“Setiap kelompok mengenal apa yang mereka sembah, kecuali Jahmiyyah.” (Khalq Af’aal ‘Ibaad)
Itulah perkataan Imam ‘Abdullah bin Al-Mubarak. Kenapa beliau sampai berkata demikian?
Sebab, bagaimana bisa sekte Jahmiyyah mengenal Tuhan mereka, sedangkan mereka sendiri berpendapat bahwa Allah tidak memiliki sifat?
Apa yang menyebabkan mereka demikian menyimpang dan sesat?
Imam Al-Barbahari berkata:
واعلم أنه إنما جاء هلاك الجهمية أنهم [فكروا] في الرب، فأدخلوا لم وكيف، وتركوا الأثر، ووضعوا القياس، وقاسوا الدين على رأيهم
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya datangnya kebinasaan Jahmiyyah hanyalah karena mereka berpikir tentang Allah lalu mereka masukkan pertanyaan ‘Kenapa?’ dan ‘Bagaimana?’. Mereka meninggalkan _atsar_ dan membuat kias serta mengukur agama dengan pemikiran mereka.” (Syarh As-Sunnah)
Imam Al-Barbahari menyebutkan sebab kesesatan Jahmiyyah:
1. Mereka berpikir tentang Allah.
Artinya, mereka berpikir tentang hakekat zat Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dengan akal mereka yang terbatas. Padahal, semua itu merupakan perkara gaib yang tidak sanggup dijangkau oleh manusia.
Yang seharusnya kita lakukan adalah berpikir tentang ciptaan Allah dan nikmat-nikmat-Nya, bukan berpikir tentang hakekat zat-Nya dan hakekat nama dan sifat-Nya!
Nabi ﷺ bersabda:
تَفَكَّرُوا فِي آلَاءِ اللَّهِ وَلَا تَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ
“Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah dan jangan berpikir tentang Allah!” (Al-Jami Ash-Shaghir)
Jahmiyyah melanggar hadis ini. Karena itu, mereka terjatuh ke dalam kesalahan berikutnya:
2. Mereka masukkan pertanyaan ‘Kenapa?’ dan ‘Bagaimana?’.
Setelah mereka berpikir tentang perkara gaib yaitu hakekat zat Allah, dan hakekat nama dan sifat-Nya, muncullah pertanyaan dari mereka: “Kenapa Allah menyebutkan sifat-Nya begini dan begitu? Kenapa Allah tidak menyebutkan sifat-Nya begini dan begitu? Bagaimana hakekat zat-Nya? seperti apa hakekat nama dan sifat-Nya?”
Mereka menjerumuskan diri mereka sendiri dalam kebingungan. Setelah terjatuh pada kesalahan itu, mereka terjatuh ke dalam kesalahan berikutnya:
3. Mereka meninggalkan atsar.
Tatkala mereka kebingungan menjawab pertanyaan “kenapa?” dan “bagaimana?” yang terkait dengan zat, nama, dan sifat-Nya, mereka tidak segera mengobati diri mereka dengan atsar yaitu Al-Quran dan hadis serta keterangan para sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka dengan baik.
Kalau sudah demikan, mereka terjatuh ke dalam kesalahan berikutnya:
4. Membuat kias serta mengukur agama dengan pemikiran mereka.
Tatkala mereka berpikir tentang hakekat zat Allah, nama, dan sifat-Nya, lalu mempertanyakan itu dengan “kenapa?” dan “bagaimana?”, dan tidak merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah, mereka pun mengambil kias yakni analogi untuk menetapkan keyakinan mereka.
Mereka menyamakan sesuatu yang gaib dengan yang tampak. Perkara yang sangat gaib yaitu apa yang terkait dengan zat Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Mereka menyamakan perkara yang gaib dengan yang tampak. Mereka katakan, “Sesuatu tidaklah ada kecuali karena berbentuk. Dan tidaklah sesuatu yang berbentuk kecuali terdiri dari beberapa bagian. Dan tidaklah sesuatu yang terdiri dari beberapa bagian kecuali membutuhkan bagian-bagian itu.”
Setelah itu mereka berkata, “Semua perkara tadi tidak layak bagi Allah.”
Karena itu, mereka pun meniadakan dari Allah nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan!
Maha Suci Allah dari apa yang mereka perbuat!
Siberut, 10 Rabi’ul Tsani 1445
Abu Yahya Adiya






