Apa Makna Islam?

Apa Makna Islam?

Islam. Apa itu Islam?

Secara bahasa, Islam artinya berserah diri. Sedangkan secara istilah, Islam artinya:

الاسْتِسْلامُ للهِ بِالتَّوْحِيدِ، وَالانْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ، وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ

“Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya serta menyelamatkan diri dari syirik dan juga pelakunya.” (Tsalatsah Al-Ushul)

Dengan 3 perkara inilah, keislaman seorang dianggap benar.

 

  1. Berserah diri kepada Allah dengan mengesakan-Nya

Seorang muslim adalah orang yang beribadah hanya kepada Allah semata.

Sebab, ia sadar bahwa Allah menciptakannya hanya untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Karena itu, orang yang menyekutukan Allah adalah orang yang sangat tidak tahu diri. Ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, tapi ia malah beribadah kepada selain Allah.

Ia diperintahkan untuk menggantungkan harapannya hanya kepada Tuhannya, tapi ia malah menggantungkan harapannya kepada makhluk-Nya.

Ia menggantungkan harapan dan keselamatannya kepada jin, dukun, harta, jabatan. Bahkan, pada batu tertentu, atau pohon tertentu!

Allah menyebutkan ucapan hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِين

“Bertawakkallah kalian hanya kepada Allah, kalau kalian benar-benar beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

 

  1. Tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya

Seorang muslim adalah orang yang tunduk kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta menerima keputusan-Nya terhadap dirinya, baik manis maupun pahit.

Allah berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman ketika diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar diputuskan perkara di antara mereka, mereka berkata, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

Itulah sikap seorang muslim yang sesungguhnya.

Ketika mendengar bahwa Allah memerintahkan sesuatu, ia berkata, “Aku dengar dan aku taat.”

Ia berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakannya.

Dan ketika mendengar bahwa Allah melarang dari sesuatu, ia berkata, “Aku dengar dan aku taat.”

Ia langsung meninggalkannya, dan tidak menunda-nundanya.

Dan begitu juga tatkala Allah memutuskan perkara yang pahit untuknya, ia berkata, “Aku terima dan aku rida.”

Ia menerima, rida, dan bersabar terhadap takdir-Nya serta tidak berprasangka buruk kepada-Nya.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya ganjaran tergantung besarnya cobaan. Dan sungguh, Allah jika mencintai suatu kaum, maka Allah memberikan kepada mereka ujian. Siapa yang rida terhadap ujian tersebut, baginya keridaan Allah. Sebaliknya, siapa yang murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada kita merupakan tanda cinta-Nya kepada kita. Lantas, apakah kita mau menolak tanda cinta-Nya?

Itulah unsur kedua yang menjadikan keislaman seseorang benar yaitu tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya.

Makanya, siapa yang tidak mau tunduk kepada-Nya, ia berpaling bahkan menentang aturan-Nya, maka ia bukan hamba-Nya yang tunduk kepada-Nya.

Ia bukan seorang muslim, walaupun ia bernama dengan nama muslim, dan agama yang tertera di KTPnya adalah agama Islam!

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir, maka celakalah mereka, dan Allah menghapus segala amal mereka. Yang demikian itu karena mereka membenci apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan segala amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9)

 

  1. Menyelamatkan diri dari syirik dan juga pelakunya

Seorang muslim adalah orang yang menjauhi syirik dan juga pelakunya. Ia membenci syirik dan juga pelakunya. Ia juga mengingkari syirik dan juga pelakunya.

Seseorang tidak akan menjadi muslim dengan semata-mata mengucapkan لا إله إلا الله sampai ia menjauhi, membenci, mengingkari segala penyekutuan terhadap Allah. Dalam segala bentuknya. Baik itu peribadatan kepada berhala, malaikat, rasul, kuburan atau perdukunan.

Allah berfirman:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

“Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, ia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat dan tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Lihatlah, orang yang berpegang teguh pada agama Allah, bukan cuma beriman kepada Allah, tapi juga ingkar kepada segala yang disembah selain Allah!

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مَنْ دُونِ اللهِ، حَرُمَ مَالُهُ، وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ

“Siapa yang mengucapkan لا إله إلا الله, dan mengingkari segala yang disembah selain Allah, maka terjagalah harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya kembali kepada Allah.” (HR. Muslim)

Lihatlah, muslim sesungguhnya, bukan cuma mengucapkan kalimat tauhid, tapi juga ingkar kepada segala macam syirik!

Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Lihatlah, mereka teladan baik karena berlepas diri dari syirik dan juga pelakunya!

 

Siberut, 5 Dzulqa’dah 1441

Abu Yahya Adiya