Mengetahui Nikmat Lalu Mengingkarinya

Mengetahui Nikmat Lalu Mengingkarinya

Bayangkanlah, mereka bisa memiliki rumah sebagai naungan, tempat tinggal dan istirahat bersama keluarga, baik itu di lembah maupun perbukitan.

Dan bayangkan, ketika sedang melakukan perjalanan, mereka juga bisa membuat kemah-kemah dari kulit binatang ternak yang ringan dibawa ketika berjalan dan mudah untuk mereka dirikan ketika sedang beristirahat dalam perjalanan.

Dan bayangkan juga, dari bulu kambing, bulu domba, dan bulu unta, mereka juga bisa membuat perabotan, perhiasan dan pakaian yang memelihara mereka dari panas dan dinginnya cuaca.

Itulah beberapa nikmat yang sudah Allah berikan kepada orang-orang musyrik. Namun apa sikap mereka terhadap nikmat-nikmat itu?

Setelah menyebutkan beberapa nikmat tadi dalam surat An-Nahl ayat 80 dan 81, Allah berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang ingkar.” (QS. An Nahl: 83)

Apa maksud mereka mengingkarinya?

Yaitu mengingkari berbagai nikmat yang Allah sebutkan dalam surat An-Nahl ayat 80 dan 81 tadi.

Bagaimana cara mereka mengingkarinya? Seperti apa bentuk pengingkaran mereka?

Imam Ibnul Jauzi berkata:

وفي إِنكارها ثلاثة أقوال:

“Dalam hal pengingkaran terhadap nikmat-nikmat tadi ada tiga pendapat:

أحدها:

Yang pertama:

أنهم يقولون: هذه ورثناها عن آبائنا… مجاهد قال: نِعَم الله المساكن، والأنعام، وسرابيل الثياب، والحديد، يعرفه كفار قريش، ثم ينكرونه بأن يقولوا: هذا كان لآبائنا ورثناه عنهم، وهذا عن مجاهد.

Mereka berkata, ‘Nikmat-nikmat ini kami warisi dari leluhur kami.’…Mujahid berkata, ‘Nikmat-nikmat Allah itu yakni tempat tinggal, hewan ternak, pakaian baju dan besi, itu semua diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy, lalu mereka mengingkarinya dengan berkata, ‘Ini milik leluhur kami. Kami mewarisi itu dari mereka.’ Ini pendapat Mujahid.

والثاني:

Yang kedua:

أنهم يقولون: لولا فلان، لكان كذا، فهذا إِنكارهم، قاله عون بن عبد الله.

Mereka berkata, ‘Kalau bukan karena fulan, tentu akan terjadi begini dan begitu.’ Itulah pengingkaran mereka, sebagaimana yang diutarakan oleh ‘Aun bin ‘Abdullah.

والثالث:

Yang ketiga:

يعرفون أن النعم من الله، ولكن يقولون: هذه بشفاعة آلهتنا، قاله ابن السائب، والفراء، وابن قتيبة.

“Mereka mengetahui bahwa nikmat-nikmat itu dari Allah, akan tetapi mereka berkata, ‘Nikmat-nikmat itu karena syafaat sembahan-sembahan kami.’ Itulah pendapat yang disebutkan oleh Ibnu As-Saib, Al-Farra’ dan Ibnu Qutaibah.” (Zaad Al-Masiir Fii ‘Ilm At-Tafsiir)

Orang-orang musyrik itu tahu bahwa yang memberikan berbagai nikmat tadi adalah Allah, tapi anehnya mereka menyandarkan berbagai nikmat itu kepada selain-Nya.

Mereka menyandarkan berbagai nikmat itu kepada leluhur mereka, dan orang yang terpandang menurut mereka.

Mereka menyandarkan berbagai nikmat itu kepada sebab dan perantara munculnya nikmat, dan lupa akan Tuhan yang menciptakan sebab dan perantara munculnya nikmat itu yaitu Allah.

Karena itulah mereka dianggap mengingkari berbagai nikmat tadi.

Maka, kita selaku muslim tidak boleh meniru mereka. Kita wajib menyandarkan segala nikmat hanya kepada Allah semata. Jangan sampai kita menjadi pengingkar nikmat-Nya!

 

Ini Termasuk Mengingkari Nikmat-Nya

Kalau engkau berkata:

“Lihatlah rumahku! Ini adalah buah kegigihanku dalam berbisnis!”

“Mau tahu rahasia suksesku? Aku selalu kerja keras dan cerdas!”

“Kalau bukan karena temanku, tentu aku sudah sengsara.”

“Berkat dirimu, aku bisa selamat dari kecelakaan itu.”

Lalu di mana Tuhanmu?!

Apakah engkau melupakan Tuhanmu?!

Jangan jadi pengingkar nikmat Tuhanmu!

Kegigihanmu, kecerdasanmu, dan temanmu, semua itu hanyalah sebab. Ya, hanyalah sebab dan perantara datangnya nikmat kepadamu. Bukan penentu dan pemberi nikmat yang sampai kepadamu.

Maka, jangan sampai engkau menyekutukan Tuhanmu dan meniru orang-orang yang menyekutukan Tuhanmu!

 

Siberut, 8 Rabi’ul Awwal 1442

Abu Yahya Adiya