“Buanglah berhala ini dari lehermu!”
Itulah yang dikatakan oleh Nabi ﷺ kepada ‘Adi bin Hatim tatkala ia mendatangi beliau ﷺ dengan memakai kalung salib dari emas.
Mendengar sabda Nabi ﷺ, ‘Adi pun membuang kalungnya itu. Kemudian ia mendengar beliau membaca ayat:
اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga Al-Masih putera Maryam. Padahal mereka hanya disuruh untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan yang benar kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)
‘Adi terkejut. Ia merasa tidak melakukan ibadah kepada siapa pun pemuka agama dan ahli ibadah selama menganut agama Nashrani.
Ia pun berkata kepada Nabi ﷺ:
إنَّا لَسْنَا نَعْبُدُهُمْ
“Sesungguhnya kami tidak pernah beribadah kepada mereka!”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونُهُ، ويُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟
“Bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, lalu kalian pun ikut mengharamkannya? Dan mereka juga menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, lalu kalian pun ikut menghalalkannya?”
‘Adi menjawab:
بَلَى
“Tentu.”
Maka Nabi ﷺ pun bersabda:
فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ
“Itulah bentuk peribadatan kepada mereka!” (HR. Tirmidzi dan Ath-Thabrani)
Bani Israel beribadah kepada pemuka agama mereka dengan menuruti mereka dalam mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, dan menghalalkan apa yang telah Allah haramkan.
Mereka menuhankan pemuka agama mereka dengan mematuhi perkataan mereka, padahal itu bertentangan dengan aturan Tuhan mereka.
Ar-Rabi’ berkata kepada Abu Al-‘Aliyah:
كَيْفَ كَانَتْ تِلْكَ الرُّبُوبِيَّةُ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ؟
“Bagaimana bisa penuhanan itu terjadi pada Bani Israel?”
Abu Al-‘Aliyah menjawab:
إِنَّهُمْ رُبَّمَا وَجَدُوا فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا يُخَالِفُ أَقْوَالَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ، فَكَانُوا يَأْخُذُونَ بِأَقْوَالِهِمْ وَمَا كَانُوا يَقْبَلُونَ حُكْمَ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى.
“Sesungguhnya, bisa jadi mereka menemukan dalam kitab Allah apa yang bertentangan dengan perkataan orang-orang alim dan rahib, lalu mereka pun mengambil perkataan orang-orang alim dan rahib itu dan tidak mau menerima hukum dalam kitab Allah.” (At-Tafsir Al-Kabir)
Mereka telah taklid kepada pemuka agama mereka!
Itu penyakit umat terdahulu yang sayangnya telah menular kepada sebagian dari umat ini.
Imam Ar-Razi berkata:
قَالَ شَيْخُنَا وَمَوْلَانَا خَاتِمَةُ الْمُحَقِّقِينَ وَالْمُجْتَهِدِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
“Syekh kami dan maula kami penutup para ahli tahkik dan ijtihad-semoga Allah meridainya-berkata:
قَدْ شَاهَدْتُ جَمَاعَةً مِنْ مُقَلِّدَةِ الْفُقَهَاءِ، قَرَأْتُ عَلَيْهِمْ آيَاتٍ كَثِيرَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فِي بَعْضِ الْمَسَائِلِ، وَكَانَتْ مَذَاهِبُهُمْ بِخِلَافِ تِلْكَ الْآيَاتِ، فَلَمْ يَقْبَلُوا تِلْكَ الْآيَاتِ وَلَمْ يَلْتَفِتُوا إِلَيْهَا وَبَقُوا يَنْظُرُونَ إِلَيَّ كَالْمُتَعَجِّبِ،
“Sungguh, aku menyaksikan sekelompok orang yang taklid kepada fukaha. Kubacakan kepada mereka banyak ayat dari kitab Allah dalam beberapa masalah, sedangkan mazhab mereka bertentangan dengan ayat-ayat itu, maka mereka pun tidak menerima ayat-ayat itu dan tidak mau menengoknya. Mereka terus memandangiku seperti keheranan!
يَعْنِي كَيْفَ يُمْكِنُ الْعَمَلُ بِظَوَاهِرِ هَذِهِ الْآيَاتِ مَعَ أَنَّ الرِّوَايَةَ عَنْ سَلَفِنَا وَرَدَتْ عَلَى خِلَافِهَا،
Maksud mereka yaitu bagaimana mungkin beramal dengan lahiriah ayat-ayat ini padahal riwayat dari pendahulu kami bertentangan dengannya?!
وَلَوْ تَأَمَّلْتَ حَقَّ التَّأَمُّلِ وَجَدْتَ هَذَا الدَّاءَ سَارِيًا فِي عُرُوقِ الْأَكْثَرِينَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا.
Kalau engkau memerhatikan dengan baik, niscaya engkau dapati penyakit ini menjalar kepada banyak ahli dunia.” (At-Tafsir Al-Kabir)
Maka, berusahalah menjauhi taklid semaksimal mungkin, demi menyelamatkan agama dan akal kita, karena….
Imam Ibnul Jauzi
وفي التقليد إبطال منفعة العقل لأنه إنما خلق للتأمل والتدبر وقبيح بمن أعطي شمعة يستضيء بِهَا أن يطفئها ويمشي فِي الظلمة
“Taklid bisa melenyapkan manfaat akal. Sebab, akal diciptakan untuk mengamati dan merenungi. Dan alangkah jeleknya orang yang diberi lilin untuk menerangi lalu ia memadamkannya dan memilih berjalan dalam kegelapan!” (Talbis Iblis)
Siberut, 20 Syawwal 1444
Abu Yahya Adiya






