’Umar dan “Bidah yang Baik”

’Umar dan “Bidah yang Baik”

Para ahli bidah melegalkan perbuatan bidah yang mereka lakukan dengan perkataan ’Umar bin Al-Khaṭṭāb.

Perkataan ’Umar itu yakni:

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bidah adalah ini.” (HR. Mālik)

Perkataan ini muncul ketika ’Umar menyaksikan orang-orang melaksanakan salat tarawih di masjid dalam keadaan berpencar dalam beberapa kelompok. Ada yang melaksanakan salat sendirian dan ada pula yang melaksanakannya secara berjamaah.

Kemudian ’Umar menyatukan mereka dalam satu salat berjamaah dan menunjuk Ubay bin Ka’b sebagai imamnya.

Setelah itu, ‘Umar pun mengucapkan kalimat tadi: “Sebaik-baik bidah adalah ini.”

Apakah benar ucapan ’Umar ini merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya melakukan bidah dengan niat baik?

Tidak! Tidak benar! Sebab…

 

  1. Kewajiban Seorang Muslim Menerima Aturan Allah dan Rasul-Nya

Seorang muslim wajib menerima aturan Allah dan Rasul-Nya dan tidak mempertentangkannya dengan ucapan siapa pun.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ḥujurāt: 1)

Syekh As-Sa’dī berkata:

وفي هذا، النهي [الشديد] عن تقديم قول غير الرسول ﷺ على قوله، فإنه متى استبانت سنة رسول الله ﷺ وجب اتباعها، وتقديمها على غيرها، كائنا ما كان

“Dalam firman-Nya ini terdapat larangan keras mendahulukan perkataan selain Rasul ﷺ di atas perkataannya. Apabila telah jelas sunnah Rasulullah ﷺ, maka wajib untuk mengikutinya dan mendahulukannya di atas petunjuk selainnya, siapa pun orangnya.” (Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān)

Oleh karena itu, tidak boleh mendahulukan ucapan siapa pun di atas ucapan nabi kita, betapapun mulianya orang tersebut, sekalipun ia adalah sahabat nabi kita.

Ibnu ’Abbās berkata:

أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ وَيَقُولُ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Aku memandang mereka akan binasa. Kukatakan, ‘Nabi ﷺ bersabda demikian’, tetapi mereka berkata, ‘Abu Bakar dan ’Umar melarang demikian.” (HR. Aḥmad)

 

  1. Mustahil Umar Menyelisihi Sabda Nabi ﷺ.

’Umar bin Al-Khaṭṭāb. adalah orang yang sangat taat kepada Nabi ﷺ. Oleh karena itu, tidak mungkin ketika Nabi ﷺ mengatakan, “Setiap bidah adalah sesat”, Umar berkata, “Tidak. Tidak semua bidah sesat. Ada bidah yang baik!”

Hal itu mustahil terjadi pada ’Umar.

Dengan demikian, perkataan ’Umar “sebaik-baik bidah adalah ini”, bukanlah bidah dalam pengertian syariat.

Yang dimaksud ’Umar adalah bidah secara bahasa. Sebab, bidah secara bahasa bermakna sesuatu yang baru.

Makna perkataan “sebaik-baik bidah adalah ini” bukanlah bahwa salat tarawih secara berjamaah di masjid merupakan perbuatan baru yang tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ, melainkan maksudnya adalah sesuatu yang dihidupkan kembali setelah sebelumnya ‘mati’.

Sebab, Nabi ﷺ pernah melaksanakan salat tarawih secara berjamaah di masjid selama beberapa malam, kemudian beliau meninggalkannya karena khawatir turun wahyu yang mewajibkannya.

Setelah itu, salat tarawih tidak lagi dilaksanakan secara berjamaah di masjid hingga Nabi ﷺ wafat. Keadaan ini berlanjut pada masa pemerintahan Abu Bakar sampai beliau wafat.

Pada masa pemerintahan ’Umar, salat tarawih secara berjamaah kembali dihidupkan di masjid. Perbuatan ’Umar ini tentu saja dapat dikatakan baru dibandingkan masa sebelumnya. Oleh karena itu, ’Umar berkata, “Sebaik-baik bidah adalah ini”.

Ibnu Ḥajar Al-Haitamī berkata:

وَقَول عمر رَضِي الله عَنهُ فِي التَّرَاوِيح نعمت الْبِدْعَة هِيَ أَرَادَ الْبِدْعَة اللُّغَوِيَّة وَهُوَ مَا فعل على غير مِثَال كَمَا قَالَ تَعَالَى

“Perkataan ’Umar tentang salat tarawih ‘Sebaik-baik bidah adalah ini’ maksudnya adalah bidah secara bahasa, yaitu apa yang dilakukan tanpa contoh. Sebagaimana firman-Nya:

{قل مَا كنت بدعا من الرُّسُل}

“Katakanlah, ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (QS. Al-Ahqaf: 9)

وَلَيْسَت بِدعَة شرعا فَإِن الْبِدْعَة الشَّرْعِيَّة ضَلَالَة كَمَا قَالَ – صلى الله عليه وسلم – وَمن قسمهَا من الْعلمَاء إِلَى حسن وَغير حسن فَإِنَّمَا قسم الْبِدْعَة اللُّغَوِيَّة وَمن قَالَ كل بِدعَة ضَلَالَة فَمَعْنَاه الْبِدْعَة الشَّرْعِيَّة

Itu bukanlah bidah dalam syariat. Sebab, bidah dalam syariat adalah sesat, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah ﷺ. Ulama yang membagi bidah menjadi baik dan tidak baik, sebenarnya ia membagi bidah secara bahasa. Sedangkan ulama yang berkata bahwa setiap bidah adalah sesat, maksudnya adalah bidah dalam syariat.” (Al-Fatāwā Al-Ḥadīṡiyyah)

 

Siberut, 2 Sya’bān 1442

Abu Yahya Adiya