Tidur di Waktu Dibagikan Rezeki

Tidur di Waktu Dibagikan Rezeki

“Ya Allah, berkahilah umatku dalam waktu pagi mereka.”

Demikianlah doa yang dipanjatkan oleh Nabi ﷺ, sebagaimana dikabarkan oleh Sakhr Al-Ghamidi.

Lalu Sakhr berkata:

وَكَانَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَوْ جَيْشًا بَعَثَهُمْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ

“Bila mengutus pasukan atau tentara, beliau ﷺ mengutus mereka di pagi hari.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Waktu pagi itu waktu yang penuh berkah. Karenanya, tidaklah salah kalau Nabi ﷺ memanfaatkan waktu tersebut dengan baik dan tidak menyia-nyiakannya.

Dan Sakhr Al-Ghamidi, sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis tadi adalah seorang pedagang. Setelah mendengar doa Nabi dan kebiasaan beliau tadi, ia pun mempraktekkannya. Ia suka menjajakan dagangannya pada pagi hari. Lalu apa yang terjadi?

Bertambahlah asetnya dan kekayaannya. Ia menjadi kaya raya!

Memanfaatkan waktu pagi untuk berzikir, itu bagus.

Memanfaatkan waktu pagi untuk belajar, itu bagus.

Memanfaatkan waktu pagi untuk berdagang, itu juga bagus.

Adapun kalau untuk tidur?!

‘Abdullah bin ‘Abbas melihat putranya tidur setelah Subuh. Maka ia pun berkata kepadanya:

قم، أتنام في الساعة التي تقسم فيها الأرزاق؟!

“Bangunlah! Apakah engkau tidur di saat rezeki dibagi-bagikan?!” (Zaad Al-Ma’ad Fii Hadyi Khair Al-‘Ibaad)

Ya, bagaimana mungkin kita tidur ketika dibagi-bagikan rezeki? Namun sayangnya, itulah yang banyak terjadi.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

لكن وللأسف أكثرنا اليوم ينامون في أول النهار ولا يستيقظون إلا في الضحى فيفوت عليهم أول النهار الذي فيه بركة

“Namun disayangkan, kebanyakan kita sekarang tidur di pagi hari dan tidak bangun kecuali di waktu duha sehingga luputlah waktu pagi yang mengandung berkah.” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Maka, jangan sia-siakan waktu pagi dengan tidur! Itu merugikan dan tidak menguntungkan.

Lain halnya kalau seseorang memang benar-benar butuh tidur, karena sakit dan semacamnya, maka tak mengapa ia tidur di pagi hari.

Imam Ibnu Muflih berkata:

وَرُوِيَ أَنَّ الْمَسِيحَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – قَالَ

“Diriwayatkan bahwa Al-Masih-semoga salam tercurah kepadanya-berkata:

خُلُقَانِ أَكْرَهُهُمَا: النَّوْمُ مِنْ غَيْرِ سَهَرٍ، وَالضَّحِكِ مِنْ غَيْرِ عَجَبٍ

“Ada dua perilaku yang kubenci: tidur tanpa begadang dan tertawa tanpa merasa heran.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah wa Al-Minah Al-Mar’iyyah)

 

Siberut, 9 Jumada Al-Ulaa 1446

Abu Yahya Adiya