Arsy adalah ciptaan Allah yang paling besar dan paling tinggi. Tidak ada ciptaan Allah yang lebih besar dan lebih tinggi darinya.
Arsy pernah bergetar karena kematian seorang Anshar yang saleh, Sa’ad bin Mu’adz.
Nabi ﷺ bersabda:
اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ
“Arsy Tuhan Yang Maha Pengasih bergetar karena kematian Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, apakah Arsy bergetar karena adanya perceraian antara suami-istri?
Ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari jalan ‘Amru bin Jumai’ dari Juwaibir dari Adh-Dhahhak, dari An-Nazzal bin Sabrah dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:
تَزَوَّجُوا وَلا تُطَلِّقُوا، فَإِنَّ الطَّلاقَ يَهْتَزُّ لَهُ الْعَرْشُ
“Lakukanlah pernikahan dan jangan melakukan perceraian, karena sesungguhnya Arsy berguncang karena adanya perceraian.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Arsy berguncang karena adanya perceraian, tapi sayangnya….
Imam Ibnul Jauzi berkata:
هَذَا حَدِيث لَا يَصح
“Ini hadis yang tidak sahih.” (Al-Maudhuu’aat)
Kenapa tidak sahih?
Imam Ibnul Jauzi berkata:
وَفِيهِ آفَات: الضَّحَّاك مَجْرُوح وجويبر لَيْسَ بشئ.
“Dalam hadis ini terdapat beberapa penyakit: Adh-Dhahhak itu tercela, sedangkan Juwaibir tidak dianggap.
قَالَ النَّسَائِيّ وَالدَّارقطني: جُوَيْبِر وَعَمْرو مَتْرُوكَانِ
An-Nasai dan Ad-Daruquthni mengatakan bahwa Juwaibir dan ‘Amru bin Jumai’ dibuang riwayat keduanya.
وَقَالَ ابْن عدى: كَانَ عَمْرو ابْن جَمِيع يتهم بِالْوَضْعِ.
Dan Ibnu ‘Adi mengatakan bahwa ‘Amru bin Jumai’ tertuduh memalsukan hadis.” (Al-Maudhuu’aat)
Imam Yahya bin Ma’in berkomentar tentang ‘Amru bin Jumai’:
كان كذابا ليس بثقة
“Ia adalah pendusta, dan tidak bisa dipercaya.” (Tarikh Baghdad)
Imam Ad-Daruquthni berkata:
عمرو بْن جميع متروك الحديث.
“Amru bin Jumai’ adalah orang yang dibuang hadisnya.” (Tarikh Baghdad)
Maka, disimpulkan bahwa hadis ini tidak sahih, karena ada 3 orang yang bermasalah, yakni ‘Amru bin Jumai’, Juwaibir, dan Adh-Dhahhak.
Karena alasan itulah, beberapa ulama ahli hadis menyatakan bahwa hadis tadi itu lemah. Bahkan, ada juga para ulama ahli hadis yang menyatakan bahwa hadis tadi itu palsu!
Kalau memang hadis itu tidak sahih, maka tidak boleh kita menyandarkan perkataan tadi kepada Nabi ﷺ, dan tidak boleh juga kita menyampaikan hadis itu kepada orang lain kecuali dengan menjelaskan bahwa itu bukan hadis yang sahih.
Kalau tidak begitu, maka kita terancam oleh sabda Nabi ﷺ:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّار
“Siapa yang berdusta atas namaku, maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)
Siberut, 26 Muharram 1444
Abu Yahya Adiya
Sumber: http://islamqa.info/ar/ref/43498






