Apa yang Salah dengan Bidah?

Apa yang Salah dengan Bidah?

Apakah agama kita telah sempurna?

Apabila kita membaca kitab Tuhan kita, jelaslah bahwa agama ini telah sempurna.

Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu, telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Māidah: 3)

Agama Islam telah sempurna, dan yang menyatakan kesempurnaan tersebut adalah Allah sendiri. Oleh karena itu, pantaskah kita menambah-nambah dan mengurangi agama-Nya?

Tentu saja tidak. Makanya…

 

  1. Pelaku bidah seakan-akan menentang Allah.

Allah telah menyempurnakan agama-Nya. Namun, pelaku bidah justru merusak kesempurnaan tersebut dengan menambah-nambah agama-Nya. Dengan perbuatan tersebut seolah-olah ia menentang Tuhannya.

 

  1. Pelaku bidah seakan-akan lebih mengetahui kemaslahatan hamba daripada Allah dan Rasul-Nya.

Allah telah menyempurnakan agama-Nya. Semua amalan yang dapat mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka telah Dia jelaskan, baik secara langsung di dalam Al-Quran, maupun melalui lisan rasul-Nya. Namun, anehnya…

Pelaku bidah justru mencari-cari dan membuat-buat amalan baru yang bisa mewujudkan demikian. Seakan-akan ia lebih mengetahui kemaslahatan hamba daripada Allah dan rasul-Nya.

 

  1. Pelaku bidah seakan-akan menuduh Nabi ﷺ berkhianat kepada Tuhannya.

Allah telah menyempurnakan agama-Nya, tapi pelaku bidah malah terus melakukan ibadah yang baru. Seakan-akan ia ingin menyempurnakan agama-Nya. Seolah-olah Nabi ﷺ tidak menyampaikan agama-Nya dengan lengkap dan sempurna sehingga mengkhianati Tuhannya.

Imam Mālik berkata:

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ:

“Siapa yang melakukan bidah dalam Islam yang ia anggap baik, maka ia telah menganggap bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah wahyu. Sebab, Allah berfirman:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} [المائدة: 3]

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu.” (QS. Al-Maidah: 3)

فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا.

Apa yang pada hari itu bukan agama, maka pada hari ini pun bukanlah agama.” (Al-I’tiṣām)

 

  1. Pelaku bidah adalah pengikut hawa nafsu.

Allah telah menyempurnakan agama-Nya. Namun, pelaku bidah justru terus melakukan ibadah yang baru, seakan-akan tidak menerima aturan-Nya yang ada.

Syekh Sa’īd bin ’Alī bin Wahf Al-Qaḥṭānī berkata:

المبتدع متبع لهواه, لأن العقل إذا لم يكن متبعا للشرع  لم يبق له إلا اتباع الهوى

Pelaku bidah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya. Sebab, jika akal tidak mengikuti syariat, maka tidak tersisa baginya kecuali mengikuti hawa nafsunya. (Nūr As-Sunnah wa Ẓulumāt Al-Bid’ah)

 

Siberut, 21 Sya’bān 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-I’tiṣām karya Imam Asy-Syāṭibī.
  2. Nūr As-Sunnah wa Ẓulumāt Al-Bid’ah fī Ḍaui Al-Kitāb wa As-Sunnah karya Syekh Sa’īd bin ’Alī bin Wahf Al-Qaḥṭānī.