Hubungan Antara Sabar dan Hidayah

Hubungan Antara Sabar dan Hidayah

Allah Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Apa maksud niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya?

Ibnu ‘Abbas berkata:

يعني: يهد قلبه لليقين، فيعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه، وما أخطأه لم يكن ليصيبه

“Maksudnya yaitu memberi petunjuk kepada hatinya untuk yakin, sehingga sadar bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpa dirinya pasti tidak akan meleset darinya, dan apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirinya pasti tidak akan menimpanya.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wil Al-Quran)

Abu Zhabyan berkata:

كنا عند علقمة، فقرئ عنده هذه الآية:

“Kami pernah di sisi ‘Alqomah, lalu dibacakanlah di sisinya ayat ini:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.”

 فسُئل عن ذلك فقال:

Ia ditanya tentang maksud ayat itu, maka ia pun berkata:

هو الرجل تصيبه المصيبة، فيعلم أنها من عند الله، فيسلم ذلك ويرضى.

“Yaitu orang yang ketika ditimpa musibah, ia meyakini bahwa itu dari sisi Allah, maka ia pun pasrah dan rida terhadap itu.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wil Al-Quran)

 

Faidah yang bisa kita petik dari ayat tadi:

 

  1. Keutamaan bersabar menghadapi takdir Allah yang menyakitkan, seperti musibah, bencana, dan semacamnya.

Sabar secara bahasa artinya menahan. Sedangkan secara istilah:

حبس النفس عن الجزع، واللسان عن التشكي والسخط، والجوارح عن لطم الخدود وشق الجيوب

“Menahan jiwa untuk tidak berkeluh kesah, menahan lisan untuk tidak mengeluh dan marah, dan menahan anggota badan untuk tidak menampari pipi dan merobek kantong.” (Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

Artinya…

Orang yang marah ketika tertimpa musibah adalah orang yang tidak sabar.

Orang yang berkeluh kesah ketika tertimpa musibah adalah orang yang tidak sabar.

Orang yang meraung-raung, menjerit-jerit, memukul dan merobek pakaian ketika tertimpa musibah adalah orang yang tidak sabar.

Marilah kita lihat contoh kesabaran berikut ini:

Suatu hari penyakit berbahaya menyerang kaki ‘Urwah bin Zubair hingga sampai ke betisnya. Ia pun memanggil para dokter. Setelah mereka memeriksa penyakitnya, mereka berkata:

ليس له دواء إلا القطع.

“Tidak ada obatnya kecuali amputasi!”

Apa reaksi ‘Urwah?

Ia terima keputusan itu.  Lalu apa hasilnya?

Az-Zuhri berkata:

فقطعت فما تضور وجهه

“Lalu dipotonglah kaki Urwah, tapi tidak merengut wajahnya!”

Tidak merengut!

Setelah kakinya dipotong, beberapa hari berikutnya anaknya jatuh dari atap rumah lalu meninggal. Dan ketika itu ‘Urwah memiliki 7 anak.

Musibah itu sampai ke telinga ‘Urwah. Maka ia pun berkata:

اللهم لك الحمد، أخذت واحدًا وأبقيت ستة، وأخذت عضوًا وأبقيت ثلاثة

“Ya Allah segala puji bagi-Mu. Engkau mengambil satu anakku dan Engkau sisakan yang enam. Dan engkau mengambil satu anggota tubuhku dan Engkau sisakan yang tiga.”

Allahu akbar! Itulah yang namanya sabar. Itulah yang namanya orang yang bersabar.

 

  1. Sabar itu termasuk iman.

‘Ali bin Abi Thalib berkata:

ألا ان الصبر من الايمان بمنزلة الرأس من الجسد فإذا قطع الرأس باد الجسم…ألا انه لا ايمان لمن لا صبر له

“Ketahuilah, bahwa kesabaran itu bagian dari keimanan seperti halnya kepala bagian dari badan. Jika kepala dipotong, maka binasalah badan…Ketahuilah, tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki kesabaran!” (‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin)

 

  1. Sabar adalah sebab turunnya hidayah

Jakarta, 20 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Dalil Al-Waizh Ilaa Adillah Al-Mawaizh karya Syahatah Muhammad Shaqr.
  3. Jami Al-Bayan Fii Ta’wil Al-Quran karya Imam Ath-Thabari.
  4. Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin karya Imam Ibnul Qayyim.