Pelajaran dari Kokok Ayam dan Ringkik Keledai

Pelajaran dari Kokok Ayam dan Ringkik Keledai

“Jika kalian mendengar suara kokok ayam, mohonlah kepada Allah karunia-Nya, karena sesungguhnya ia melihat malaikat.”

Demikianlah Nabi ﷺ bersabda. Beliau ﷺ melanjutkan:

وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Dan jika kalian mendengar suara ringkik keledai, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan, karena sesungguhnya dia melihat setan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Ada beberapa faidah yang dapat kita petik dari hadis ini:

 

  1. Ada sebagian binatang yang dapat melihat malaikat dan setan, di antaranya ayam dan keledai.

Abu Al-’Abbās Al-Qurṭubī berkata:

هذا يدل على أن الله تعالى خلق للديكة إدراكا تدرك به الملائكة، كما خلق للحمير إدراكا تدرك به الشياطين

“Ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan indra pada ayam yang dengannya ia dapat merasakan keberadaan malaikat, sebagaimana Dia menciptakan indra pada keledai yang dengannya ia dapat merasakan keberadaan setan.” (Al-Mufhim limā Asykala min Talkhiṣ Kitāb Muslim)

 

  1. Malaikat dan setan itu ada dan nyata.

Abu Al-’Abbās Al-Qurṭubī berkata:

ويفيد: أن كل نوع من الملائكة والشياطين موجودان، وهذا معلوم من الشرع قطعا، والمنكر لشيء منهما كافر،

“Hadis ini memberikan faidah bahwa malaikat dan setan itu benar-benar ada. Hal ini telah diketahui secara pasti dalam syariat. Orang yang mengingkari keberadaan salah satu dari keduanya adalah kafir.” (Al-Mufhim limā Asykala min Talkhiṣ Kitāb Muslim)

 

  1. Dianjurkan untuk berdoa kepada Allah dan memohon karunia-Nya ketika mendengar kokok ayam. Sebab, ketika itu ada malaikat. Malaikat adalah makhluk yang baik dan kemunculannya merupakan tanda kebaikan.

Al-Qāḍī ’Iyāḍ berkata:

سَبَبُهُ رَجَاءُ تَأْمِينِ الْمَلَائِكَةِ عَلَى الدُّعَاءِ وَاسْتِغْفَارِهِمْ وَشَهَادَتِهِمْ بِالتَّضَرُّعِ وَالْإِخْلَاصِ

“Sebabnya yaitu diharapkan para malaikat mengaminkan doa, memohonkan ampun, dan menjadi saksi atas ketundukkan dan keikhlasan.” (Al-Minhāj Syarḥ Saḥīḥ Muslim bin Al-Ḥajjāj)

Ibnu Hubairah:

ولما كانت الديكة يؤنس إلى أصواتها من حيث إنها في الليل توقظ النائم لأفضل الأوقات للذكر، وهو وقت السحر، كانت عند رؤية الملائكة يثور صاحبها، فيذكر الله سبحانه حينئذ، ويسأل من فضله.

“Ketika ayam terasa menenangkan dengan suaranya, di mana ia di malam hari membangunkan orang yang tidur pada waktu terbaik untuk berzikir, yaitu waktu sahur, maka ketika ia melihat malaikat, pemiliknya pun tergerak sehingga ia ingat Allah ketika itu dan memohon karunia-Nya.” (Al-Ifṣāḥ ’an Ma’ānī Aṣ-Ṣiḥāḥ)

 

  1. Dianjurkan untuk berdoa kepada Allah dan memohon karunia-Nya ketika ada orang-orang saleh.

Al-Muẓhirī menyebutkan faidah hadis tadi:

هذا الحديث يدلُّ على نزولِ الرحمة والبركة عند مرور أهل الصلاح؛ فيستحب عند ذلك طلب الرحمة والبركة من الله الكريم

“Hadis ini menunjukkan turunnya rahmat dan berkah ketika orang-orang saleh lewat, karena itu dianjurkan memohon rahmat dan keberkahan kepada Allah Yang Maha Mulia ketika itu.” (Al-Mafātīḥ fī Syarḥ Al-Maṣābīḥ)

An-Nawawī berkata:

وَفِيهِ اسْتِحْبَابُ الدُّعَاءِ عِنْدَ حُضُورِ الصَّالِحِينَ وَالتَّبَرُّكِ بِهِمْ

“Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk berdoa ketika hadirnya orang-orang saleh dan mencari berkah melalui mereka.” (Al-Minhāj Syarḥ Saḥīḥ Muslim bin Al-Ḥajjāj)

 

  1. Siapa yang membantu dalam ketaatan pantas untuk dipuji bukan dicaci.

Al-Ḥulaimī berkata:

يؤخذ منه أن كل من استفيد منه الخير لا ينبغي أن يسب ولا أن يستهان به، بل يكرم ويحسن إليه

“Dari hadis ini dapat diambil faidah, yakni bahwa segala sesuatu yang dapat diambil kebaikan padanya, tidak pantas untuk dicela dan dihinakan. Bahkan, seharusnya dimuliakan dan diperlakukan dengan baik.” (Fatḥu Al-Bārī Syarḥ Saḥīḥ Al-Bukhārī)

Dan dalam hadits di atas, ayam telah membantu agar kita berdoa. Karena itu, tidak boleh kita mencela, memaki dan menghinanya. Dalam kesempatan lain Nabi ﷺ bersabda:

‌لا ‌تسبُّوا ‌الدَّيكَ، فإنَّهُ يوقِظُ للصَّلاةِ

“Jangan kalian memaki ayam, karena sesungguhnya ia membangunkan untuk salat.” (HR. Abū Dāwūd) Maksud membangunkan salat di sini adalah salat malam.

