Ketika SMP dulu, ada seorang guru berkata di kelas, “Kalau kalian mengalami kesulitan, ingatlah Rasulullah. Mintalah tolong kepada beliau, nanti beliau akan menolong kalian!”
Apa betul Rasulullah ﷺ bisa menolong kita sekarang ini?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah engkau berdoa kepada sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi bencana kepadamu selain Allah. Sebab, jika engkau lakukan yang demikian maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yunus: 106)
Allah melarang kita berdoa, meminta perlindungan, dan pertolongan kepada selain-Nya.
Dia menyatakan bahwa selain-Nya, siapa pun ia, dan semulia apa pun ia, tetap saja tidak bisa memberikan manfaat dan tidak pula bisa memberikan bencana.
Para nabi tidak bisa memberi rezeki dan bencana. Para malaikat tidak bisa memberi rezeki dan bencana. Para jin tidak bisa memberi rezeki dan bencana. Orang-orang saleh tidak bisa memberi rezeki dan bencana.
Mereka semua tidak bisa memberi rezeki dan bencana, apalagi kuburan, pepohonan, dan batu-batuan yang dikeramatkan!
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah, tidak mampu memberi rezeki kepada kalian, maka mintalah rezeki dari Allah dan beribadahlah kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 17)
Seandainya Allah memberimu penyakit, kemiskinan, dan kesialan, maka tidak ada yang bisa menghilangkan semua itu kecuali Dia.
Para ulama dan tokoh agama tidak bisa menghilangkan penyakitmu.
Orang-orang saleh tidak bisa menghilangkan kemiskinan yang menimpamu.
Orang-orang ahli ibadah tidak bisa menghilangkan kesialan yang menimpamu.
Mereka semua tidak bisa menghilangkan penyakit, kemiskinan, dan nasib sial, apalagi dukun dan paranormal!
Allah berfirman:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yunus: 107)
Keresahan Abu Bakar
Abu Bakar resah dan marah. Baginya, tindak-tanduk ‘Abdullah bin Ubay, gembong munafikin sudah keterlaluan. Abu Bakar pun berkata:
قُومُوا نَسْتَغِيثُ بِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ هَذَا الْمُنَافِقِ
“Marilah kita istigasah kepada Rasulullah ﷺ dari orang munafik ini!”
Namun apa reaksi Rasulullah ﷺ?
Beliau ﷺ bersabda:
إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي، إِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ – عَزَّ وَجَلَّ
“Sesungguhnya, jangan istigasah kepadaku, istigasah itu hanya kepada Allah!” (HR. Ath-Thabrani)
Istigasah artinya dijelaskan Syekhul Islam:
طَلَبُ الْغَوْثِ وَهُوَ إزَالَةُ الشِّدَّةِ
“Meminta keselamatan yaitu menghilangkan kesulitan.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Marilah kita istigasah kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari orang munafik ini artinya marilah kita minta tolong kepada Rasulullah ﷺ agar menghukum ‘Abdullah bin Ubay dan memberinya ‘pelajaran’ supaya kita selamat dari gangguannya.
Kenapa Rasulullah ﷺ menyatakan jangan istigasah kepadaku, istigasah itu hanya kepada Allah? Apakah Rasulullah ﷺ tidak mampu memenuhi permintaan sahabatnya?
Rasulullah ﷺ sebenarnya mampu untuk memenuhi permintaannya. Dan istigasah Abu Bakar kepada Rasulullah ﷺ dalam hal itu pun sebenarnya diperbolehkan, karena itu masih disanggupi Rasulullah ﷺ. Namun….
Tatkala kalimat yang ia ucapkan mengandung makna yang kurang beradab kepada Allah, yaitu seakan-akan menyatakan bahwa keselamatan ada di tangan selain-Nya, maka Rasulullah ﷺ pun mengingingkarinya. Demi menjaga kemurnian tauhid dan menutup sarana yang akan mengantarkan pada syirik.
Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan berkata:
فإذا كان فيما يقدر عليه ﷺ في حياته، فكيف يجوز أن يستغاث به بعد وفاته ويطلب منه أمور لا يقدر عليها إلا الله عز وجل؟
“Jika dalam perkara yang masih beliau sanggupi di masa hidupnya saja, beliau ﷺ tidak membolehkan, maka bagaimana bisa istigasah kepada beliau ﷺ setelah wafatnya dan meminta kepada beliau perkara yang hanya disanggupi oleh Allah?!” (Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid)
Nah, kalau istigasah kepada Rasulullah ﷺ dalam perkara yang beliau sanggupi saja beliau ingkari, apalagi istigasah kepada beliau ﷺ dalam perkara yang tidak beliau sanggupi dan hanya disanggupi oleh Allah!
Dan kalau istigasah kepada Rasulullah ﷺ di masa hidup beliau saja beliau ingkari, apalagi istigasah kepada beliau ﷺ setelah wafat beliau!
Dan kalau istigasah kepada Rasulullah ﷺ setelah beliau wafat saja tidak diperbolehkan, apalagi kalau istigasah kepada orang yang bukan nabi dan sudah mati!
Maka, beristigasahlah hanya kepada Yang Maha Perkasa. Memintalah hanya kepada Yang Maha Kuasa. Mohonlah pertolongan hanya kepada Yang Maha Esa.
Allah berfirman:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
“Ingatlah, ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu Dia perkenankan bagi kalian.” (QS. Al-Anfaal: 9)
Siberut, 4 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






