Ia mendatangi bukit. Setelah itu ia kembali dengan membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, lalu ia menjualnya. Dengan itu ia bisa memenuhi kebutuhannya.
Perbuatan itu dikatakan oleh Nabi ﷺ:
خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَن يَسأَلَ النَّاسَ، أَعطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ
“Lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya, menjual kayu bakar lebih baik daripada meminta-minta, karena….
Nabi ﷺ bersabda:
لاَ تَزَالُ المَسأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتى يَلْقى اللَّه تَعَالَى ولَيْسَ في وَجْهِهِ مُزْعةُ لَحْمٍ
“Senantiasa salah seorang dari kalian meminta-minta sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya, tanpa sekerat daging pun di wajah. Bukankah itu sangat terhina?
Ya, tentu saja sangat terhina. Dan seorang muslim sejati tidak sudi terhina.
Ia pantang merendahkan dirinya dengan meminta-minta kepada manusia. Bukan cuma itu….
‘Ali bin Abi Thalib berkata
إِنَّ الَّذِي يَعِيشُ مِنْ أَيْدِي النَّاسِ كَالَّذِي يَغْرِسُ شَجَرَةً فِي أَرْضِ غَيْرِهِ , فَاتَّقِ اللهَ يَا أَخِي , فَإِنَّهُ مَا نَالَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ شَيْئًا إِلَّا صَارَ حَقِيرًا ذَلِيلًا عِنْدَ النَّاسِ
“Sesungguhnya orang yang hidup dari pemberian orang lain seperti orang yang menanam pohon di tanah bukan miliknya. Maka bertakwalah engkau wahai saudaraku, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mendapatkan sesuatu dari orang lain kecuali ia akan menjadi hina dan rendah di pandangan orang lain.” (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqaat Al-Ashfiya)
Meminta-minta merupakan suatu kehinaan. Dan menjadi beban orang lain juga merupakan suatu kehinaan.
Maka, ‘bergeraklah’!
Ibnu Mas’ud berkata:
إِنِّي لَأَكْرَهُ أَنْ أَرَى الرَّجُلَ فَارِغًا، لَا فِي عَمَلِ الدُّنْيَا، وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ
“Sungguh, aku tidak suka melihat seorang yang menganggur, tidak berbuat sesuatu untuk dunia dan tidak pula untuk akhirat.” (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqaat Al-Ashfiya)
‘Umar bin Al-Khaththab berkata:
إِنِّي لَأَرَى الرَّجُلَ، فَيُعْجِبُنِي، فَأَقُولُ: هَلْ لَهُ حِرْفَةٌ؟ فَإِنْ قَالُوا: لا؛ سَقَطَ مِنْ عَيْنِي.
“Sungguh, jika aku melihat seseorang yang membuatku kagum, aku akan bertanya, ‘Apakah ia punya pekerjaan?’ Jika jawabannya adalah tidak, maka jatuhlah kedudukan orang tersebut di mataku.” (Al-Mujalasah wa Jawahir Al-‘Ilm)
Ketika seseorang menganggur, ia sudah berada di antara dua keadaan yang menghinakan:
Kalau bukan terhina karena meminta-minta kepada orang lain, ia terhina karena menjadi beban orang lain!
Maka, ‘bergeraklah’!
Nabi ﷺ bersabda:
كَانَ زَكَرِيَّا عليه السَّلامُ نجَّاراً
“Zakariya ‘alaihissalam adalah seorang tukang kayu.” (HR. Muslim)
Itu keadaan Zakariya, seorang nabi yang mulia. Beliau tidak malu menjadi tukang kayu, karena….
Menjadi tukang kayu itu lebih mulia daripada meminta-minta.
Menjadi tukang kayu itu lebih terhormat daripada menjadi beban masyarakat.
Siberut, 9 Rabi’ul Awwal 1444
Abu Yahya Adiya






