Hikmah di Balik Piring yang Pecah

Hikmah di Balik Piring yang Pecah

“Ibu kalian sedang cemburu.”

Itulah perkataan Nabi ﷺ kepada para sahabatnya tatkala mengetahui istrinya memecahkan suatu piring.

Anas bin Mālik mengabarkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ، فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ بِصَحْفَةٍ فِيهَا طَعَامٌ، فَضَرَبَتِ الَّتِي النَّبِيُّ ﷺ فِي بَيْتِهَا يَدَ الْخَادِمِ، فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ، فَجَمَعَ النَّبِيُّ ﷺ فِلَقَ الصَّحْفَةِ ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحْفَةِ، وَيَقُولُ:

“Suatu ketika Nabi ﷺ berada di rumah salah satu isteri beliau. Lalu salah seorang ummulmukminin mengirimkan piring berisi makanan. Maka isteri Nabi ﷺ yang ketika itu beliau menginap di rumahnya memukul tangan pembantu yang mengantarkan itu, sehingga piring tersebut jatuh dan pecah. Maka Nabi ﷺ pun segera mengambil bagian-bagian piring yang pecah, lalu beliau mengumpulkan kembali makanan di dalam piring itu sambil berkata:

‌غَارَتْ ‌أُمُّكُمْ

“Ibu kalian sedang cemburu.”

ثُمَّ حَبَسَ الْخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا، فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا، وَأَمْسَكَ الْمَكْسُورَةَ فِي بَيْتِ الَّتِي كَسَرَتْ.

Kemudian beliau menahan pembantu tersebut hingga dibawakan sebuah piring dari rumah isteri yang ketika itu beliau menginap di rumahnya. Lalu beliau memberikan piring yang utuh kepada isteri yang piringnya pecah, dan menyimpan piring yang pecah di rumah isteri yang telah memecahkannya.” (HR. Bukhari)

 

Siapa istri Nabi yang memecahkan piring tadi?

Aṭ-Ṭībī berkata:

إنما أبهم في قوله: ((عند بعض نسائه)) وأراد بها عائشة رضي الله عنها تفخيماً لشأنها، وأنه مما لا يخفي ولا يلتبس أنها هي؛ لأن الهدايا إنما تهدى إلي رسول الله ﷺ إذا كان في بيت عائشة.

“Sesungguhnya disamarkan nama orang dalam perkataannya: ‘berada di rumah salah satu isteri beliau’ padahal maksudnya adalah ’Āisyah, sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukannya. Dan hal itu termasuk perkara yang tidak samar dan tidak membingungkan bahwa bahwa maksudnya adalah dia. Sebab, hadiah-hadiah memang hanya diberikan kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau berada di rumah ’Āisyah.” (Al-Kāsyif ‘an Ḥaqāiq As-Sunan)

 

Siapa istri Nabi yang mengirimkan piring berisi makanan tadi?

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar menjelaskan:

وأما المرسلة فهي زينب بنت جحش؛ ذكره ابن حزم في المحلى من طريق الليث بن سعد، عن جرير بن حازم، عن حميد

“Adapun wanita yang mengirimkan makanan tersebut, maka itu adalah Zainab binti Jaḥsy. Itu disebutkan oleh Ibnu Ḥazm dalam Al-Muḥallā dari jalan Al-Laiṡ bin Sa’d dari Jarīr bin Ḥāzim dari Ḥumaid, ia berkata:

سمعت أنس بن مالك أن زينب بنت جحش أهدت إلى النبي ﷺ وهو في بيت عائشة ويومها جفنة من حيس

“Aku mendengar Anas bin Mālik menyampaikan bahwa Zainab binti Jaḥsy memberikan wadah berisi hais kepada Nabi ﷺ ketika beliau di rumah ’Āisyah dan giliran beliau menginap di rumahnya.” (Fatḥu Al-Bārī Syarḥ Saḥīḥ Al-Bukhārī)

 

Faidah yang dapat kita petik dari hadis ini:

 

  1. Kemuliaan ’Āisyah. Sebab, Anas bin Malik tidak menyebutkan nama istri Nabi yang memecahkan piring-padahal itu adalah ’Āisyah-sebagai bentuk pengagungan terhadapnya, sebagaimana dinyatakan oleh Aṭ-Ṭībī.

