Bukti Sayang Nabi kepada Umat Ini

Bukti Sayang Nabi kepada Umat Ini

Api yang ia nyalakan menerangi sekitarnya. Namun, siapa sangka, nyalanya api mengundang datangnya belalang dan kupu-kupu. Karena rasa sayangnya, orang itu menghalau hewan-hewan itu agar tidak mendekati api sehingga terbakar.

Demikianlah Nabi ﷺ menyebutkan perumpamaan antara beliau dengan umatnya.

Setelah menyampaikan perumpamaan itu beliau ﷺ bersabda:

وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي

“Dan aku memegang pengikat pakaian kalian supaya kalian tidak terjun ke dalam neraka, tetapi kalian malah hendak melepaskan diri dari peganganku?” (HR. Muslim)

Beliau ﷺ ingin menyelamatkan kita agar tidak terperosok ke dalam lubang neraka, tapi kita justru ingin masuk ke dalamnya?

Beliau ﷺ memberikan tuntunan kepada kita agar kita bahagia, tapi kita malah berpaling dari tuntunannya dan ‘rela’ sengsara?

Beliau ﷺ sosok yang amat sayang kepada kita, sangat sayang kepada umatnya, walaupun kita tidak menyadarinya.

Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri, terasa berat olehnya penderitaan yang kalian alami, ia sangat menginginkan (kebaikan) bagi kalian, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 128)

terasa berat olehnya penderitaan yang kalian alami artinya:

يشق عليه ما يشق عليكم ويؤلمه ما يؤلمكم

“Terasa berat olehnya apa yang memberatkan kalian dan terasa sakit olehnya apa yang menyakitkan kalian.” (Aisar At-Tafaasiir Likalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir)

ia sangat menginginkan (kebaikan) bagi kalian artinya:

حريص على هدايتكم وما فيه خيركم وسعادتكم

“Ia sangat menginginkan kalian mendapat hidayah dan mendapat sesuatu yang di dalamnya ada kebaikan dan kebahagiaan bagi kalian.” (Aisar At-Tafaasiir Likalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir)

Itulah nabi kita. Sosok yang sangat sayang kepada kita dan menginginkan kebaikan bagi kita.

Karena rasa sayangnya itulah, beliau ﷺ menunjukkan kepada umatnya segala kebaikan yang akan menguntungkan mereka, serta memperingatkan mereka dari segala keburukan yang akan membahayakan mereka. Dan itulah akhlak seorang nabi.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

“Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku melainkan wajib atasnya untuk menunjukkan kepada umatnya segala kebaikan yang ia ketahui untuk mereka dan memperingatkan umatnya dari segala keburukan yang ia ketahui dapat membahayakan mereka.” (HR. Muslim)

 

Sampai Urusan Buang Hajat

Salman Al-Farisi ditanya oleh orang-orang musyrik:

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ؟

“Apakah nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu, sampai pun permasalahan buang hajat?”

Salman menjawab:

أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

“Tentu. Beliau ﷺ telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil. Beliau juga melarang kami beristinja (cebok) dengan tangan kanan, atau beristinja menggunakan batu kurang dari tiga buah, atau beristinja menggunakan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim)

Lihatlah, karena sayangnya, beliau ﷺ memberikan kepada umatnya tuntunan, sampai urusan terkecil, yaitu buang hajat.

Nah, kalau urusan buang hajat saja diajarkan, apalagi permasalahan yang paling dibutuhkan umat, yaitu tauhid!

Oleh karena itu….

Nabi ﷺ telah mengajarkan kepada umatnya tauhid.

Beliau ﷺ juga telah memperingatkan mereka dari lawannya, yaitu syirik.

Dan beliau ﷺ juga telah menutup segala celah yang akan mengantarkan mereka kepada syirik.

Beliau ﷺ benar-benar serius menjaga akidah umatnya.

 

Penjagaan Nabi terhadap Akidah Umatnya

Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, dan jangan jadikan kuburku sebagai tempat perayaan. Ucapkanlah salawat untukku, karena sesungguhnya ucapan salawat kalian akan sampai kepadaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud)

Dan senada dengan itu….

Suatu hari ‘Ali bin Al-Husain melihat seseorang masuk ke dalam celah yang ada pada makam Rasulullah ﷺ, lalu berdoa di situ. ‘Ali pun melarangnya dengan berkata:

أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ

“Maukah engkau kusampaikan sebuah hadis yang kudengar dari ayahku, lalu dari kakekku, dari Rasulullah ﷺ? Beliau ﷺ bersabda:

لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا وَلا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا فَإِنَّ تَسْلِيمَكُمْ يَبْلُغُنِي أَيْنَمَا كُنْتُمْ

“Jangan kalian jadikan kuburku sebagai tempat perayaan, dan jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, karena sesungguhnya salam kalian akan sampai kepadaku di mana pun kalian berada.” (Disebutkan dalam Al-Mukhtarah)

Lihatlah, Nabi ﷺ melarang umatnya menjadikan kubur beliau sebagai tempat perayaan, yaitu tempat untuk berkumpul secara rutin.

Mengapa demikian?

Sebab, kalau mereka sudah menjadikan kubur beliau atau selain beliau sebagai tempat untuk berkumpul secara rutin, maka mereka pun akan beribadah di dekatnya.

Dan kalau itu sudah jadi tempat ibadah, maka di kemudian hari, kubur tersebut bisa disembah. Ya, kubur tersebut akan menjadi berhala yang diibadahi dan disembah.

Artinya beliau ﷺ khawatir umatnya di kemudian hari terjatuh ke dalam syirik, dosa paling besar di antara dosa-dosa besar, tanpa mereka sadari.

Bukankah itu tanda sayangnya beliau kepada umat ini?

 

Siberut, 25 Muharrram 1442

Abu Yahya Adiya