“Apakah aku harus bersujud kepada makhluk yang Engkau ciptakan dari tanah?” (QS. Al-Isra: 61)
Itulah yang dikatakan oleh Iblis, tatkala Allah menyuruhnya untuk bersujud kepada Adam, sebagai bentuk penghormatan kepadanya.
Ia juga berkata:
“Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku?” (QS. Al-Isra: 62)
“Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah!” (QS. Shaad: 76)
Kalau kita mengamati kalimat-kalimat itu dengan jeli, niscaya tampaklah bagi kita bahwa motif Iblis enggan sujud kepada Adam adalah hasad dan kesombongan.
Hasad artinya:
الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُود
“Benci dan tidak suka karena menyaksikan baiknya keadaan orang yang didengki.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Adapun sombong, artinya:
بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)
Iblis tidak suka menyaksikan Allah telah memuliakan Adam, dan ia merasa dirinya lebih baik daripada Adam. Sebab, ia diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Dan api lebih baik daripada tanah, menurutnya!
Kesalahan Iblis ini tentu saja bukanlah kesalahan yang ringan. Sebab, “hasad bisa memakan kebaikan, sebagaimana api bisa memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)
Adapun kesombongan, bisa menyebabkan seseorang terhalang dari masuk surga. Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat zarah.” (HR. Muslim)
Hasad dan kesombongan mendorong Iblis untuk membangkang terhadap perintah Allah. Seakan-akan ia menganggap perintah Allah untuk sujud kepada Adam adalah kebodohan dan kezaliman.
Menurutnya, dialah yang lebih mulia daripada Adam, karena itu Allah telah salah karena menyuruhnya sujud kepada makhluk yang lebih rendah daripada dirinya.
Akibat perbuatannya itu, ia pun harus merasakan kerendahan dan kehinaan. Allah berfirman:
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
“Keluarlah engkau dari surga! Sesungguhnya engkau adalah makhluk yang terkutuk. Dan sungguh kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (QS. Al-Hijr: 34-35)
Kesalahan Iblis itu sangatlah besar. Namun, kalau ia mau bertobat kepada Allah atas kesalahannya itu, tentu Allah akan mengampuninya. Sebab, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Namun sayangnya, ia berputus asa dari rahmat Allah.
Ia melanjutkan kedurhakaannya. Ia berkata kepada Allah:
فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Berilah penangguhan kepadaku sampai hari mereka dibangkitkan!” (QS. Al-Hijr: 36).
Ia ingin membalas dendam kepada Adam.
Dan ia juga berkata:
بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Karena Engkau telah menyesatkanku, maka sungguh, akan kujadikan kemaksiatan terasa indah bagi mereka di bumi, dan akan kusesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr: 39)
Ia melanjutkan kedurhakaannya dengan menuduh Tuhannya telah menyesatkannya!
Selain itu, sudah salah, ia juga mengajak orang lain agar salah seperti dirinya. Maka, makin bertumpuklah kesalahannya!
Berarti, kesalahan Iblis dimulai ketika ia hasad kepada Adam. Kemudian hasad mendorongnya untuk takabur yakni merasa diri lebih mulia daripada Adam. Lalu sikap takabur mendorongnya untuk enggan memenuhi perintah Allah agar bersujud kepada Adam.
Kemudian setelah Allah melaknat dan mengusirnya dari surga, ia tidak segera bertobat. Ia malah berputus asa dan menaruh dendam kepada Adam. Bahkan, ia menuduh Allah telah berbuat zalim kepadanya dengan menyesatkannya. Selain itu, yang membuat kesalahannya makin parah yaitu ia mengajak selain dirinya agar berbuat salah seperti dirinya.
Siberut, 13 Jumada Al-Ulaa 1445
Abu Yahya Adiya
Sumber:
1. Adhwa Al-Bayaan Fii Iidhaah Al-Quran bi Al-Quran karya Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi.
2. Al-Fawaatih Al-Ilahiyyah wa Al-Mafaatih Al-Ghaibiyyah Al-Muwadhdhihah Li Al-Kalim Al-Quraniyyah wa Al-Hikam Al-Furqaniyyah karya An-Nakhjuwaani.
3. Qishshatu Adam ‘Alaihissalaam Fii Al-Quran Al-Kariim Dirasah Maudhu’iyyah karya Lathifah Taisiir Mahmud Mahaamiid.
4. Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan Fii Tafsiir Kalaam Al-Mannaan karya ‘Abdurrahman As-Sa’di.
5. Tafsiir Al-Maraghi karya Ahmad Al-Maraghi.