 

  1. Para istri Nabi merupakan wanita-wanita yang memiliki kedudukan mulia. Sebab, mereka ummulmukminin (Ibu kaum mukminin).

 

  1. Kecemburuan merupakan sifat yang dominan pada wanita.

Syekh ’Abdullāh bin Ṣāliḥ Al-Fauzān berkata:

الحديث دليل على وجود الغيرة الشديدة بين النساء حتى ذوات العلم والفضل والشرف الكبير، زوجات النبي ﷺ، فيحصل بينهن من الغيرة ما يستغرب ويستنكر، وهذا شيء جعله الله تعالى في جبلَّتهن، بحيث إن المرأة لا تملك نفسها عند حدوثه مهما كان علمها وفضلها، فكيف بمن دون ذلك؟!

“Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan adanya kecemburuan yang sangat kuat antara kaum wanita, bahkan pada wanita-wanita yang memiliki ilmu, keutamaan, dan kemuliaan yang tinggi, yaitu istri-istri Nabi ﷺ. Maka muncul di antara mereka kecemburuan yang mengherankan dan dianggap tidak wajar. Namun, hal ini adalah sesuatu yang Allah tetapkan dalam tabiat mereka, di mana wanita tidak dapat mengendalikan dirinya ketika kecemburuan itu muncul, bagaimana pun keilmuan dan keutamaannya. Maka bagaimana dengan wanita yang tingkatannya bawah mereka?!” (Minḥah Al-’Allām fī Syarḥ Bulūg Al-Marām)

 

  1. Tidak boleh mencela seseorang karena kecemburuan yang ada padanya selama kecemburuan tersebut tidak melampaui batas.

Al-Muẓhirī menjelaskan:

وفي هذا الحديث: بيانُ لزومِ الغيرة في نفس الإنسان، فإن أمهات المؤمنين رضي الله عنهن مع صحبتهن رسول الله ﷺ لم يَخْلون عن الغيرة، فلا يليق لأحد أن يعاتب أحدًا على الغيرة، فإنها مركَّبةٌ في نفس البشر بحيث لا يقدر الرجل أن يدفعها عن نفسه، كالغضب وغيره من صفات النفس.

“Dalam hadis ini terdapat penjelasan tentang kemestian adanya rasa cemburu dalam diri manusia. Karena sesungguhnya para ummulmukminin, meskipun mereka selalu bersama Rasulullah ﷺ, tidak terbebas dari rasa cemburu. Maka tidak pantas bagi seseorang mencela orang lain karena kecemburuan, karena sesungguhnya kecemburuan itu telah melekat dalam diri manusia. Seseorang tidak sanggup menolaknya dari dirinya, sebagaimana marah dan sifat-sifat jiwa lainnya.” (Al-Mafātīḥ fī Syarḥ Al-Maṣābīḥ)

Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar menjelaskan:

وقالوا: فيه إشارة إلى عدم مؤاخذة الغيراء بما يصدر منها لأنها في تلك الحالة يكون عقلها محجوبا بشدة الغضب الذي أثارته الغيرة

“Para ulama menjelaskan bahwa dalam hadis ini terdapat isyarat bahwa orang yang cemburu tidak mendapatkan hukuman karena kecemburuan yang muncul darinya. Sebab, dalam keadaan tersebut, akalnya tertutup oleh besarnya kemarahan yang dibangkitkan oleh kecemburuan.” (Fatḥu Al-Bārī Syarḥ Saḥīḥ Al-Bukhārī)

 

  1. Seorang suami dianjurkan untuk meluruskan kesalahpahaman yang mungkin timbul dari pihak lain terhadap istrinya akibat sikap dan perilakunya, sebagai bentuk penjagaan atas kehormatan dan kemuliaannya.

