Selama ini mengajak untuk mengesakan Allah, malah dianggap menduakan Allah.
Itulah yang terjadi pada Nabi ﷺ suatu hari.
Ibnu ‘Abbas berkata:
كان النبيّ صلى الله عليه وسلم ساجدا يدعو:
“Nabi ﷺ pernah sujud sambil berdoa:
يا رَحْمَنُ يا رَحيمُ
“Ya Rahman, Ya Rahim.”
فقال المشركون:
Maka orang-orang musyrik berkata:
هذا يزعم أنه يدعو واحدا، وهو يدعو مثنى مثنى
“Orang ini mengaku beribadah kepada satu tuhan, padahal ia beribadah kepada dua tuhan!”
فأنزل الله تعالى
Maka Allah pun menurunkan firman-Nya (QS. Al-Isra’: 110):
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama terbaik).” (Jami’ Al-Bayaan Fii Ta’wiil Al-Quran)
Dan pada kesempatan yang lain….
Sebuah kesepakatan damai telah tercapai dalam perjanjian Hudaibiyah.
Ketika itu, Nabi ﷺ menyuruh ‘Ali bin Thalib untuk menulis isi perjanjian itu. Beliau berkata kepadanya:
اكْتُبْ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Tulislah, ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Maka Suhail pun memegang tangan ‘Ali dan berkata:
ما نعرف الرحمن، اكتب في قضيتنا ما نعرف
“Kami tidak mengetahui Ar-Rahman. Tulislah dalam perkara kami apa yang kami ketahui.”
Maka Allah pun menurunkan firman-Nya (surat Ar-Ra’d ayat 30):
وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَاب
“Dan mereka kafir (ingkar) kepada Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Katakanlah: ‘Dialah Tuhanku, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.” (Jami’ Al-Bayaan Fii Ta’wiil Al-Quran)
Musyrikin Quraisy menolak salah satu nama Allah yaitu Ar-Rahman.
Maka Allah menyuruh Rasul-Nya dalam ayat tadi untuk membantah penolakan mereka dan menegaskan keimanan beliau kepada Tuhannya, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya.
Hendaknya demikian pula sikap kita terhadap nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya.
Tatkala kita mendengar ayat atau hadis yang menyebutkan nama atau sifat-Nya, seharusnya kita mengimaninya dan menerimanya dengan hati yang lapang. Bukan justru merasa berat mendengarnya.
Merasa Berat Mendengar Hadis Sifat
Nabi ﷺ bersabda:
تَحَاجَّتِ الجَنَّةُ وَالنَّار
“Surga dan neraka berbantah-bantahan.
فَقَالَتِ النَّارُ:
Neraka berkata:
أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالمُتَجَبِّرِينَ
“Orang-orang congkak dan sombong memasukiku.”
وَقَالَتِ الجَنَّةُ:
Sedangkan surga berkata:
مَا لِي لاَ يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ
“Kenapa yang memasukiku hanya orang-orang lemah dan hina dalam pandangan manusia?”
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ:
Lalu Allah berfirman kepada surga:
أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي
“Kau adalah rahmat-Ku. Aku merahmati siapa saja hamba-hamba-Ku yang Kukehendaki lewat dirimu.”
وَقَالَ لِلنَّارِ:
Kemudian Allah berfirman kepada neraka:
إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي
“Kau adalah siksa-Ku. Aku menyiksa siapa saja hamba-hamba-Ku yang Kukehendaki lewat dirimu.”
وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مِلْؤُهَا
Dan masing-masing dari keduanya ada isinya.
فَأَمَّا النَّارُ: فَلاَ تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ رِجْلَهُ فَتَقُولُ:
Adapun neraka, maka ia tidak penuh hingga Allah meletakkan kaki-Nya, lalu neraka pun berkata:
قَطْ قَطْ
“Cukup. Cukup.”
فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، وَلاَ يَظْلِمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا
Saat itulah neraka penuh dan sebagiannya menindih sebagian yang lain. Allah tidak menzalimi seorang pun dari makhluk-Nya.
وَأَمَّا الجَنَّةُ: فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا
Sedangkan surga, Allah menciptakan penghuninya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seseorang menyampaikan hadis ini kepada Ibnu ‘Abbas. Lalu bangkitlah seseorang karena terkejut dan merasa berat mendengar hadis tersebut. Maka Ibnu ‘Abbas pun berkata:
مَا فَرَّقَ بَيْنَ هَؤُلَاءِ يُجِيدُونَ عِنْدَ مُحْكَمِهِ , وَيَهْلِكُونَ عِنْدَ مُتَشَابِهِه
“Apa yang membuat mereka khawatir? Mereka mau menerima teks-teks yang muhkam (mudah dipahami), tapi mereka binasa ketika mendengar teks-teks yang mutasyabih (sulit difahami).” (Tafsir ‘Abd Ar-Razzaq Ash-Shan’ani dan As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim)
Lihatlah, Ibnu ‘Abbas mengingkari orang yang merasa berat mendengar hadis yang menyebutkan sifat Allah.
Padahal, seorang mukmin adalah orang yang menerima perkataan Nabi ﷺ dengan hati yang lapang.
Allah berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)
Ya, menerima dengan sepenuhnya, bukan setengah-setengah.
Karena itu, kewajiban kita adalah mengimani semua nama dan sifat-Nya, baik yang ada dalam kitab-Nya, maupun yang ada dalam sunah nabi-Nya, tanpa menyelewengkan maknanya dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk-Nya.
Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 11)
Siberut, 5 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






