Dosa yang Pertama Kali Terjadi

Dosa yang Pertama Kali Terjadi

Apa dosa yang pertama kali terjadi?

Imam Malik berkata:

بَلَغَنِي أَنَّ أَوَّلَ مَعْصِيَةٍ كَانَتِ الْحَسَدُ وَالْكِبْرُ

“Telah sampai kepadaku bahwa maksiat yang pertama kali terjadi yaitu iri dan sombong.” (Al-Jami’ Liahkaam Al-Quran)

Makhluk yang pertama kali iri dan menyombongkan diri serta tidak menyadari hakekat diri sendiri adalah Iblis. Makhluk yang terkutuk dan hina.

Allah menceritakan itu dalam kitab-Nya:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Kemudian bila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan roh-Ku kepadanya; maka tunduklah kalian dengan bersujud kepadanya!’

فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

Lalu para malaikat itu bersujud semuanya.

إِلا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

kecuali Iblis; ia menyombongkan diri dan termasuk golongan yang kafir.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

Allah berfirman, ‘Hai iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah engkau menyombongkan diri atau engkau (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata, ‘Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah!’

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

Allah berfirman, ‘Kalau begitu, keluarlah engkau dari surga; sesungguhnya engkau adalah makhluk yang terkutuk!

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (QS. Shaad: 71-78)

Tatkala Adam menerima berbagai nikmat dari Allah, Iblis iri kepadanya. Lalu rasa iri mendorongnya untuk menyombongkan diri. Kemudian, karena kesombongannya, ia enggan sujud kepada Adam, padahal itu adalah perintah dari Tuhannya. Ia pun durhaka kepada Tuhannya. Akibatnya, ia jadi makhluk yang terkutuk dan jauh dari rahmat-Nya.

Karena itu, siapa yang memelihara sifat iri dan menyombongkan diri, maka ketahuilah, ia hendak meniru iblis, makhluk yang terkutuk dan jauh dari rahmat-Nya. Lantas, apakah seorang muslim sudi terkutuk dan jauh dari rahmat-Nya?

 

Siberut, 8 Rabi’ul Tsani 1445

Abu Yahya Adiya