Khawatir Terjangkit Kemunafikan

Khawatir Terjangkit Kemunafikan

“Tidaklah kupaparkan ucapanku pada perbuatanku kecuali aku khawatir diriku mendustakannya.” (Shahih Bukhari)

Itulah perkataan seorang ulama tabiin, Ibrahim At-Taimi.

Maksud beliau, beliau khawatir perbuatan beliau menyalahi ucapan beliau sehingga beliau dianggap berdusta.

Artinya, beliau khawatir benih kemunafikan ada pada diri beliau.

Bukan cuma beliau, Imam Ibnu Abi Mulaikah berkata:

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ

“Aku mendapati 30 orang sahabat Nabi ﷺ semuanya mengkhawatirkan kemunafikan pada diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka berkata bahwa ia memiliki keimanan seperti keimanan Jibril dan Mikail.” (Shahih Bukhari)

Para sahabat Nabi adalah orang-orang terbaik pada umat ini yang telah Allah puji.

Nah, kalau orang-orang seperti itu saja merasa khawatir terjangkit kemunafikan, maka bagaimana pula dengan diri kita yang sering melalaikan kewajiban dan kerap melakukan kemaksiatan?!

Apakah kita merasa aman dari kemunafikan?

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

مَا خَافَهُ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلاَ أَمِنَهُ إِلَّا مُنَافِقٌ

“Tidak ada yang mengkhawatirkan kemunafikan kecuali mukmin dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali munafik.” (Shahih Bukhari)

 

Siberut, 3 Rabi‘ul Awwal 1445

Abu Yahya Adiya