Buah Taklid

Buah Taklid

“Taklid dapat melenyapkan manfaat akal. Sebab, akal diciptakan untuk mengamati dan merenungi. Dan alangkah jeleknya orang yang diberi lilin untuk menerangi lalu ia memadamkannya dan memilih berjalan dalam kegelapan!” (Talbis Iblis)

Demikianlah Imam Ibnul Jauzi mengkritisi taklid.

Apa itu taklid?

Imam Asy-Syairazi menjelaskan:

التقليد قبول القول من غير دليل

“Taklid adalah menerima suatu pendapat tanpa dalil.” (Al-Luma’ Fii Ushul Al-Fiqh)

Ya, tanpa dalil. Tanpa dasar.

Seorang yang taklid adalah orang yang menelan mentah-mentah suatu pendapat tanpa memikirkan apa dalilnya atau dasarnya.

Tatkala seseorang menelan mentah-mentah suatu pendapat, itu menunjukkan bahwa ia tidak menggunakan akalnya dengan baik.

Kalau seseorang sudah tidak menggunakan akalnya dengan baik, maka akan tumpullah akalnya.

Dan kalau sudah tumpul akalnya, maka kebodohan akan menghinggapinya.

Al-Qadhi Abu ‘Ubaid berkata:

مَا يُقَلِّدُ إِلاَّ عَصَبِيٌّ أَوْغَبِيٌّ

“Tidak ada yang taklid kecuali orang yang fanatik buta atau bodoh.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Kalau fanatik buta atau kebodohan sudah menghinggapi seseorang, maka akan muncul darinya berbagai kerusakan.

Syekh Muqbil Al-Wadi’i berkata:

من أين جاءتنا الصوفية؟ من اتقليد

“Dari mana ajaran Sufi datang kepada kita? Dari taklid.

من أين جاءنا التمسج بأتربة الموتى؟ من اتقليد

Dari mana perbuatan mengusap tanah kubur datang kepada kita? Dari taklid.

من أين جاءنا التبرج والسفور؟ من اتقليد

Dari mana perbuatan wanita menampakkan kecantikan wajahnya datang kepada kita? Dari taklid.

من أين جاءنا أكثر بلاء يصد عن الكتاب والسنة؟ من اتقليد

Dari mana kebanyakan bencana yang menghalangi dari Al-Quran dan As-Sunnah datang kepada kita? Dari taklid.

أكثر البلاء مصدره التقليد.

Kebanyakan bencana sumbernya adalah taklid.” (Ijaabah As-Sail)

 

Siberut, 17 Rabī’ul Awwal 1447
Abu Yahya Adiya