Diberi nasehat, tidak tersentuh. Melihat penderitaan orang lain, tidak terenyuh.
Itulah tanda orang yang memiliki hati yang keras.
Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Maka celakalah mereka yang memiliki hati yang membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)
Apa sebab seseorang memiliki hati yang keras?
Seorang pemuda yang bertanya kepada Imam Ahmad:
بِمَ تَلِينُ الْقُلُوبُ؟
“Dengan apa hati menjadi lembut?”
Imam Ahmad menjawab:
يَا بُنَيَّ بِأَكْلِ الْحَلَالِ
“Wahai anakku, yaitu dengan memakan yang halal.” (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqaat Al-Ashfiya)
Memakan yang halal bisa melembutkan hati. Sebaliknya, memakan yang haram bisa mengeraskan hati. Karena itu….
Kalau seseorang sulit tersentuh oleh nasehat, mungkin karena yang ia makan selama ini adalah makanan yang haram.
Kalau seseorang sulit terenyuh melihat penderitaan orang lain, mungkin karena penghasilannya selama ini dari yang haram.
Kalau seseorang sulit khusyuk dalam beribadah, mungkin karena selama ini ia memakan gaji buta atau tidak amanah dalam bekerja.
Sa’id bin Al-Musayyab berkata:
لاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لاَ يُرِيْدُ جَمْعَ المَالِ مِنْ حِلِّهِ، يُعْطِي مِنْهُ حَقَّهُ، وَيَكُفُّ بِهِ وَجْهَهُ عَنِ النَّاسِ
“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengumpulkan harta dari yang halal, memberikan hak hartanya dan menggunakan itu untuk menjaga kehormatannya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Siberut, 12 Rabi’ul Tsani 1444
Abu Yahya Adiya






