Apa Adab di Malam Pertama?

Malam pertama. Malam seribu rasa. Malam mendebarkan bagi yang belum merasakannya. Malam yang membekas bagi yang sudah mencecapnya.

Dan Islam telah memberikan tuntunan dalam menghadapinya.

Apa sajakah tuntunan Islam dalam hal tersebut?

 

  1. Hendaknya suami mengucapkan salam kepada wanita yang telah menjadi istrinya.

Yang demikian bisa mencairkan kecanggungan dan kekakuan yang ada pada mereka berdua.

Abu Syekh Al-Ashfahani berkata:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رُسْتَةَ، نَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عِمْرَانَ، نَا أَبُو دَاوُدَ، نَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا تَزَوَّجَهَا فَأَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهَا، سَلَّمَ

“Telah menyampaikan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin Rustah, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Imran, telah mengabarkan kepada kami Abu Daud, telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Al-Mughirah dari Tsabit dari ‘Umar bin Abi Salamah dari Ummu Salamah bahwa Nabi ﷺ tatkala menikahi Ummu Salamah, lalu ingin menemuinya, beliau ﷺ mengucapkan salam kepadanya.” (Akhlaq An-Nabiyy)

 

  1. Menampakkan keramahan dan kemesraan.

Yang demikian bisa diwujudkan dengan melontarkan pujian dan kata-kata indah kepada pasangan atau menyuguhkan makanan ringan kepadanya atau perbuatan apa pun yang menampakkan keromantisan dan kemesraan di hadapannya.

Asma binti Yazid berkata:

إِنِّي قَيَّنْتُ عَائِشَةَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ ثُمَّ جِئْتُهُ، فَدَعَوْتُهُ لِجِلْوَتِهَا، فَجَاءَ، فَجَلَسَ إِلَى جَنْبِهَا، فَأُتِيَ بِعُسِّ لَبَنٍ، فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَهَا النَّبِيُّ ﷺ، فَخَفَضَتْ رَأْسَهَا وَاسْتَحْيَتْ

“Aku merias ‘Aisyah untuk Rasulullah ﷺ. Kemudian aku mendatangi beliau ﷺ dan memanggil beliau ﷺ untuk melihatnya dalam keadaan telah dirias. Beliau ﷺ pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Kemudian beliau صلی الله عليه وسلم disuguhi segelas susu. Beliau ﷺ pun meminumnya, lalu menyodorkan gelas itu kepada ‘Aisyah. Namun, ia menundukkan kepalanya dan malu-malu.” (HR. Ahmad)

 

  1. Meletakkan tangan di kepala istri dan mendoakannya.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا، فَلْيَقُلِ

“Jika salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, maka hendaklah ia berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan sifat yang Engkau letakkan padanya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan sifat yang Engkau letakkan padanya.” (HR. Abu Daud)

Imam Abu Daud menyebutkan tambahan sabda Nabi ﷺ:

ثُمَّ لِيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ فِي الْمَرْأَةِ وَالْخَادِمِ

“Lalu hendaknya ia memegang ubun-ubunnya,dan berdoa agar mendapat berkah pada istri dan budaknya.” (HR. Abu Daud)

 

  1. Salat bersama dua rakaat.

Abu Sa’id maula Abu Usaid berkata:

تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً، وَأَنَا مَمْلُوكٌ، فَدَعَوْتُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ ﷺ فِيهِمْ أَبُو ذَرٍّ، وَابْنُ مَسْعُودٍ، وَحُذَيْفَةُ، فَتَقَدَّمَ حُذَيْفَةُ لِيُصَلِّيَ بِهِمْ، فَقَالَ أَبُو ذَرٍّ، أَوْ رَجُلٌ:

“Aku menikahi seorang wanita ketika aku masih menjadi budak. Aku pun mengundang beberapa orang sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka ada Abu Dzar, Ibnu Mas’ud, dan Hudzaifah. Lalu majulah Hudzaifah untuk mengimami salat mereka. Kemudian berkatalah Abu Dzar atau seseorang:

لَيْسَ لَكَ ذَلِكَ

“Bukan engkau yang berhak menjadi imam!”

