Tobatnya Seorang Perampok Jalanan

Tobatnya Seorang Perampok Jalanan

Kalau disebutkan namanya, orang-orang akan teringat berbagai catatan kejahatannya. Dan kalau melihat sosoknya, mungkin akan muncullah rasa gentar bercampur marah kepadanya.

Namun, siapa sangka sosok yang menakutkan seperti itu, bisa berubah menjadi sosok yang menyentuh hati bahkan melelehkan air mata.

Dia adalah perampok jalanan yang meresahkan setiap kafilah dagang yang melewati daerahnya.

Suatu hari perampok itu ingin mengunjungi seorang wanita. Wanita yang selama ini menjadi pujaan hatinya. Ia datangi rumahnya lalu ia panjat tembok rumahnya. Ketika ia sedang di atas tembok, tiba-tiba ia mendengar ada orang yang membaca ayat Al-Quran:

{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ}

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid: 16)

Ternyata ayat tersebut menyusup ke relung dadanya lalu menyentuh hatinya dan menggetarkan jiwanya. Di sinilah titik perubahan terjadi pada kehidupannya.

Perampok itu jadi gemetar. Ia pun turun dari tembok lalu berkata:

بلى يا رب قد آن

“Tentu wahai Tuhanku, telah datang waktunya. “(Al-Jami’ Liahkaam Al-Quran)

Setelah itu ia pun bertobat dengan sebenar-benarnya. Sebagai bentuk tobatnya, ia pergi ke Mekah dan tinggal di sana. Ia belajar agama dan beribadah di Masjidil Haram. Dan akhirnya…

Di kemudian hari orang-orang mengenalnya sebagai ulama yang banyak beribadah, sering menangis, dan sangat zuhud terhadap dunia.

Cahaya ibadah tampak di mukanya. Kekhusyukan terpancar dari sorot matanya. Wajahnya seakan mengingatkan orang lain akan akhirat.

Dialah sosok yang bernama Fudhail bin ‘Iyadh. Ulama terkenal di abad 2 Hijriah.

Siapa sangka sosok yang jahat seperti itu bisa berubah menjadi sosok yang taat lagi saleh.

Siapa sangka sosok yang menakutkan seperti itu, bisa berubah menjadi sosok yang menyentuh hati bahkan melelehkan air mata.

Ya, menyentuh hati bahkan melelehkan air mata. Sampai-sampai ‘Abdullah bin Al-Mubarak, seorang ulama yang terkenal zuhud dan giat beribadah pernah berkata:

إِذَا نَظَرْتُ إِلَى الفُضَيْلِ جَدَّدَ لِيَ الحُزْنَ، وَمَقَتُّ نَفْسِي، ثُمَّ بَكَى.

“Kalau aku melihat Fudhail maka akan muncullah rasa sedihku, dan jadi bencilah aku kepada diriku sendiri.” lalu ‘Abdullah pun menangis. (Siyar A’lam An-Nubala)

Nabi ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ

“Maukah kalian kukabarkan tentang orang-orang terbaik di antara kalian?”

Para sahabat menjawab:

بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ

“Tentu wahai Rasulullah.”

Beliau ﷺ menjawab:

الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا، ذُكِرَ اللهُ تَعَالَى

“Yaitu orang-orang yang jika dilihat, menjadikan ingat kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Baru melihat wajahnya sudah mengingatkan kita untuk bertakwa kepada Allah. Baru melihat wajahnya sudah mengingatkan kita untuk bertaubat kepada Allah.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid: 16)

Ayat inilah yang menyentuh hati seorang perampok dan penjahat sehingga akhirnya ia bertobat.

Ayat ini merupakan teguran bagi siapa pun yang mengaku beriman.

Belumkah datang waktunya bagi kita untuk tunduk mengingat Allah?

Belumkah datang waktunya bagi kita untuk bertobat dengan tulus kepada Allah?

Belumkah datang waktunya bagi kita untuk menyesali dosa-dosa kita?

Belumkah datang waktunya? Belumkah datang saatnya?

Atau hati kita sudah mengeras? Atau hati kita sudah membatu?

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Maka celakalah orang yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)

 

Siberut, 11 Syawwal 1445
Abu Yahya Adiya