 

  1. Dianjurkan untuk memohon perlindungan kepada Allah ketika mendengar suara keledai. Sebab, ketika itu setan sedang hadir.

Abu Al-’Abbās Al-Qurṭubī berkata:

وإنما أمر بالتعوذ من الشيطان عند نهيق الحمير، لأن الشيطان لما حضر يخاف من شره، فينبغي أن يتعوذ منه.

“Sesungguhnya diperintahkan berlindung dari setan ketika mendengar ringkikan keledai, karena setan ketika muncul, kejahatannya dikhawatirkan. Maka, sudah sepantasnya berlindung kepada Allah darinya.” (Al-Mufhim limā Asykala min Talkhīṣ Kitāb Muslim)

Ibnu Hubairah:

في هذا الحديث من الفقه أنه لما كان صوت الحمار أنكر الأصوات كان الشيطان وشيكًا بالتعرض له ليثير من النهاق الذي يزعج المسلمين فتنكره نفوسهم؛ فأمر رسول الله ﷺ بالتعوذ من الشيطان

“Dalam hadis ini terkandung pemahaman yakni ketika suara keledai merupakan seburuk-buruk suara, maka setan sangat mudah untuk mengusiknya sehingga ia meringkik dengan suara yang mengganggu kaum muslimin lalu membuat jiwa mereka tidak menyukainya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan berlindung dari setan.” (Al-Ifṣāḥ ’an Ma’ānī Aṣ-Ṣiḥāḥ)

 

  1. Dianjurkan untuk berlindung kepada Allah ketika ada orang-orang fasik dan zalim.

Al-Muẓhirī menyebutkan faidah hadis tadi:

ونزولِ الغضب والعذاب على أهل الكفر فيستحب الإعاذة عند مرورهم خوفَ أن يصيبَه شؤمُهم.

“Dan juga menunjukkan turunnya kemurkaan dan siksa kepada orang-orang kafir, karena itu dianjurkan berlindung kepada Allah ketika mereka lewat karena khawatir kesialan mereka menimpanya.” (Al-Mafātīḥ fī Syarḥ Al-Maṣābīḥ)

Mullah ’Ali Al-Qārī berkata:

وَكَذَا يُسْتَحَبُّ الدُّعَاءُ عِنْدَ رُؤْيَةِ الظَّالِمِينَ وَالْفَاسِقِينَ، بَلِ الْمُبْتَلِينَ بِالدُّنْيَا، كَمَا كَانَ الشِّبْلِيُّ – قَدَّسَ اللَّهُ سِرَّهُ – إِذَا رَأَى أَحَدًا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ:

“Demikian pula dianjurkan berdoa ketika melihat orang-orang zalim dan fasik, bahkan orang-orang yang tertimpa cobaan berupa keterikatan dengan dunia. Sebagaimana yang dilakukan oleh Asy-Syibli-semoga Allah menyucikan batinnya-apabila ia melihat seorang pecinta dunia, ia berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu.”

وَالْحَاصِلُ أَنَّ رُؤْيَةَ الصَّالِحِينَ وَالْفَاسِقِينَ بِمَنْزِلَةِ سَمَاعِ آيَاتِ الْوَعْدِ وَالْوَعِيدِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْلُبَ فِي الْأَوَّلِ، وَيَسْتَعِيذَ فِي الثَّانِي.

Kesimpulannya, melihat orang-orang saleh dan fasik bagaikan mendengar ayat-ayat tentang janji dan ancaman. Oleh karena itu, sepantasnya memohon dalam perkara pertama dan berlindung dalam perkara kedua.” (Mirqāt Al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt Al-Maṣābīḥ)

 

  1. Seorang mukmin diperintahkan untuk berlindung kepada Allah عز وجل dari setan, bukan memaki dan melaknatnya.

Dalam hadis tadi, Nabi ﷺ tidak memerintahkan kita untuk memaki apalagi melaknat setan ketika mengetahui kehadirannya. Beliau justru memerintahkan kita untuk berlindung kepada Allah darinya.

Begitu pula Tuhan kita tidak pernah memerintahkan kita untuk melaknat dan memaki setan. Yang Dia perintahkan hanyalah berlindung dari kejahatannya.

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’rāf: 200)

“Apabila kamu membaca Al Quran, maka hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Naḥl: 98)

Namun, ketika kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari setan, bukan berarti kita ‘harus’ takut kepada setan dan merasa rendah diri di hadapannya. Tidak. Bukan itu seharusnya. Ia makhluk dan kita pun makhluk.

Maka untuk apa menundukkan kepala atau membusungkan dada di hadapannya?!

Selain itu, dengan kita mencela, melaknat dan memaki setan, tetap saja tak membuat setan jadi rendah hati dan menghentikan kejahatannya. Malah, bisa jadi ia makin besar kepala, bangga dan bersorak. Sebab, ia berhasil membuat manusia kesal!

 

Siberut, 19 Rajab 1447

Abu Yahya Adiya