Perlukah Khawatir terhadap Dosa?

Perlukah Khawatir terhadap Dosa?

Ada satu tanda yang jika ada pada diri seseorang, berarti masih ada kebaikan dalam hatinya.

Sebaliknya, jika tanda itu hilang dari diri seseorang, berarti sudah tidak ada lagi kebaikan dalam hatinya.

Apa itu?

Takut akan dosa. Merasa khawatir terhadap dosa.

Ibnu Mas’ud berkata:

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ

“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seperti ketika ia ada di bawah gunung, ia khawatir gunung tersebut jatuh menimpa dirinya. Sedangkan seorang fajir, memandang dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya.” (HR. Tirmidzi)

Seorang mukmin selalu memandang berat dosanya, walaupun itu ringan menurut pandangan orang lain.

Sedangkan seorang fajir, fasik dan munafik, selalu memandang ringan dosanya, walaupun itu berat menurut pandangan orang lain. Bahkan, ia menganggap Allah tidak menyaksikan tindak-tanduknya.

Padahal….

Ibnu Mas’ud berkata:

وَاللَّهُ فَوْقَ الْعَرْشِ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ من أَعمالكُم

“Allah di atas Arsy, tapi tidak sedikit pun amalan kalian samar bagi-Nya.” (Al-‘Uluww)

Terjatuh dalam kesalahan dan dosa bukanlah aib. Sebab, setiap insan pasti pernah melakukan kesalahan. Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa.

Yang dianggap aib adalah jika seseorang terjatuh dalam kesalahan, dosa dan maksiat, lalu ia tidak segera bertaubat. Bahkan, ia nekat terus melakukan kesalahan yang telah ia lakukan.

Itulah aib yang sebenarnya.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ ذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْقُرْآنِ:

“Sesungguhnya jika seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada satu titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, menghentikan dosanya dan memohon ampun kepada-Nya, maka akan bercahaya kembali hatinya. Namun, jika ia terus menambah dosanya, maka bertambah pula titik hitamnya hingga menguasai hatinya. Itulah penutup yang Allah sebutkan dalam Al-Quran (QS. Al-Muthaffifin: 14):

{كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Jika dosa bertumpuk terus, itu akan menutup hati sehingga terkunci mati.

Ya, terkunci mati, sehingga tidak ada lagi cahaya yang masuk ke dalamnya. Tidak ada lagi hidayah yang bisa sampai kepadanya. Kalau sudah begitu, tidak lagi bermanfaat apa pun nasehat. Tidak membekas lagi apa pun peringatan. Kalau sudah demikian, saatnya ia disalatkan!

 

Siberut, 9 Jumada Ats-Tsaniyah 1443

Abu Yahya Adiya