Ketulusan itu urusan hati dan tersembunyi, sulit kita ketahui. Namun, dalam beberapa keadaan kadang tampaklah bagi kita apakah seseorang memiliki ketulusan atau tidak.
Apa ciri-ciri orang yang tidak punya ketulusan?
- Mengungkit-ungkit jasa dan pemberian.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى
“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian merusak sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)
Mengungkit-ungkit pemberian akan menghilangkan pahala sedekah kita, bahkan menyeret kita ke neraka.
Nabi ﷺ bersabda:
وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى
“Tiga orang yang tidak akan masuk surga: orang yang durhaka kepada orang tuanya, pecandu minuman keras, dan orang yang mengungkit-ungkit pemberian.” (HR. An-Nasai)
Bisa jadi kita berbuat baik kepada seseorang, tapi orang tersebut melupakan kebaikan kita, atau mengingkari kebaikan kita, bahkan bersikap kurang ajar kepada kita.
Itu memang tidak pantas. Namun, walaupun begitu, bukan berarti kita boleh mengungkit-ungkit pemberian yang telah kita berikan kepadanya.
Tidak perlu kita mengucapkan: “Kamu ini tidak tahu diri! Ingat ya, siapa yang membantumu selama ini?! Siapa yang menyekolahkanmu selama ini?!”
Kita berbuat baik kepada orang lain bukan karena mengharapkan balasan darinya.
Kita berbuat baik kepada orang lain karena mengharapkan balasan dari Allah.
Ya, karena mengharapkan balasan dari Allah, baik orang itu melupakan kebaikan kita atau tidak. Baik orang itu membalas kebaikan kita atau tidak.
- Suka pujian dan popularitas.
Orang yang suka pujian dan popularitas adalah orang yang tidak tulus.
Bisyr bin Al-Harits berkata:
سُكُونُ النَّفْسِ إِلَى الْمَدْحِ , وَقَبُولُ الْمَدْحِ لَهَا أَشَدُّ عَلَيْهَا مِنَ الْمَعَاصِي
“Merasa senang dengan pujian dan menerimanya itu lebih berbahaya bagi jiwa daripada maksiat.” (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqah Al-Ashfiya)
Ia juga pernah berkata:
لَا يَجِدُ حَلَاوَةَ الْآخِرَةِ رَجُلٌ يُحِبُّ أَنْ يَعْرِفَهَ النَّاسُ
“Orang yang suka dikenal oleh orang lain tidak akan mendapatkan manisnya akhirat.” (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqah Al-Ashfiya)
- Gila jabatan dan kekuasaan.
Ya, orang yang gila jabatan dan kepemimpinan adalah orang yang tidak tulus.
Fudhail bin Iyadh berkata:
مَا مِنْ أَحَدٍ أَحَبَّ الرِّئَاسَةَ إِلَّا حَسَدَ وَبَغَى وَتَتَبَّعَ عُيُوبَ النَّاسِ وَكَرِهَ أَنْ يُذْكَرَ أَحَدٌ بِخَيْرٍ
“Tidaklah seseorang suka kekuasaan, kecuali ia akan iri, berbuat aniaya, dan mencari-cari aib orang lain serta tidak suka orang lain disebut-sebut kebaikannya.” (Jami Bayan Al-Ilmi wa Fadhlih)
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata:
لاَ يُفْلِحُ مَنْ شَمَمْتَ رَائِحَةَ الرِّيَاسَةِ مِنْهُ
“Tidak akan beruntung orang yang engkau cium dari dirinya aroma cinta kekuasaan.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Siapa pun yang tindak-tanduknya tidak untuk mencari rida Allah, maka ia tidak mempunyai ketulusan, dan tidak akan memperoleh kebaikan.
Muhammad bin Al-Hanafiyyah:
كل مالا يبتغى به وجه الله يضمحل
“Segala sesuatu yang tidak digunakan untuk mencari wajah Allah itu akan lenyap.” (Sifatus Shafwah)
Siberut, 12 Jumada Ats-Tsaniyah 1442
Abu Yahya Adiya






