Ada 3 golongan terkait dengan puasa Ramadhan:
1. Golongan yang wajib berpuasa.
2. Golongan yang haram berpuasa.
3. Golongan yang boleh berpuasa dan boleh tidak berpuasa.
Siapa Golongan yang Wajib Berpuasa?
Syekh Sayyid Sabiq berkata:
أجمع العلماء: على أنه يجب الصيام على المسلم العاقل البالغ، الصحيح المقيم، ويجب أن تكون المرأة طاهرة من الحيض، والنفاس.
“Para ulama sepakat bahwa puasa Ramadan wajib atas muslim yang berakal, balig, sehat, dan mukim, dan wanita harus suci dari haid dan nifas.” (Fiqh As-Sunnah)
Siapa Golongan yang Haram Berpuasa?
Orang-orang yang diharamkan berpuasa, yaitu wanita haid dan nifas.
Nabi ﷺ bersabda:
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ
“Bukankah wanita apabila haid tidak melaksanakan salat dan puasa?” (HR. Bukhari)
Imam An-Nawawi berkata:
فأجمعت الأمة على تحريم الصوم على الحائض والنفساء، وعلى أنه لا يصح صومها
“Umat telah bersepakat akan haramnya berpuasa atas wanita haid dan nifas dan bahwasanya puasa tidak sah bagi wanita seperti itu.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab)
Siapa Golongan yang Boleh Berpuasa dan Boleh pula Tidak?
Adapun orang-orang yang diperbolehkan berpuasa dan diperbolehkan juga tidak, yaitu:
1. Orang yang sakit.
Allah berfirman:
وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ia tinggalkan itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Imam Al-Qurthubi berkata:
وَقَالَ جُمْهُورُ مِنَ الْعُلَمَاءِ: إِذَا كَانَ بِهِ مَرَضٌ يُؤْلِمُهُ وَيُؤْذِيهِ أَوْ يَخَافُ تَمَادِيَهُ أَوْ يَخَافُ تَزَيُّدَهُ صَحَّ لَهُ الْفِطْرُ.
“Mayoritas ulama berkata bahwa jika seseorang mempunyai penyakit yang menyakitkannya dan mengganggunya atau khawatir penyakit itu terus ada atau khawatir penyakit itu bertambah, maka dibenarkan baginya untuk berbuka.” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)
2. Musafir
Orang yang melakukan perjalanan jauh boleh berpuasa dan boleh juga tidak. berdasarkan ayat tadi.
Namun, mana yang lebih utama bagi musafir, apakah tetap berpuasa atau tidak?
Berpuasa bagi musafir ada 3 keadaan:
<1> Jika puasa itu tidak memberatkannya, maka berpuasa lebih baik daripada berbuka.
Abu Ad-Darda’ berkata:
خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، حَتَّى إِنْ كَانَ أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ، إِلَّا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ
“Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan di hari yang sangat panas, sampai-sampai di antara kami ada yang meletakkan tangannya di atas kepala karena saking panasnya matahari. Tidak seorang pun di antara kami berpuasa selain Rasulullah ﷺ dan Abdullah bin Rawahah.” (HR. Muslim)
<2> Jika puasa itu memberatkannya, maka berbuka lebih baik daripada berpuasa.
Dalam suatu perjalanan Nabi ﷺ melihat kerumunan orang, dan di situ ada seseorang yang sedang dinaungi dan terlihat kepayahan. Beliau ﷺ bertanya:
ما هذا؟
“Ada apa ini?”
Mereka menjawab:
صائم.
“Orang ini sedang berpuasa.”
Maka beliau ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَ البِرِّ الصيامُ في السَّفَرِ
“Bukan termasuk kebajikan berpuasa dalam perjalanan jauh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
<3> Jika puasa itu bisa membahayakannya, atau membinasakannya, maka puasa itu haram baginya.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Jangan kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. An-Nisa’: 29)
3. Orang yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup puasa.
Allah berfirman:
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Dan bagi orang yang berat menjalankan puasa, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Ibnu Abbas mengomentari ayat tersebut:
لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
“Ayat itu tidak mansukh (dihapus) hukumnya, ia berlaku untuk lelaki dan perempuan lanjut usia yang tidak mampu berpuasa, maka hendaknya keduanya memberi makan orang miskin setiap harinya.” (HR. Bukhari)
Karena itu, siapa yang sudah lanjut usia dan tidak sanggup berpuasa, maka ia diperbolehkan untuk berbuka dan tidak berpuasa.
4. Wanita hamil dan menyusui.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ، وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menggugurkan setengah salat atas musafir dan menggugurkan kewajiban puasa atas musafir, wanita hamil dan menyusui.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dan lain-lain)
Syekh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid berkata:
إذا خافت الحامل على الجنين, أو خافت المرضع على رضيعها قلة اللبن أو ضيعته ونحو ذلك بالصوم, فلا خلاف في أنه يجوز لهما الفطر.
“Jika karena berpuasa wanita hamil jadi mengkhawatirkan janinnya atau wanita menyusui mengkhawatirkan sedikitnya air susu bagi anaknya atau akan terlantar, dan semacamnya, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa boleh bagi keduanya untuk berbuka.” (Shahih Fiqh As-Sunnah wa Adillatuh wa Taudhihi Madzahib Al-Aimmah)
Siberut, 1 Ramadhan 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
1. Al-Jami’ Liahkam Al-Quran karya Imam Al-Qurthubi.
2. Fiqh As-Sunnah karya Syekh Sayyid Sabiq.
3. Shahih Fiqh As-Sunnah wa Adillatuh wa Taudhihi Madzahib Al-Aimmah karya Syekh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid.






