Manusia, Raja, dan Orang Rendah yang Sebenarnya

Manusia, Raja, dan Orang Rendah yang Sebenarnya

 

Suatu hari Imam ‘Abdullah bin Al-Mubarak ditanya:

من الناس؟

“Siapakah manusia itu?”

Beliau menjawab:

العلماء

“Ulama.”

Beliau ditanya lagi:

فمن الملوك؟

“Siapakah raja itu?”

Beliau menjawab:

الزهاد.

“Orang yang zuhud.”

Lalu beliau ditanya lagi:

فمن السفلة:

“Siapakah orang yang rendah itu?”

Beliau menjawab:

الذي يأكل بدينه.

“Orang yang makan dengan agamanya.” (Shifah Ash-Shafwah)

Manusia yang sesungguhnya adalah ulama. Raja yang sesungguhnya adalah orang yang zuhud. Orang rendah yang sesungguhnya adalah orang yang makan dengan agamanya.

Manusia yang sesungguhnya adalah ulama. Sebab, makin jauh seseorang dari ilmu agama, maka makin serupa ia dengan hewan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

لَوْلا الْعُلَمَاءُ لَصَارَ النَّاسُ مِثْلَ الْبَهَائِمِ

“Kalau bukan karena jasa para ulama, niscaya orang-orang menjadi seperti binatang ternak.” (At-Tabshirah)

Raja yang sesungguhnya adalah orang yang zuhud. Sebab, makin zuhud seseorang terhadap dunia, maka makin tinggilah kedudukannya.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:

وَأَمَّا مَنْ زَهِدَ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ، وَعَفَّ عَنْهُمْ، فَإِنَّهُمْ يُحِبُّونَهُ وَيُكْرِمُونَهُ لِذَلِكَ وَيَسُودُ بِهِ عَلَيْهِمْ،كَمَا قَالَ أَعْرَابِيٌّ لِأَهْلِ الْبَصْرَةِ:

“Adapun orang yang merasa tidak butuh terhadap apa yang ada di tangan orang-orang dan menahan diri dari meminta kepada mereka, maka sesungguhnya karena itu mereka akan mencintai dan memuliakannya. Dan karena itu ia bisa mengendalikan mereka. Sebagaimana perkataan seorang Arab Badui kepada penduduk Bashrah:

مَنْ سَيِّدُ أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ؟

“Siapa pemimpin penduduk daerah ini?”

قَالُوا:

Mereka menjawab:

الْحَسَنُ

“Al-Hasan.”

قَالَ:

Arab Badui bertanya lagi:

بِمَا سَادَهُمْ؟

“Dengan apa ia bisa memimpin mereka?”

قَالُوا:

Mereka menjawab:

احْتَاجَ النَّاسُ إِلَى عِلْمِهِ، وَاسْتَغْنَى هُوَ عَنْ دُنْيَاهُمْ

“Orang-orang membutuhkan ilmunya, sedangkan ia tidak membutuhkan dunia mereka!” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam)

Orang rendah yang sesungguhnya adalah orang yang makan dengan agamanya. Bagaimana tidak rendah, ia telah menggunakan kemuliaan untuk mengejar kerendahan!

Abu Hazim berkata:

أدركنا العلماءَ والأمراءُ والسلاطينُ يأتون فيقفون على أبوابهم كالعبيد

“Kami mendapati para ulama dalam keadaan didatangi oleh para penguasa dan sultan yang berdiri di depan pintu mereka seperti budak.

حتى إذا كان اليوم رأينا العلماء والفقهاء والعبّاد هم الذين يأتون للأمراء والأغنياء، فلما رأوا ذلك منهم ازْدَرَوْهُمْ واحتقروهم وقالوا:

Hingga tibalah hari ini, kita melihat para ulama, fukaha, dan ahli ibadah, merekalah yang mendatangi para penguasa dan orang-orang kaya. Maka tatkala penguasa dan orang-orang kaya itu melihat demikian, mereka pun memandang rendah para ulama dan ahli ibadah serta meremehkan mereka dengan berkata:

لوْلا أن الذي بأيدينا خير مما بأيديهم مافعلوا ذلك معنا

“Seandainya apa yang ada di tangan kita tidak lebih baik daripada apa yang ada di tangan mereka, tentu mereka tidak akan mendatangi kita!” (Bayan Al-‘Ilmi Al-Ashiil wa Al-Muzahim Ad-Dakhil)

‘Abdullah bin Muhairiiz adalah seorang ahli Ibadah terkenal dari negeri Syam.

Suatu hari ia masuk ke pasar, lalu membeli sesuatu dari seorang pedagang, sedangkan pedagang itu tidak mengenalinya. Ketika itu, pedagang tersebut meninggikan harga penawaran. Maka orang yang ada di sampingnya memberitahukan kepadanya bahwa orang yang ada di hadapannya adalah ‘Abdullah bin Muhairiz, seorang ahli ibadah yang terkenal di Syam.

Maka ‘Abdullah bin Muhairiz pun langsung meninggalkan pasar dengan berkata:

إِنَّمَا نَشْتَرِي بِأَمْوَالِنَا لَا بِأَدْيَانِنَا

“Sesungguhnya kita membeli dengan harta kita, bukan dengan agama kita!” (Al-Ikhlash wa An-Niyyah)

Agama itu mulia, maka jangan rendahkan itu dengan menggunakannya untuk mencari dunia atau menghinakan diri di hadapan ahli dunia!

 

Siberut, 1 Rajab 1444

Abu Yahya Adiya