Sebentar-sebentar bicara tentang gaji. Sebentar-bentar bicara tentang kekayaan. Sebentar-sebentar orang lain dibicarakan.
Kapan bicara tentang salat? Kapan bicara tentang akhirat?
Kalau kita selalu bergaul dengan orang yang hobinya hanya berbicara seputar dunia, maka hati kita akan keras dan terjerat oleh racun dunia.
Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ
“Maukah kalian kukabarkan tentang orang-orang terbaik di antara kalian?”
Para sahabat menjawab:
بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ
“Tentu wahai Rasulullah.”
Beliau ﷺ menjawab:
الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا، ذُكِرَ اللهُ تَعَالَى
“Yaitu orang-orang yang jika dilihat, menjadikan ingat kepada Allah.” (HR. Ahmad)
Baru melihat wajahnya sudah mengingatkan kita untuk bertakwa kepada Allah.
Baru melihat wajahnya sudah mengingatkan kita untuk bertaubat kepada Allah.
Itulah orang yang mestinya sering kita kunjungi.
Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
إخواننا أحب إلينا من أهلنا وأولادنا لأن أهلنا يذكروننا بالدنيا وإخواننا يذكروننا بالآخرة
“Teman-teman kami lebih kami sukai daripada keluarga kami. Karena, keluarga kami selalu mengingatkan kami pada dunia, sedangkan teman-teman kami selalu mengingatkan kami pada akhirat.” (Ihya ‘Ulumuddin)
Carilah teman yang baik. Yaitu teman yang membantu kita untuk ingat kepada Allah. Teman yang membantu kita untuk ingat kepada akhirat.
Itulah teman sejati. Itulah teman yang harus kita cari.
Adapun teman yang tidak bisa mengingatkan kita pada akhirat, dan tidak pula memberikan wawasan dunia yang bermanfaat, maka kebaikan apa yang akan kita dapat?!
Imam Ibnu Hibban berkata:
وكل جليس لا يستفيد المرء منه خيرا تكون مجالسة الكلب خيرا من عشرته
“Setiap teman duduk yang tidak bisa diambil kebaikan darinya, maka duduk dengan anjing lebih baik daripada bergaul dengannya!” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Siberut, 1 Sya’ban 1442
Abu Yahya Adiya






