta jangan menceritakan mimpi itu kepada siapa pun. Karena sesungguhnya mimpi tersebut tidak akan membahayakannya.” (HR. Muslim)

Nabi ﷺ bersabda:

فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ، وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسَ

“Bila seorang dari kalian bermimpi yang tidak ia sukai, maka bangunlah dan laksanakanlah salat serta jangan menceritakan mimpinya itu kepada orang lain.” (HR. Muslim)

 

  1. Bila bangun tidur, maka hendaknya membaca doa yang dipraktekkan Nabi ﷺ:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Bukhari)

 

Siberut, 16 Rabi’ul Awwal 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Hishn Al-Muslim karya Syekh Dr Sa’id Al-Qahthani.
  2. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam An-Nawawi.
  3. Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-‘Aini.
  4. Aun Al-Mabud Syarh Sunan Abi Daud karya Al-‘Azhim Abadi.
  5. dan lain-lain.