“Mereka menyalakan api untukku. Lalu api itu tidaklah padam kecuali karena cairan lemak punggungku!” (Hilyatul Aulia wa Thobaqotul Ashfiya )
Itulah yang dikatakan oleh Khabaab bin Al-Arat setelah ‘Umar terkejut menyaksikan punggungnya yang rusak.
Kaum Kafir Quraisy telah menyiksanya dengan demikian keras. Saking kerasnya siksa itu, sampai-sampai Khabbab mendatangi Nabi ﷺ.
Ia meminta kepada Nabi ﷺ supaya berdoa kepada Allah agar segera memberi pertolongan kepada kaum muslimin dan agar segera mengalahkan kaum musyrikin.
Ya, agar segera memberi pertolongan kepada kaum muslimin dan agar segera membinasakan kaum musyrikin.
Namun, apa jawaban Nabi ﷺ?
Beliau ﷺ bersabda:
قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ، يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهَا، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ، مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ
“Pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian yaitu ada seorang yang ditangkap, lalu dibuatkanlah lubang untuknya. Kemudian, ia diletakkan di dalam lubang tadi. Selanjutnya, didatangkanlah sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepalanya. Setelah itu, kepalanya dibelah menjadi dua. Dan ada juga seorang yang antara daging dan tulangnya disisir dengan sisir dari besi. Namun, semua siksaan itu tidak memalingkannya dari agamanya.
وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرُ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ، وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ
Demi Allah, sungguh, Dia akan menyempurnakan agama ini, sehingga seorang yang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah atau kepada serigala yang akan menerkam kambingnya. Namun kalian tergesa-gesa…” (HR. Bukhari)
Namun kalian tergesa-gesa. Kalau ini yang dikatakan oleh Nabi ﷺ kepada orang yang berada dalam generasi terbaik umat ini, yaitu orang yang masih berada di masa kenabian, maka bagaimana pula dengan kita yang jauh dari masa kenabian?!
Hadis ini menunjukkan tercelanya sikap tergesa-gesa.
Pentingnya Ketenangan
Kalau memang sikap tergesa-gesa adalah tercela, berarti sebaliknya, sikap tenang adalah sikap yang terpuji.
Mengapa demikian? Sebab….
- Sikap tenang dicintai Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
إن فيك خصلتين يحبهما الله: الحلم، والأناة
“Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang Allah cintai, yaitu bijak dan tenang.” (HR. Muslim)
- Sikap tenang melindungi seseorang dari ketergelinciran.
Nabi ﷺ bersabda:
التأني من الله والعجلة من الشيطان
“Sikap tenang itu dari Allah, sedangkan ketergesa-tergesaan itu dari setan.” (Syu’ab Al-Iman)
Ketika seseorang bersikap tenang, maka setan sulit untuk menggelincirkannya. Namun, kalau ia sudah mulai tergesa-gesa, maka mudahlah bagi setan untuk menggelincirkannya ke dalam kesalahan.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
الأناة: التأني في الأمور وعدم التسرع
“Sikap tenang yaitu tenang dalam segala perkara dan tidak tergesa-gesa.
وما أكثر ما يهلك الإنسان ويزل بسبب التعجل في الأمور، وسواء في نقل الأخبار، أو في الحكم على ما سمع، أو في غير ذلك.
Dan alangkah seringnya seseorang binasa dan tergelincir disebabkan ketergesa-gesaan dalam beberapa perkara, baik dalam menukil berita, atau dalam memvonis apa yang didengar, atau selain itu.
فمن الناس مثلاً من يتخطف الأخبار بمجرد ما يسمع الخبر يحدِّث به، ينقله…
Di antara manusia contohnya, ada yang menyambar berita-berita. Semata-mata mendengar berita, ia langsung menceritakannya dan menyebarkannya…
ومن الناس من يتسرع في الحكم، سمع عن شخص شيئاً من الأشياء، ويتأكد أنه قاله أو أنه فعله ثم يتسرع في الحكم عليه، أنه أخطأ أو ضلّ أو ما أشبه ذلك
Di antara manusia, contohnya, ada yang tergesa-gesa dalam memvonis. Ia mendengar sesuatu dari seseorang dan meyakini bahwa orang itu mengucapkannya atau melakukannya lalu ia pun tergesa-gesa dalam memvonisnya bahwa ia telah salah, sesat dan semacamnya.
وهذا غلط، التأني في الأمور، كله خير
Itu keliru. Bersikap tenang dalam segala perkara adalah baik.” (Syarh Riyadhus Shalihin)
Dalam Hal Apa Sikap Tenang Diperintahkan?
