Setelah menunjukkan keunggulan Adam dalam hal pengetahuan dan para malaikat pun mengakuinya. Allah memberikan perintah kepada mereka. Allah berfirman:
- وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam!” maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri, serta ia termasuk golongan yang kafir.
Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadapnya, serta sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan mereka. Lalu mereka mematuhi perintah tersebut. Mereka semua segera bersujud, kecuali iblis.
Ya, kecuali iblis. Ia enggan bersujud. Ia merasa dirinya lebih mulia daripada Adam. Ia menyombongkan diri dan tidak mau tunduk kepada perintah Allah. Karena keengganan dan kesombongannya itulah, ia menjadi durhaka dan kafir kepada-Nya.
Faidah yang dapat kita petik dari ayat ini:
- Keutamaan Adam atas para malaikat.
Hal ini karena Allah memerintahkan mereka untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadapnya.
- Sujud kepada selain Allah apabila diperintahkan oleh Allah merupakan ibadah kepada Allah.
Allah berhak memberikan perintah atau keputusan apa pun kepada hamba-Nya.
Oleh karena itu, perintah untuk bersujud kepada Adam adalah ibadah kepada Allah, bukan ibadah kepada Adam.
Syekh Jamāluddīn Al-Qāsimī berkata:
فسجود الملائكة لآدم عبادة لله وطاعة وقربة يتقربون بها إليه.
“Sujudnya para malaikat kepada Adam adalah ibadah, ketaatan, dan amalan yang dengannya mereka mendekatkan diri kepada Allah.” (Mahāsin At-Ta‘wīl)
Dengan demikian, ketika Iblis tidak mau melaksanakan perintah tersebut, ia menjadi kafir. Sebab, sujud dalam konteks ini adalah ibadah kepada Allah, sedangkan orang yang enggan beribadah kepada-Nya adalah orang yang kafir kepada-Nya.
- Sujud tersebut merupakan kekhususan yang Allah berikan kepada Adam.
Adapun dalam syariat nabi kita, tidak boleh seorang pun bersujud kepada orang lain, baik untuk menghormatinya, apalagi beribadah kepadanya!
Ketika Mu’āż bin Jabal datang dari Syam, ia sujud kepada Nabi ﷺ. Beliau pun terkejut, lalu berkata:
مَا هَذَا يَا مُعَاذُ؟
“Apa-apaan ini wahai Mu’āż?!”
Mu’āż menjawab:
أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ
“Aku pernah mendatangi Syam, lalu kudapati orang-orang bersujud kepada tokoh agama dan para pemimpin mereka. Maka aku ingin melakukan hal itu kepadamu.”
Nabi ﷺ pun bersabda:
فَلَا تَفْعَلُوا، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Jangan lakukan itu! Kalau saja aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya kuperintahkan seorang isteri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Ibnu Mājah)
- Iblis menghimpun seluruh sifat tercela, yaitu:
1) Enggan melaksanakan perintah Allah.
2) Sombong terhadap kebenaran.
3) Sombong terhadap makhluk lain.
4) Kufur.
- Ada bentuk maksiat yang merupakan kekafiran atau dapat mengantarkan pada kekafiran.
Siberut, 6 Sya’bān 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Aisar At-Tafāsīr li Kalām Al-‘Aliyy Al-Kabīr Syekh Abū Bakr Al-Jazāirī
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
- Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān karya Syekh Abdurraḥmān As-Sa’dī.
- Mahāsin At-Ta‘wīl karya Syekh Jamāluddīn Al-Qāsimī.






