Setelah memerintahkan untuk menyampaikan kabar gembira berupa surga dan segala kenikmatan di dalamnya kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, Allah berfirman:
- إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ
Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhan mereka. Namun, mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan sesat oleh-Nya, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi petunjuk oleh-Nya. Tidak ada yang Dia sesatkan dengan itu selain orang-orang yang fasik.
Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Artinya, Allah tidak segan membuat perumpamaan, baik berupa sesuatu yang kecil maupun yang besar selama itu benar dan untuk menetapkan kebenaran.
Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan mereka. Inilah sikap orang yang beriman ketika melihat, mendengar, dan mengetahui perumpamaan yang Allah sebutkan. Mereka menerimanya dan meyakini bahwa perumpamaan itu benar-benar berasal dari-Nya.
Itulah sikap orang orang yang beriman. Adapun orang-orang yang kafir?
Namun, mereka yang kafir akan mengatakan: “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Mereka tidak menerimanya, bahkan menolaknya dan mempertanyakannya:
“Apa maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan?”
“Untuk apa Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan?”
Allah memberikan jawaban:
“Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan sesat oleh-Nya, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi petunjuk oleh-Nya.”
Artinya, Allah hendak menguji, siapa yang menerima perumpamaan yang Allah berikan sehingga ia dianggap beriman dan mendapatkan hidayah, serta siapa yang menolaknya sehingga ia dianggap kafir dan sesat.
Tidak ada yang Dia sesatkan dengan itu melainkan orang-orang yang fasik. Artinya, Allah hanya akan menyesatkan orang yang fasik, yaitu orang yang tidak mau beriman kepada-Nya dan tidak menaati-Nya. Adapun orang yang beriman kepada-Nya dan menaati-Nya, maka Dia tidak akan menyesatkannya.
Faidah yang dapat kita petik dari ayat ini:
- Allah memiliki sifat segan atau malu yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam ayat: “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan”.
Artinya, jika dalam menyatakan kebenaran Allah tidak malu, maka dalam perkara sebaliknya Allah memiliki rasa malu. Sifat ini disebutkan secara jelas oleh Nabi ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu apabila seseorang menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (HR. Abū Dāwud, Tirmiżī dan Ibnu Mājah)
- Jika Allah tidak malu menyatakan kebenaran, maka kita pun seharusnya demikian.
Jangan sampai rasa malu atau segan kepada orang lain menghalangi kita untuk menyampaikan kebenaran.
Nabi ﷺ bersabda:
أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ
“Ingatlah, janganlah rasa segan kepada orang lain menghalangi seseorang untuk mengucapkan kebenaran apabila ia telah mengetahuinya.”
Setelah menyampaikan hadis ini, Abū Sa’īd Al-Khudrī menangis, lalu berkata:
قَدْ وَاللَّهِ رَأَيْنَا أَشْيَاءَ فَهِبْنَا
“Demi Allah, sungguh kita telah melihat berbagai perkara, tetapi kita merasa segan untuk menyatakan kebenaran.” (HR. Aḥmad, Tirmiżī dan Ibnu Mājah)
Maka, jangan sampai rasa malu menghalangi kita untuk menyampaikan kebenaran, sebagaimana Allah Maha Pemalu, tetapi rasa malu-Nya tidak menghalangi-Nya untuk menyatakan kebenaran.
- Allah memberikan perumpamaan kepada hamba-hamba-Nya.
Untuk apa? Untuk menguji mereka dan agar mereka berpikir.
Allah berfirman:
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr: 21)
Agar mereka berpikir tentang apa?
لعلهم يتفكرون في قدرة الله وعظمته
“Agar mereka berpikir tentang kekuasaan Allah dan keagungan-Nya.” (At-Tafsīr Al-Muyassar)
- Nyamuk termasuk hewan yang kecil.
Walaupun kecil, ia dapat mengganggu manusia, bahkan dapat menyebabkan kematiannya.
- Salah satu sifat orang yang beriman adalah menerima kabar dan perintah yang Allah berikan serta tidak menolaknya dengan akalnya.
- Salah satu sifat orang kafir adalah menolak kabar dan perintah yang Allah berikan.
- Allah tidak mungkin menyesatkan seseorang tanpa sebab. Allah menyesatkan seseorang karena kesalahannya sendiri, sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi: “Tidak ada yang Dia sesatkan dengan itu melainkan orang-orang yang fasik.”
Siberut, 16 Jumādā Aṡ-Ṡāniyah 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
2. At-Tashīl li Ta‘wīl At-Tanzīl karya Syekh Musṭafā Al-’Adawī.






