Kepala Agama, Tiangnya, dan Puncaknya

Kepala Agama, Tiangnya, dan Puncaknya

Kalau kepala seseorang sudah terpisah dengan badannya, masihkah ada peluang hidup baginya? Bisakah ia mempertahankan nyawanya?

Suatu hari Nabi ﷺ bertanya kepada Mu’adz bin Jabal:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ؟

“Maukah engkau kuberitahukan tentang kepala agama, tiangnya dan puncaknya?”

Mu’adz menjawab:

بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ

“Tentu wahai Rasulullah.”

Beliau ﷺ menjawab:

” رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Kepala agama ini adalah Islam, tiangnya adalah salat dan puncaknya adalah jihad.” (HR. Ahmad, Sunan Tirmidzi dan Ibnu Majah)

 

Kepala Agama

Kepala agama ini adalah Islam. Apa yang dimaksud dengan Islam di sini?

Nabi ﷺ menjelaskan maksudnya:

رَأْسُ هَذَا الْأَمْرِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Kepala agama ini adalah kesaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

Artinya Islam itu adalah tauhid. Dan tauhid itu adalah Islam.

Berarti, kepala agama yang dibawa Nabi ﷺ adalah Islam yakni tauhid.

Sebagaimana seseorang tidak bisa hidup tanpa kepala, maka begitu pula agama seseorang. Tidak akan hidup tanpa adanya tauhid.

Karena itu tidak gunanya seseorang banyak beramal kalau tanpa adanya tauhid.

Tidak ada manfaatnya seseorang rajin beramal kalau masih menyekutukan Allah.

Tidak ada gunanya dan tidak ada manfaatnya seseorang banyak berbuat baik kalau masih melakukan syirik!

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu. “Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Ayat ini ditujukan kepada Nabi ﷺ. Nah, kalau para nabi melakukan syirik saja, akan lenyap seluruh amalan mereka, apalagi kita yang penuh dengan dosa!

 

Tiang Agama

Sebagaimana rumah atau kemah tidak bisa tegak tanpa tiang atau tonggak, maka begitu pula keislaman pada diri seseorang. Tidak akan tegak tanpa ada tiangnya atau tonggaknya yaitu salat.

Nabi ﷺ bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

“Pembatas antara seseorang dengan kekafiran dan kemusyrikan adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim)

Artinya, meninggalkan salat akan mengantarkan pada kekafiran dan kemusyrikan.

Nabi ﷺ bersabda:

العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kita dan mereka adalah salat. Siapa yang meninggalkannya, maka sungguh, ia telah kafir.” (HR. Ahmad)

Kalau seseorang sudah dikatakan kafir, maka pada hakikatnya ia sudah tidak lagi berada dalam Islam.

Umar bin Al-Khaththab berkata:

وَلَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِامْرِئٍ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan salat.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

 

Puncak Agama

Amalan yang paling tinggi dan paling mulia adalah jihad. Sebab, dengan jihadlah Islam tetap terjaga. Dan dengan jihadlah kaum muslimin jadi mulia.

Dan jihad-kata para ulama-ada kalanya dengan senjata. Dan ada kalanya dengan ilmu agama.

Seseorang yang mempelajari agama lalu mengajarkannya kepada yang lain adalah orang yang berjihad di jalan Allah. Sebab, dengan itulah agama tetap terjaga.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Siapa yang keluar dalam rangka mencari ilmu, maka ia di jalan Allah sampai kembali.” (HR. Tirmidzi)

Ini menunjukkan keutamaan ilmu agama dan belajar agama. Sebab…

Dengan belajar agama, seseorang jadi tahu bagaimana cara beramal dan beribadah.

Dengan belajar agama, seseorang jadi tahu apakah amalannya benar atau salah.

Dengan belajar agama, seseorang juga tahu manakah jihad yang benar dan jihad yang salah.

Dan dengan belajar agama, seseorang jadi tahu bahwa menzalimi orang kafir yang tidak bersalah adalah perbuatan yang salah.

Nabi ﷺ bersabda:

ألا من ظلم معاهداً أو انتقضه أو كلفه فوق طاقته أو أخذ منه شيئاً بغير طيب نفس فأنا حجيجه يوم القيامة.

“Ketahuilah, siapa yang menzalimi muahad (orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin) atau mengurangi haknya, atau memberinya beban di luar kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridaan darinya, maka aku akan menjadi musuhnya di hari kiamat nanti.” (HR.  Abu Daud)

Dengan belajar agama pula, seseorang jadi tahu bahwa membunuh orang kafir yang tidak bersalah adalah perbuatan yang benar-benar salah.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Siapa yang membunuh mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin), maka ia tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu dapat dirasakan dari jarak sejauh empat puluh tahun perjalanan.” (HR. Bukhari)

Berarti, dengan belajar agama, seseorang jadi tahu bahwa aksi teror yang kita saksikan pada beberapa dekade belakangan ini adalah salah.

Aksi bom bunuh diri yang menyebabkan korban yang tidak bersalah adalah perbuatan yang salah.

Jihad yang dilakukan tanpa mengikuti aturan Al-Quran dan As-Sunnah adalah jihad yang salah.

Amalan apa pun yang tidak mengikuti aturan Al-Quran dan As-Sunnah adalah amalan yang tidak berkah dan salah!

Agama ini hanya bisa tegak dengan melaksanakan tauhid yang benar, salat yang benar dan jihad yang benar.

 

Siberut, 15 Dzulqa’dah 1441

Abu Yahya Adiya