Memuliakan Orang-Orang Lemah

Memuliakan Orang-Orang Lemah

Suatu hari Sa’ad bin Abi Waqqash bersama Ibnu Mas’ud, seorang dari kabilah Hudzail, Bilal, dan dua orang yang lain sedang berkumpul bersama Nabi ﷺ.

Lalu beberapa orang musyrik ingin berbicara dengan Nabi ﷺ. Maka mereka berkata:

اطْرُدْ هَؤُلَاءِ لَا يَجْتَرِئُونَ عَلَيْنَا

“Usirlah keenam orang ini, supaya mereka tidak lancang kepada kami!”

Kedudukan 6 orang itu dianggap tidak setara dengan mereka, makanya mereka tidak mau 6 orang itu duduk-duduk bersama mereka.

Perkataan orang-orang musyrik itu membekas di hati Nabi ﷺ, sehingga terbetiklah di hati beliau keinginan untuk menyuruh 6 orang sahabatnya itu agar pergi menjauh.

Maka Allah menegur nabi-Nya dengan menurunkan firman-Nya yaitu surat Al-An’aam ayat 52:

وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan sore hari, sedangkan mereka mengharap wajah-Nya. Engkau tidak bertanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak bertanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkanmu (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim.” (HR. Muslim)

Ayat dan hadis ini menunjukkan wajibnya memuliakan orang-orang yang beriman, walaupun mereka memiliki kekurangan. Dan wajibnya menghormati orang-orang yang bertakwa, walaupun mereka memiliki kelemahan.

Sebab, di balik kekurangan dan kelemahan mereka, ada kelebihan dan kekuatan.

Nabi ﷺ bersabda:

ابْغونِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُنْصرُونَ، وتُرْزقون بضُعفائِكُمْ

“Carikan untukku orang-orang lemah, karena sesungguhnya kalian ditolong dan mendapatkan rezeki karena orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Abu Daud)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin menjelaskan hadis ini:

فإذا حنَّ عليهم الإنسان وعطف عليهم وآتاهم مما آتاه الله عز وجل؛ كان ذلك سبباً للنصر على الأعداء، وكان سبباً للرزق

“Jika seseorang mengasihi dan menyayangi mereka serta memberikan kepada mereka apa yang Allah berikan kepadanya, maka itu adalah sebab pertolongan melawan musuh dan sebab datangnya rezeki.” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Mungkin itulah salah satu sebab kenapa Allah menolong para rasul-Nya.

Karena, siapakah mayoritas pengikut para rasul-Nya?

Heraclius, kaisar Romawi pernah bertanya kepada Abu Sufyan tentang nabi kita:

فَأَشْرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ

“Apakah yang mengikutinya orang-orang kelas atas atau kelas bawah?”

Abu Sufyan menjawab:

بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ

“Bahkan yang mengikutinya adalah orang-orang kelas bawah.”

Ya, yang banyak mengikuti nabi kita adalah kaum lemah dan orang-orang kelas bawah.

Bahkan, mereka pula yang menjadi mayoritas pengikut para rasul.

Heraclius berkata kepada Abu Sufyan:

وَسَأَلْتُكَ أَشْرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمْ اتَّبَعُوهُ وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ

“Kutanyakan juga kepadamu, apakah yang mengikutinya orang-orang kelas atas atau kelas bawah? Lalu engkau menjawab bahwa yang mengikutinya adalah orang-orang kelas bawah. Memang itulah pengikut para rasul.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan keutamaan bagi kaum lemah dan orang-orang kelas bawah.

Merekalah yang banyak mengikuti para rasul. Merekalah yang banyak menyertai para rasul.

Karena itu….

Muliakanlah siapa pun yang beriman, walaupun ia memiliki kekurangan.

Hormatilah siapa pun yang bertakwa, walaupun ia memiliki kelemahan.

 

Siberut, 16 Muharram 1443

Abu Yahya Adiya