Aṭ-Ṭībī berkata:

والخطاب بقوله: ((غارت أمكم)) عام لكل من سمع بهذه   القضية من المؤمنين؛ اعتذاراً منه ﷺ لئلا يحملوا صنيعها علي ما يذم بل يجري علي عادة الضرائر من الغيرة

“Sapaan beliau dengan perkataan beliau: ‘Ibu kalian sedang cemburu’ ditujukan secara umum bagi siapa pun mukmin yang mendengar kasus tersebut, sebagai bentuk permintaan uzur dari beliau, agar mereka tidak memandang perbuatan isteri beliau tersebut sebagai sesuatu yang tercela, melainkan memahaminya sebagai hal yang biasa terjadi di antara para isteri karena rasa cemburu.” (Al-Kāsyif ‘an Ḥaqāiq As-Sunan)

 

  1. Baik dan lembutnya akhlak Nabi ﷺ kepada istri-istri beliau.

Ibnu Baṭṭāl berkata:

وفى حديث القصعة الصبر للنساء على أخلاقهن وعوجهن؛ لأنه عليه السلام، لم يوبخها على ذلك ولا لامها، ولا زاد على قوله:

“Dalam hadis tentang piring pecah terdapat pelajaran agar bersabar terhadap perilaku dan ‘kemiringan’ kaum wanita. Sebab, Nabi tidak mencela dan mencerca istrinya karena perilakunya serta tidak mengucapkan perkataan melebihi perkataan beliau:

غارت أمكم

“Ibu kalian sedang cemburu.” (Syarḥ Saḥīḥ Al-Bukhārī)

Syekh ’Abdullāh bin Ṣāliḥ Al-Fauzān berkata:

الحديث دليل على أنه ينبغي للزوج التلطف في معاملة النساء، ومعالجة ما قد يحدث من إحدى زوجاته على الأخرى بما يطيب خاطرها ويزيل ما قد يسيء إلى العشرة

“Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa seorang suami seharusnya bersikap lembut dalam berinteraksi dengan para isteri dan mengobati apa saja yang mungkin terjadi dari salah satu isterinya terhadap yang lain dengan cara yang menenangkan hatinya dan menghilangkan hal-hal yang mungkin saja merusak hubungan mereka.” (Minḥah Al-’Allām fī Syarḥ Bulūg Al-Marām)

 

  1. Siapa yang merusak barang orang lain, maka hendaknya ia bertanggung jawab dengan menggantinya.

Al-Muẓhirī menjelaskan:

وهذا بيانُ لزومِ الضمان على مَن أتلف مالَ أحد.

“Ini merupakan penjelasan tentang kewajiban mengganti rugi bagi siapa saja yang merusak harta milik orang lain.” (Al-Mafātīḥ fī Syarḥ Al-Maṣābīḥ)

Syekh ’Abdullāh bin Ṣāliḥ Al-Fauzān berkata:

الحديث دليل على أن من أتلف لغيره شيئًا أنه يضمنه، فإن كان مثليًّا ضمنه بمثله، وإن لم يكن مثليًّا ضمنه بقيمته، ولا يعدل إلى القيمة إلا إذا أعوز المثل أو تعذر

“Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa siapa yang merusak barang milik orang lain, maka ia harus menggantinya. Jika barang tersebut termasuk barang miṡlī (ada padanannya), maka ia harus menggantinya dengan yang semisal. Namun, jika bukan barang miṡlī, maka ia harus menggantinya dengan nilai harganya. Dan tidak boleh ia beralih kepada penggantian dengan nilai kecuali apabila barang yang semisal sulit diperoleh atau tidak dapat diperoleh.” (Minḥah Al-’Allām fī Syarḥ Bulūg Al-Marām)

 

Siberut, 12 Rajab 1447

Abu Yahya Adiya