Suatu hari Nabi ﷺ sakit sehingga beliau mengimami salat sambil duduk. Kemudian beliau ﷺ menoleh kepada para makmum, ternyata mereka melaksanakan salat dalam keadaan berdiri. Beliau ﷺ pun memberi isyarat kepada mereka agar duduk, maka mereka pun melaksanakan salat dengan duduk.
Setelah menyelesaikan salat, beliau ﷺ bersabda:
إِنْ كِدْتُمْ آنِفًا لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ، يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ. فَلَا تَفْعَلُوا، ائْتَمُّوا بِأَئِمَّتِكُمْ إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا، وَإِنْ صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا
“Kalian hampir saja melakukan perbuatan kaum Persia dan Romawi; mereka berdiri di hadapan raja-raja mereka, sedangkan para raja itu duduk. Maka janganlah kalian melakukan itu! Ikutilah imam kalian. Jika ia melaksanakan salat dengan berdiri, maka laksanakanlah salat dengan berdiri. Jika ia melaksanakan salat dengan duduk, maka laksanakanlah salat dengan duduk.” (HR. Muslim)
Pada kesempatan lain, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ِ
“Siapa yang suka apabila orang lain berdiri untuknya, maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka!” (HR. Abu Dāwūd)
Syekh ’Abdu Al-Laṭīf Ālu Syekh berkata:
فإذا كان قد نهاهم مع قعوده وإن كانوا قاموا في الصلاة حتى لا يتشبهوا بمن يقومون لعظمائهم، وبين أن من سره القيام له كان من أهل النار فكيف بما هو شر من ذلك السجود له؟
“Jika Nabi ﷺ melarang mereka berdiri ketika beliau sedang duduk, meskipun mereka berdiri dalam salat, agar mereka tidak menyerupai orang-orang yang berdiri untuk para pembesar mereka; dan beliau menjelaskan bahwa siapa yang senang jika orang lain berdiri untuknya maka ia termasuk penghuni neraka, maka bagaimana halnya dengan sesuatu yang lebih buruk dari itu, yaitu sujud kepadanya?!” (Minhāj At-Ta‘sīs wa At-Taqdīs fī Kasyfi Syubuhāt Dāwūd bin Jirjīs)
Perbuatan sujud kepada manusia sendiri telah diingkari oleh Nabi ﷺ pada masa hidup beliau.
Ketika Mu’ādz bin Jabal datang dari Syam, ia sujud kepada Nabi ﷺ. Beliau pun terkejut, lalu berkata:
مَا هَذَا يَا مُعَاذُ؟
“Apa-apaan ini wahai Mu’ādz?!”
Mu’ādz menjawab:
أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ
“Aku pernah mendatangi Syam, lalu kudapati mereka sujud kepada tokoh agama dan para pemimpin mereka. Maka aku ingin melakukan hal itu kepadamu.”
Nabi ﷺ pun bersabda:
فَلَا تَفْعَلُوا، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Jangan lakukan itu! Kalau saja aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya kuperintahkan seorang isteri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Ibnu Mājah)
Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahwa sujud kepada manusia adalah perbuatan yang terlarang dan diharamkan.
