Ia sudah bersemangat untuk memulai pembicaraan, tiba-tiba:
كَبِّرْ كَبِّرْ
“Dahulukan yang lebih tua! Dahulukan yang lebih tua!”
Itulah perkataan yang muncul dari Nabi ﷺ ketika ‘Abdurrahman bin Sahl ingin memulai pembicaraan. Dan ‘Abdurrahman bin Sahl adalah orang paling muda yang menghadap Nabi ﷺ ketika itu.
Lantas, apa reaksi ‘Abdurrahman bin Sahl mendengar sabda Nabi ﷺ tadi?
Sahl bin Abi Hatsmah berkata:
فَسَكَتَ فَتَكَلَّمَا
“Ia pun terdiam. Lalu berbicaralah dua orang yang lebih tua darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari hadis ini?
Syekh Faishal Al-Mubarak berkata:
في الحديث: استحباب تقديم أهل الفضل والسنِّ، ولو كان الحق للصغير.
“Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk mendahulukan orang yang memiliki keutamaan dan lebih tua, walaupun yang lebih kecil memiliki hak.” (Tathriiz Riyadhush Shalihin)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فيه دليل أيضاً على اعتبار الكبر، وأنه يقدم الأكبر في إعطاء الشيء
“Dalam hadis ini juga terdapat dalil yang menunjukkan diakuinya usia tua dan bahwasanya orang yang lebih tua didahulukan dalam pemberian sesuatu.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
Ya, didahulukan dalam pemberian sesuatu. Sebagaimana Nabi ﷺ mengabarkan:
أَرَانِي أَتَسَوَّكُ بِسِوَاكٍ، فَجَاءَنِي رَجُلاَنِ، أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنَ الآخَرِ، فَنَاوَلْتُ السِّوَاكَ الأَصْغَرَ مِنْهُمَا، فَقِيلَ لِي:
“Aku melihat diriku dalam mimpi sedang menyikat gigi dengan siwak. Kemudian datanglah dua orang kepadaku. Yang satu lebih tua daripada yang lainnya. Lalu siwak itu hendak kuberikan kepada orang yang lebih muda, tiba-tiba ada yang berkata padaku:
كَبِّرْ
“Berikanlah kepada yang lebih tua!”
فَدَفَعْتُهُ إِلَى الأَكْبَرِ مِنْهُمَا
Aku pun memberikan itu kepada yang lebih tua di antara keduanya.” (HR. Bukhari)
Kenapa yang lebih tua didahulukan? Kenapa orang yang sudah tua tidak bisa disamakan dengan orang yang masih muda?
‘Aisyah berkata:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ نُنَزِّلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
“Rasulullah ﷺ menyuruh kami agar menempatkan orang-orang sesuai dengan kedudukan mereka.” (HR. Muslim dalam mukadimahnya)
Ya, kita diperintahkan menempatkan seseorang berdasarkan kedudukannya. Orang yang sudah tua ditempatkan sesuai dengan kedudukannya. Dan orang yang masih muda ditempatkan sesuai dengan kedudukannya. Tidak bisa disamakan.
Karena itu, kelirulah orang yang berbicara dengan orang yang lebih tua darinya seperti ia berbicara dengan orang yang sepantar dengannya atau lebih muda darinya.
Hormatilah orang yang lebih tua darimu, kalau memang engkau mengaku mengagungkan Tuhanmu.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah yaitu memuliakan muslim yang sudah beruban, orang yang hafal Al-Quran tanpa berlebihan dan meremehkan, dan juga memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud)
Hormatilah orang yang lebih tua darimu, kalau memang engkau mengaku mengikuti nabimu.
Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Tidak termasuk golongan kita orang yang tidak menyayangi orang yang kecil di antara kita dan tidak memuliakan orang yang tua di antara kita.” (HR. Tirmidzi)
Siberut, 6 Muharram 1445
Abu Yahya Adiya