فَقَدَّمُونِي، وَأَنَا مَمْلُوكٌ، فَأَمَمْتُهُمْ فَعَلَّمُونِي قَالُوا:

Lalu mereka mendorongku untuk menjadi imam sedangkan aku masih menjadi budak. Aku pun mengimami salat mereka. Kemudian mereka mengajariku:

إِذَا أُدْخِلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَمُرْهَا فَلْتُصَلِّ خَلْفَكَ، وَخُذْ بِنَاصِيتِهَا، وَسَلِ اللَّهَ خَيْرًا، وَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا

“Jika isterimu nanti datang menemuimu, maka hendaklah engkau melaksanakan salat dua rakaat dan suruhlah ia bermakmum kepadamu. Lalu peganglah ubun-ubunnya, mintalah kepada Allah kebaikannya, dan berlindunglah kepada Allah dari keburukannya.” (Mushannaf ‘Abdirrazzaq Ash-Shanani)

 

  1. Membersihkan badan, berhias dan memakai wewangian.

Fitrah seorang insan itu menyukai kebersihan dan keindahan.

Tatkala seorang suami berpenampilan bersih, rapi, dan wangi di hadapan istrinya, bukankah itu akan menarik hati istrinya?

Begitu pula tatkala seorang istri berpenampilan bersih, rapi, dan wangi di hadapan suaminya, bukankah itu akan menarik hati suaminya?

Cukuplah bagi kita keteladanan pada diri nabi kita صلى الله عليه وسلم. Beliau ﷺ adalah seorang pemimpin umat, sekaligus pemimpin keluarganya dan juga seorang suami teladan. Apa yang beliau lakukan tatkala hendak menemui belahan jiwanya?

Syuraih bin Hani bertanya kepada ‘Aisyah:

بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ ﷺإِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟

“Apa yang pertama kali Nabi صلى الله عليه وسلم lakukan jika masuk ke rumahnya?”

‘Aisyah menjawab:

بِالسِّوَاكِ

“Bersiwak (menggosok gigi).” (HR. Muslim)

 

  1. Berdoa sebelum bersetubuh.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، فَقَالَ:

“Jika salah seorang dari kalian hendak menggauli isterinya lalu mengucapkan doa:

بِسْمِ اللهِ ، اَلَّلهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَارَزَقْتَنَا

“Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang akan Engkau berikan kepada kami.”

فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

Lalu ditakdirkan anak karena sebab hubungan itu, maka setan tidak akan membahayakan anak itu selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Mendahului dengan bercumbu dan apa yang bisa membangkitkan gairah bercinta.

Jabir bin ‘Abdillah menikahi seorang janda lalu mengabarkan itu kepada Nabi ﷺ. Maka beliau صلى الله عليه وسلم pun bersabda:

فَهَلاَّ جَارِيَةً تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ؟

“Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis hingga engkau bisa bercumbu dengannya dan ia pun bisa bercumbu denganmu?!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi berkata:

وَيُسَنُّ مُلَاعَبَتُهُ الزَّوْجَةَ إِينَاسًا وَتَلَطُّفًا مَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ مَفْسَدَةٌ، لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ «هَلَّا تَزَوَّجْتَ بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ»

“Disunahkan seorang suami mencumbui istrinya untuk menyenangkannya dan sebagai sikap lembut kepadanya, selama itu tidak menimbulkan mafsadat. Yang demikian berdasarkan hadis sahih: ‘Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis hingga engkau bisa bercumbu dengannya dan ia pun bisa bercumbu denganmu?!” (Raudhah Ath-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftin)

Tatkala melangsungkan hubungan intim, hendaknya suami melakukannya dengan kelembutan dan penuh kasih sayang. Ia tidak tergesa-gesa, kasar dan egois dalam melakukannya.

Dan kalau ia sudah mencapai kepuasaan terlebih dahulu….

Syekh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid berkata:

فإذا قضى وطره منها فلا يقوم عنها حتى تأخذ حاجتها, فإن ذلك أدعى لدوام العشرة والمودة

“Bila ia telah mencapai kepuasan terlebih dahulu, maka janganlah ia meninggalkan istrinya, hingga istrinya memenuhi hasratnya pula. Sebab, yang demikian lebih melanggengkan hubungan dan kasih sayang antara mereka berdua.” (Shahih Fiqh As-Sunnah)

 

  1. Bila selesai melakukan hubungan intim dan hendak tidur….

‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا كَانَ جُنُبًا، فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ، تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ

“Rasulullah صلى الله عليه وسلم jika dalam keadaan junub lalu hendak makan atau tidur, maka beliau berwudu sebagaimana wudu beliau ketika hendak salat.” (HR. Muslim)

 

Siberut, 27 Shafar 1444

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Shahih Fiqh As-Sunnah karya Abu Malik Kamal bin As-Sayyid
  2. Raudhah Ath-Thalibin wa Umdah Al-Muftin karya Imam An-Nawawi.
  3. dan lain-lain.