“Padahal, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Ayat ini menunjukkan bahwa hukum asal jual beli adalah halal. Ya, halal dan boleh, selama ada kesepakatan dan keridaan di antara dua pihak yang bertransaksi.
Halal dan boleh, selama transaksi tersebut tidak mengandung unsur yang dilarang dalam Islam.
Karena itu, jika dua orang melakukan transaksi jual beli barang yang dihalalkan dalam Islam, tetapi tak ada keridaan di antara keduanya, maka haramlah transaksi tersebut.
Begitu juga jika dua orang melakukan transaksi jual beli berdasarkan keridaan bersama, tetapi cara atau barang yang diperjualbelikan merupakan sesuatu yang diharamkan dalam Islam, maka haramlah transaksi tersebut.
Lantas, apa saja jual beli yang diharamkan dalam Islam?
1. Jual-beli dengan cara gharar.
Yaitu jual beli yang mengandung unsur ketidakjelasan atau tidak diketahui akibatnya atau spekulatif (untung-untungan)
Abu Hurairah berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
“Rasulullah ﷺ melarang dari jual beli dengan lemparan kerikil dan jual beli dengan cara _gharar_.” (HR. Muslim)
Lantas, apa saja bentuk transaksi yang termasuk kategori gharar?
Contoh jual-beli dengan cara gharar:
(1) Jual beli dengan lemparan kerikil (بَيْع الْحَصَاة).
Apa maksud jual beli dengan cara ini?
Imam an-Nawawi berkata:
أَمَّا بَيْع الْحَصَاة فَفِيهِ ثَلَاث تَأْوِيلَات :
“Adapun jual beli dengan lemparan kerikil, maka ada tiga penafsiran tentangnya:
أَحَدهَا أَنْ يَقُول : بِعْتُك مِنْ هَذِهِ الْأَثْوَاب مَا وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْحَصَاة الَّتِي أَرْمِيهَا . أَوْ بِعْتُك مِنْ هَذِهِ الْأَرْض مِنْ هُنَا إِلَى مَا اِنْتَهَتْ إِلَيْهِ هَذِهِ الْحَصَاة .
Yang pertama yaitu dengan berkata, ‘Di antara beberapa baju ini, kujual untukmu baju yang terkena kerikil yang kulempar ini’, atau berkata, ‘Kujual untukmu lahan ini dari sini hingga sejauh lemparan kerikil ini.’
وَالثَّانِي أَنْ يَقُول : بِعْتُك عَلَى أَنَّك بِالْخِيَارِ إِلَى أَنْ أَرْمِي بِهَذِهِ الْحَصَاة .
Yang kedua yaitu dengan berkata, ‘Aku jual untukmu dengan ketentuan engkau bebas memilih sampai aku melempar kerikil ini.’
وَالثَّالِث أَنْ يَجْعَلَا نَفْس الرَّمْي بِالْحَصَاةِ بَيْعًا ، فَيَقُول : إِذَا رَمَيْت هَذَا الثَّوْب بِالْحَصَاةِ فَهُوَ مَبِيع مِنْك بِكَذَا .
Yang ketiga yaitu dengan menjadikan lemparan kerikil itu dengan sendirinya sebagai jual-beli, yaitu dengan berkata, ‘Jika kulempari baju ini dengan kerikil, maka itu dijual untukmu dengan harga demikian.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
(2) Jual beli dengan cara menyentuh dan melempar (الْمُلَامَسَةِ وَالْمُنَابَذَةِ)
Abu Hurairah berkata:
نُهِيَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ الْمُلَامَسَةِ وَالْمُنَابَذَةِ
“Telah dilarang dua transaksi jual beli yaitu dengan cara menyentuh dan melempar.”
Apa maksud cara menyentuh dan melempar?
Abu Hurairah melanjutkan:
أَمَّا الْمُلَامَسَةُ فَأَنْ يَلْمِسَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثَوْبَ صَاحِبِهِ بِغَيْرِ تَأَمُّلٍ وَالْمُنَابَذَةُ أَنْ يَنْبِذَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ثَوْبَهُ إِلَى الْآخَرِ وَلَمْ يَنْظر وَاحِدٌ مِنْهُمَا إِلَى ثَوْبِ صَاحِبِهِ
“Adapun dengan cara menyentuh yaitu di mana setiap pihak yang bertransaksi menyentuh pakaian yang dijual pihak lain tanpa memeriksanya. Sedangkan jual beli dengan cara melempar yaitu di mana setiap pihak melemparkan pakaiannya kepada pihak lain tanpa melihatnya.” (HR. Muslim)
(3) Jual beli anak dari anak yang berada dalam kandungan unta.
Ibnu ‘Umar berkata:
كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَتَبَايَعُونَ لَحْمَ الْجَزُورِ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ وَحَبَلُ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ ثُمَّ تَحْمِلَ الَّتِي نُتِجَتْ فَنَهَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ ذَلِكَ
“Dulu orang-orang jahiliyah berjual beli daging unta sampai _habalil habalah_. Habalil habalah yaitu seekor unta betina melahirkan anak, lalu anaknya itu bunting dan melahirkan. Rasulullah ﷺ melarang yang demikian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
(4) Jual beli sperma binatang.
Ibnu ‘Umar berkata:
نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنْ عَسْبِ الْفَحْلِ
“Nabi ﷺ melarang jual beli sperma binatang.” (HR. Bukhari)
Maksud jual beli sperma binatang yaitu menyewa binatang jantan untuk mengawini hewan betina.
Mengapa jual beli yang telah disebutkan dikategorikan transaksi dengan cara _gharar_? Sebab, baik penjual dan pembeli berspekulasi dalam bertransaksi. Kedua-duanya tak tahu apa dan berapa yang akan mereka dapatkan dalam transaksi itu.
2. Jual beli sesuatu yang tidak dimiliki.
Hakim bin Hizam berkata:
أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقُلْتُ
“Aku mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata:
يَأْتِينِي الرَّجُلُ يَسْأَلُنِي مِنْ الْبَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدِي أَبْتَاعُ لَهُ مِنْ السُّوقِ ثُمَّ أَبِيعُهُ
“Seseorang mendatangiku memintaku menjual sesuatu yang tidak kumiliki. Apakah boleh aku membeli untuknya di pasar lalu menjualnya?”
قَالَ
Beliau menjawab:
لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
“Jangan engkau menjual apa yang tidak kau miliki!” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Karena itu, jika kita ingin menjual sesuatu kepada orang lain, hendaknya barang yang ingin kita jual sudah ada di sisi kita dan menjadi milik kita.
(bersambung)
Siberut, 5 Dzulhijjah 1444
Abu Yahya Adiya