Syekh ’Abdu Al-Laṭīf Ālu Syekh berkata:
وبالجملة، فالقيام والركوع والسجود حق للواحد المعبود؛ خالق السموات والأرض، وما كان حقًا خالصًا لله لم يكن لغيره فيه نصيب
“Kesimpulannya, berdiri untuk menghormati, rukuk, dan sujud adalah hak Tuhan Yang Esa dan disembah, Pencipta langit dan bumi. Sesuatu yang merupakan hak murni bagi Allah tidak ada bagian bagi selain-Nya di dalamnya.” (Minhāj At-Ta‘sīs wa At-Taqdīs fī Kasyfi Syubuhāt Dāwūd bin Jirjīs)
Jika sujud merupakan hak murni bagi Allah, maka…
Imam An-Nawawī berkata:
وأما ما يفعله عوام الفقراء وشبههم من سجودهم بين يدي المشايخ وربما كانوا محدثين فهو حرام بإجماع المسلمين وسواء في ذلك كان متطهرا أو غيره وسواء استقبل القبلة أم لا وقد يتخيل كثير منهم أن ذلك تواضع وكسر للنفس وهذا خطأ فاحش وغباوة ظاهرة فكيف تكسر النفوس أو تتقرب إلى الله تعالى بما حرمه
“Adapun apa yang dilakukan oleh orang-orang awam dari kalangan Sufi dan semacam mereka berupa sujud di hadapan para syekh, dan mungkin mereka pakar hadis, maka itu haram berdasarkan kesepakatan umat Islam. Hal ini berlaku baik pelakunya dalam keadaan suci maupun tidak, baik menghadap kiblat maupun tidak. Mungkin banyak dari mereka mengira bahwa hal itu adalah bentuk kerendahan hati dan mematahkan ego. Itu adalah kesalahan besar dan kebodohan yang nyata. Bagaimana mungkin seseorang mematahkan ego atau mendekatkan diri kepada Allah dengan apa yang Dia haramkan?”
Beliau juga berkata:
وسئل الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله عن هذا السجود الذي قدمناه فقال هو من عظائم الذنوب ونخشى أن يكون كفرا:
“Syekh Abu ‘Amru bin Aṣ-Ṣalāḥ-semoga Allah merahmatinya-ditanya tentang sujud yang telah kusebutkan, maka beliau berkata bahwa itu termasuk dosa besar dan dikhawatirkan merupakan kekafiran.” (Al-Majmū’ Syarḥ Al-Muhażżab)
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
وأما وضع الرأس عند الكبراء من الشيوخ وغيرهم، أو تقبيل الأرض ونحو ذلك، فإنه مما لا نزاع فيه بين الأئمة في النهي عنه، بل مجرد الانحناء بالظهر لغير الله عز وجل منهي عنه.
“Adapun meletakkan kepala di hadapan para syekh dan para pembesar selain mereka atau mencium tanah dan semacamnya, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang terlarangnya demikian. Bahkan, sekadar membungkukkan punggung kepada selain Allah saja sudah terlarang.” (Ziyārah Al-Qubūr wa Al-Istinjād bi Al-Maqbūr)
Al-Khaṭīb Asy-Syirbīnī berkata:
وَمِمَّا يَحْرُمُ مَا يَفْعَلُهُ كَثِيرٌ مِنْ الْجَهَلَةِ مِنْ السُّجُودِ بَيْنَ يَدَيْ الْمَشَايِخِ وَلَوْ إلَى الْقِبْلَةِ أَوْ قَصَدَهُ لِلَّهِ تَعَالَى. وَفِي بَعْضِ صُوَرِهِ مَا يَقْتَضِي الْكُفْرَ، عَافَانَا اللَّهُ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ.
“Di antara perkara yang haram yaitu apa yang dilakukan oleh banyak orang bodoh berupa sujud di hadapan para syekh, meskipun menghadap kiblat atau diniatkan karena Allah. Pada sebagian bentuknya ada yang mengandung konsekuensi kekafiran. Semoga Allah melindungi kita dari demikian.” (Mugnī Al-Muḥtāj ilā Ma’rifah Ma’ānī Alfāẓ Al-Minhāj)
Walaupun demikian, siapa yang melakukannya karena benar-benar tidak mengetahui hukumnya, maka itu dimaafkan.
Imam Asy-Syaukānī menyebutkan faidah dari hadis tadi:
وفي هذا الحديث دليل على أن من سجد جاهلًا لغير الله لم يكفر.
“Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa siapa yang bersujud kepada selain Allah karena ketidaktahuan, maka ia tidak kafir.” (Nail Al-Auṭār)
Siberut, 12 Jumādā Aṡ-Sāniyah 1447
Abu Yahya Adiya






