Permasalahan Seputar Sumpah

Permasalahan Seputar Sumpah

1. Apakah sumpah disyariatkan?

Imam Ibnu Qudamah berkata:

الْأَصْلُ فِي مَشْرُوعِيَّتِهَا وَثُبُوتِ حُكْمِهَا، الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ

“Dalil tentang disyariatkannya sumpah dan tetapnya hukumnya yakni Al-Quran, As-Sunnah, dan ijmak.” (Al-Mughni)

Adapun dalil dari Al-Quran, di antaranya firman-Nya:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا

“Dan tepatilah janji dengan Allah bila kalian berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedangkan kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian.” (QS. An-Nahl: 91)

Adapun dalil dari As-Sunnah, di antaranya sabda Nabi ﷺ:

إِنِّي وَاللَّهِ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – لاَ أَحْلِفُ عَلَى يَمِينٍ، فَأَرَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَتَيْتُ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَتَحَلَّلْتُهَا

“Sesungguhnya aku, Demi Allah, insya Allah, tidaklah aku bersumpah, kemudian aku melihat yang lainnya lebih baik darinya, melainkan aku akan melakukan yang lebih baik dan kubatalkan sumpahku dengan membayar kafarat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun ijmak, maka Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَأَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الْيَمِينِ، وَثُبُوتِ أَحْكَامِهَا

“Umat telah sepakat akan disyariatkannya sumpah dan ketetapan hukumnya.” (Al-Mughni)

 

2. Siapa yang boleh bersumpah?

Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَتَصِحُّ مِنْ كُلِّ مُكَلَّفٍ مُخْتَارٍ قَاصِدٍ إلَى الْيَمِينِ، وَلَا تَصِحُّ مِنْ غَيْرِ مُكَلَّفٍ، كَالصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ وَالنَّائِمِ؛ لِقَوْلِهِ – عَلَيْهِ السَّلَامُ -:

“Sumpah itu sah dari setiap mukalaf yang memiliki pilihan dan kehendak untuk bersumpah, dan tidak sah dari selain mukalaf seperti anak kecil, orang gila, dan orang yang tidur. Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ

“Hukuman tidak berlaku bagi 3 orang.” (Al-Mughni)

Yakni orang yang tidur hingga ia terbangun, anak kecil hingga ia bermimpi basah, dan orang gila hingga ia waras.

 

3. Apa hukum bersumpah dengan selain nama Allah?

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh, ia telah berbuat syirik.” (HR. Abu Daud)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

يشمل كل محلوف به سوى الله، سواء بالكعبة أو الرسول صلى الله عليه وسلم أو السماء أو غير ذلك

“Itu mencakup semua yang dijadikan sumpah selain Allah, baik itu ka’bah, Rasul ﷺ, langit atau selain itu.

ولا يشمل الحلف بصفات الله; لأن الصفة تابعة للموصوف، وعلى هذا; فيجوز أن تقول:

Dan itu tidak mencakup bersumpah dengan sifat-sifat Allah. Sebab, sifat itu mengikuti yang memiliki sifat. Karenanya, boleh engkau mengatakan:

وعزة الله; لأفعلن كذا.

“Demi kemuliaan Allah, aku benar-benar akan melakukan demikian.”

وقوله: “بغير الله”: ليس المراد بغير هذا الاسم، بل المراد بغير المسمى بهذا الاسم، فإذا حلف بالله أو بالرحمن أو بالسميع; فهو حلف بالله.

Sabda Nabi ﷺ _dengan selain Allah_, bukanlah maksudnya dengan selain nama ini. Bahkan maksudnya dengan selain yang memiliki nama ini. Jika seseorang bersumpah dengan nama Allah, atau Ar-Rahman, atau As-Sami’, maka ia bersumpah dengan Allah.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Ibnu Mas’ud pernah berkata:

لَأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ، وَأَنَا صَادِقٌ

“Sungguh, aku bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah, itu lebih kusukai daripada aku bersumpah jujur tetapi dengan menyebut nama selain-Nya.” (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Syaibah)

Bersumpah dusta dengan menyebut nama Allah adalah dosa besar. Namun, bersumpah jujur dengan menyebut nama selain-Nya, itu lebih besar lagi dosanya. Sebab, itu syirik, dosa paling besar di antara dosa-dosa besar.

