Syafi’i tapi Asy’ari?

Syafi’i tapi Asy’ari?

Imam As-Sam’ani berkata:

فَلَا يَنْبَغِي لأحد أَن ينصر مذْهبه فِي الْفُرُوع ثمَّ يرغب عَن طَرِيقَته فِي الْأُصُول

“Tidak pantas seseorang menolong pendapat Asy-Syafi’i dalam hal fikih, tapi tidak suka metodenya dalam hal akidah.” (Al-Intishar Lii Ashhab Al-Hadits)

Pernahkah kita mendengar orang yang menyatakan, “Mazhab saya dalam fikih adalah mazhab Syafi’i, sedangkan akidah saya adalah akidah Asy’ari”?

Apa maksud penyataan demikian?

Maksudnya yaitu: “Dalam hal fikih saya mengikuti Imam Asy-Syafi’i. Adapun dalam masalah akidah saya mengikuti Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.”

Adakah kejanggalan dalam pernyataan demikian?

Apakah kita menemukan kejanggalan dalam pernyataan demikian?

Kita tanyakan kepada orang-orang yang menyatakan demikian, “Apakah akidah Imam Asy-Syafi’i sama dengan akidah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari atau berbeda?”

Jika mereka menjawab, “Sama. Akidah keduanya sama”, maka kita katakan, “Kalau memang akidah keduanya sama, maka untuk apa membedakan antara keduanya? Kenapa tidak mengatakan saja, ‘Akidah saya adalah akidah Syafi’i dan Asy’ari?!”

Jika mereka menjawab, “Beda. Akidah keduanya berbeda”, maka kita katakan, “Kalau memang akidah keduanya berbeda, maka akidah siapa yang lebih pantas untuk diikuti: akidah Imam Asy-Syafi’i atau akidah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari?!”

Jika mereka menjawab, “Akidah Imam Asy-Syafi’i lebih pantas untuk diikuti”, maka kita katakan, “Kalau begitu untuk apa mengikuti akidah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari?”

Jika mereka menjawab, “Akidah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari lebih pantas untuk diikuti”, maka kita katakan, “Apakah akidah orang yang hidupnya lebih jauh dari masa kenabian dan pernah puluhan tahun bergelimang kesesatan lebih pantas untuk diikuti daripada orang yang hidupnya lebih dekat dengan zaman Nabi, dan terkenal sebagai pembela sunnah Nabi, serta tidak pernah mengikuti sekte sesat yang ada di umat ini?”

Imam Al-Karaji (wafat tahun 532H) berkata:

فَمَنْ قَالَ: أَنَا شَافِعِيُّ الشَّرْعِ أَشْعَرِيُّ الِاعْتِقَادِ قُلْنَا لَهُ: هَذَا مِنْ الْأَضْدَادِ لَا بَلْ مِنْ الِارْتِدَادِ إذْ لَمْ يَكُنْ الشَّافِعِيُّ أَشْعَرِيَّ الِاعْتِقَادِ

“Siapa yang berkata, ‘Aku pengikut Asy-Syafi’i dalam syariat tapi penganut Asy’ariyyah dalam masalah keyakinan’, maka kita katakan kepadanya, ‘Itu termasuk perkara yang saling berlawanan, bahkan kemunduran. Sebab, Asy-Syafi’i itu bukan penganut Asy’ariyyah dalam masalah akidah.” (Al-Fushul fii Al-Ushul ‘An Al-Aimmah Al-Fuhul Ilzaaman lidzawi Al-Bida’ wa Al-Fudhul)

Imam Asy-Syafi’i adalah seorang Ahlussunnah. Akidah beliau adalah akidah Ahlussunnah. Karena itu, tidak pantas beliau dikatakan sebagai penganut akidah Asy’ariyyah.

 

Padang, 6 Syawwal 1442

Abu Yahya Adiya