Allah memerintahkan Bani Israel untuk beriman kepada Al-Qur‘an, yang membenarkan Taurat dan Injil, serta melarang mereka menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Selain itu, Allah mengingatkan mereka agar tidak menjual ayat-ayat-Nya dengan harga yang rendah, dan agar hanya kepada-Nyalah mereka bertakwa.
Setelah itu Allah berfirman:
- وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kalian campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kalian menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahuinya.
Allah melarang Bani Israel melakukan dua perkara:
- Mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.
- Menyembunyikan kebenaran.
Dengan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan, kebenaran menjadi samar. Hal tersebut akan menyesatkan orang lain. Maka, bagaimana jika ditambah dengan menyembunyikan kebenaran? Mereka dituntut untuk menampakkan kebenaran, bukan justru menyembunyikannya.
Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya agar tampaklah perbedaan antara kebenaran dan kebatilan serta agar jelas jalan kebenaran dan jalan kebatilan. Maka bagaimana mungkin mereka justru menyamarkan kebenaran?!
Allah mengingatkan mereka agar tidak mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan tidak menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui bahwa hal tersebut merupakan kesalahan.
Faidah yang dapat kita petik dari ayat di atas:
- Larangan mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.
Apa contoh mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan?
1) Seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Mereka mencampurkan Taurat yang diturunkan kepada Musa dengan berbagai kebohongan yang mereka buat-buat, lalu mereka berkata: “Ini dari sisi Allah.”
Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu berkata, ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit. Maka celakalah mereka karena tulisan tangan mereka dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 79)
2) Menyerukan persatuan agama Yahudi, Kristen, dan Islam.
3) Doa bersama lintas agama.
- Kebenaran dan kebatilan tidak dapat dipersatukan.
- Larangan menyembunyikan kebenaran.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ، أَلْجَمَهُ اللهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَار
“Siapa yang ditanya tentang ilmu lalu menyembunyikannya, maka Allah akan mencambuknya dengan cambuk api di hari kiamat.” (HR. Aḥmad)
Syekh Abdurraḥmān As-Sa’dī berkata:
ومن لبس الحق بالباطل، فلم يميز هذا من هذا، مع علمه بذلك، وكتم الحق الذي يعلمه، وأمر بإظهاره، فهو من دعاة جهنم
“Siapa yang mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan sehingga tidak membedakan yang satu dengan yang lain, padahal ia mengetahuinya dan menyembunyikan kebenaran yang ia ketahui dan yang diperintahkan untuk ditampakkan, maka ia termasuk dai yang mengajak ke Jahanam.” (Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān)
- Perbedaan antara kesalahan karena tahu dan tidak tahu.
Orang yang melakukan kesalahan dalam keadaan mengetahui bahwa perbuatan tersebut salah memiliki ancaman yang lebih berat dibandingkan orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan.
Siberut, 15 Żulqa’dah 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
- Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān karya Syekh Abdurraḥmān As-Sa’dī.