 

4. Apa hukum bersumpah dengan Al-Quran?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وأما الحلف بالقرآن الكريم فإنه لا بأس به؛ لأن القرآن الكريم كلام الله سبحانه وتعالى تكلم الله به حقيقة بلفظه مريدًا لمعناه وهو سبحانه وتعالى موصوف بالكلام فعليه يكون الحلف بالقرآن الكريم حلفًا بصفة من صفات الله سبحانه وتعالى وذلك جائز.

“Adapun bersumpah dengan Al-Quran yang mulia, maka itu tak mengapa. Sebab, Al-Quran yang mulia adalah perkataan Allah. Allah mengatakan itu secara nyata dan menginginkan maknanya. Dia memiliki sifat berkata. Karena itu, bersumpah dengan Al-Quran yang mulia adalah sumpah dengan salah satu sifat Allah. Dan itu diperbolehkan.” (Majmu’ Al-Fatawa)

 

5. Apa hukum banyak bersumpah dengan nama Allah?

Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَيُكْرَهُ الْإِفْرَاطُ فِي الْحَلِفِ بِاَللَّهِ تَعَالَى؛ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى:

“Dibenci berlebihan dalam bersumpah dengan nama Allah, berdasarkan firman Allah:

{وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ} [القلم: 10]

“Dan jangan engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina.” (QS. Al-Qalam: 10)

وَهَذَا ذَمٌّ لَهُ يَقْتَضِي كَرَاهَةَ فِعْلِهِ

Ini adalah celaan dari-Nya yang berkonsekuensi perbuatan tersebut dibenci.” (Al-Mughni)

Nabi ﷺ bersabda:

الحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ

”Sumpah itu dapat melariskan barang dagangan, tapi dapat melenyapkan berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi berkata:

وَفِيهِ النَّهْيُ عَنْ كَثْرَةِ الْحَلِفِ فِي الْبَيْع فَإِنَّ الْحَلِفَ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ مَكْرُوهٌ وَيَنْضَمُّ إليه هنا تَرْوِيجُ السِّلْعَةِ وَرُبَّمَا اغتر المشتري باليمين

”Dalam hadis ini terdapat larangan banyak bersumpah dalam jual beli. Karena sesungguhnya sumpah dalam keadaan tidak dibutuhkan adalah dibenci. Ditambah lagi di sini untuk melariskan barang dagangan. Bisa jadi orang yang membeli tertipu dengan sebab sumpahnya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

أن كثرة الحلف بالله يدل على أنه ليس في قلب الحالف من تعظيم الله ما يقتضي هيبة الحلف بالله، وتعظيم الله تعالى من تمام التوحيد.

“Sesungguhnya banyak bersumpah dengan nama Allah menunjukkan bahwa tidak ada di dalam hati orang yang bersumpah itu pengagungan terhadap Allah yang menyebabkan segan bersumpah dengan nama-Nya. Sedangkan mengagungkan Allah dalam hal ini termasuk kesempurnaan tauhid.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Ala Kitab At-Tauhid)

 

6. Apa sikap kita terhadap orang yang bersumpah dengan nama Allah?

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِاللَّهِ فَلْيَصْدُقْ، وَمَنْ حُلِفَ لَهُ بِاللَّهِ فَلْيَرْضَ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ بِاللَّهِ، فَلَيْسَ مِنَ الله

“Siapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia berkata benar. Dan siapa yang diucapkan kepadanya sumpah dengan nama Allah, maka hendaklah ia menerima. Siapa yang tidak menerima, maka lepaslah ia dari Allah.” (HR. Ibnu Majah)

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

ما يستفاد من الحديث: الوعيد الشديد في حق من لم يقنع بالحلف بالله….وجوب تصديق من حلف بالله إذا كان من أهل الإيمان.

“Faidah yang bisa diambil dari hadis ini yaitu ancaman keras bagi orang yang tidak menerima sumpah dengan nama Allah….dan wajibnya membenarkan orang yang bersumpah dengan nama Allah jika ia termasuk orang yang beriman.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

 

Siberut, 11 Rajab 1445
Abu Yahya Adiya