Kita harus bersikap tenang dalam semua perkara, di antaranya dalam beberapa keadaan berikut ini:
- Ketika pergi menuju salat
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ، وَأْتُوهَا تَمْشُونَ، عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Jika dikumandangkan ikamah, maka janganlah kalian mendatanginya dengan berjalan cepat. Datangilah dengan berjalan. Hendaknya kalian tenang. Apa yang kalian dapati, maka salatlah. Dan apa yang luput dari kalian, maka sempurnakanlah. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau hendak ibadah saja kita harus bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa, apalagi kalau selain ibadah!
- Ketika mempelajari Al-Quran.
Karena ingin cepat menghafal wahyu yang turun, Nabi ﷺ langsung menggerakkan bibir beliau untuk meniru wahyu yang dibacakan oleh Jibril.
Maka Allah pun menegur beliau lewat firman-Nya:
} لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16)
Ibnu ‘Abbas berkata:
فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ اسْتَمَعَ فَإِذَا انْطَلَقَ جِبْرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِيُّ ﷺ كَمَا قَرَأَهُ
“Setelah itu, Rasulullah ﷺ bila didatangi Jibril, beliau mendengarkannya. Dan bila Jibril sudah pergi, maka Nabi ﷺ pun membacanya sebagaimana yang dibacakan Jibril.” (HR. Bukhari)
Kalau dalam mempelajari perkataan yang paling mulia saja kita harus bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa, apalagi kalau mempelajari perkataan manusia biasa!
Dan kalau dalam mempelajari ilmu yang mengantarkan ke surga saja kita harus bersikap tenang dan tidak tergesa, apalagi kalau ilmu yang cuma ‘mengantarkan’ ke dunia!
- Ketika hendak berperang
An-Nu’man bin Muqarrin berkata kepada Al-Mughirah bin Syu’bah tatkala mengakhirkan perang hari Nahawand:
رُبَّمَا أَشْهَدَكَ اللَّهُ مِثْلَهَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمْ يُنَدِّمْكَ، وَلَمْ يُخْزِكَ، وَلَكِنِّي شَهِدْتُ القِتَالَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَانَ «إِذَا لَمْ يُقَاتِلْ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ، انْتَظَرَ حَتَّى تَهُبَّ الأَرْوَاحُ، وَتَحْضُرَ الصَّلَوَات
“Bisa jadi Allah menghadirkanmu dalam perang semacam ini bersama Nabi ﷺ. Karena itu, yang demikian ini tidak akan membuatmu menyesal dan terhina. Dan aku juga pernah ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ. Bila beliau tidak memerangi di awal siang, beliau menunggu hingga berhembusnya angin dan tiba waktu salat (tergelincirnya matahari).” (HR. Bukhari)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
قوله فلم يندمك أي على التأني والصبر حتى تزول الشمس
“Ucapan An-Nu’man: tidak akan membuatmu menyesal maksudnya kalau tetap tenang dan sabar sampai tergelincirnya matahari.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Kalau dalam menghadapi keadaan yang genting dan membahayakan nyawa saja kita harus bersikap tenang dan tidak tergesa, apalagi kalau dalam keadaan biasa!
Maka sikap tenang itu penting. Namun, bagaimana caranya agar memiliki sikap itu?
Agar Bisa Memiliki Sikap Tenang
- Berusaha menentang lawannya.
Kalau seseorang ingin memiliki sifat rajin, maka ia harus menentang lawannya yaitu sifat malas.
Kalau seseorang ingin memiliki sifat berani, maka ia harus menentang lawannya yaitu sifat takut.
Berarti, kalau seseorang ingin memiliki sifat tenang, maka ia harus menentang lawannya yaitu sifat tergesa-gesa.
- Doa
Sehebat apa pun usaha seseorang untuk memiliki sifat tenang, ia tidak akan memiliki sifat itu, kalau Allah tidak menghendakinya.
Karena itu, berdoalah kepada Allah agar menganugerahimu sifat yang mulia itu.
Di antara doa yang Nabi ﷺ ajarkan:
وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
“Bimbinglah aku kepada sebaik-baik akhlak, karena tidak ada yang membimbing ke arah itu kecuali Engkau. Hindarilah aku dari akhlak tercela, karena tidak yang menghindarkannya dari diriku kecuali Engkau.“ (HR. Muslim)
Siberut, 6 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Hilyatul Aulia wa Thobaqotul Ashfiya
- Mausu’ah Al-Akhlaq Al-Islamiyyah






