Kenapa kita kerap mengeluhkan masalah kita, padahal ada yang bermimpi bisa hidup seperti kita?
Kenapa kita sering menatap ke atas kita, padahal masih banyak orang yang berada di bawah kita?
Nabi ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian jangan melihat orang yang ada di atas kalian. Karena sesungguhnya itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian.” (HR. Bukhārī dan Muslim)
Ya, lihatlah orang yang lebih miskin darimu, lebih sering mengalami penyakit daripada dirimu, dan lebih banyak terkena musibah daripada dirimu, niscaya bertambahlah syukurmu kepada Tuhanmu. Selain itu, engkau tidak akan meremehkan nikmat-Nya yang ada pada dirimu.
Aṭ-Ṭībī berkata:
هذا حديث جامع لأنواع الخير؛ لأن الإنسان إذا رأي من فضل عليه في الدنيا طلبت نفسه مثل ذلك، واستصغر ما عنده من نعمة الله تعالى، وحرص على الازدياء؛ ليلحق بذلك أو يقاربه، هذا هو الموجود في غالب الناس
“Ini adalah hadis yang mengumpulkan semua macam kebaikan. Sebab, jika seseorang melihat orang yang mengunggulinya dalam hal dunia, maka hatinya akan mencari yang semacamnya dan menganggap kecil nikmat Allah yang ada padanya, serta berambisi untuk menambahnya agar dapat menyamainya atau mendekatinya. Inilah yang ada pada keumuman orang.” (Al-Kāsyif ‘an Ḥaqāiq As-Sunan)
Itulah yang terjadi kalau sering melihat orang yang ada di atas kita. Adapun kalau sering melihat orang yang berada di bawah kita…
Aṭ-Ṭībī berkata:
فأما إذا نظر في أمور الدنيا إلى من هو دونه فيها، ظهرت له نعمة الله تعالى، وشكرها وتواضع وفعل بها الخير.
“Adapun jika dalam perkara dunia ia melihat orang yang berada di bawahnya, maka tampaklah nikmat Allah padanya dan ia akan mensyukurinya, rendah hati, dan melakukan kebaikan dengannya.” (Al-Kāsyif ‘an Ḥaqāiq As-Sunan)
Sering mengeluhkan keadaan diri sendiri merupakan penyakit. Sering iri kepada orang lain merupakan penyakit. Siapa yang mengalami demikian, maka obatnya adalah dengan sering melihat orang yang berada di bawahnya.
Syekh ’Abdurrahmān As-Sa’dī berkata:
وقد أرشد ﷺ إلى هذا الدواء العجيب، والسبب القوي لشكر نعم الله. وهو أن يلحظ العبد في كل وقت من هو دونه في العقل والنسب والمال وأصناف النعم. فمتى استدام هذا النظر اضطره إلى كثرة شكر ربه والثناء عليه
“Sungguh, beliau ﷺ telah menunjukkan obat yang mengagumkan dan sebab yang kuat untuk mensyukuri nikmat Allah ini, yaitu di setiap waktu, seorang hamba hendaknya memerhatikan orang yang berada di bawahnya dalam hal akal, nasab, harta, dan berbagai macam nikmat. Tatkala ia terus memandang demikian, itu akan mendesaknya untuk banyak bersyukur kepada Tuhannya dan memuji-Nya.” (Bahjah Qulūb Al-Abrār wa Qurratu ‘Uyūn Al-Akhyār fī Syarh Jawāmi‘ Al-Akhbār)
Maka, perbanyaklah melihat orang yang berada di bawahmu dan jangan sering melihat orang yang berada di atasmu; niscaya kebahagiaan akan meliputi dirimu.
Siberut, 29 Rabī’ul Awwal 1447
Abu Yahya Adiya






