Pemilik Iman yang Lemah

Pemilik Iman yang Lemah

Makin kuat iman seseorang, maka makin kuatlah kebenciannya terhadap kemaksiatan dan kemungkaran. Sebaliknya, makin lemah iman seseorang maka makin lemahlah kebenciannya terhadap kemaksiatan dan kemungkaran.

Nabi ﷺ bersabda:

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

“Siapa di antara kalian yang menyaksikan kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaknya mengubahnya dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaknya ia mengubahnya dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Ketika menyaksikan kemungkaran, seorang mukmin harus mengingkarinya dengan tangannya. Kalau tidak sanggup, dengan lisannya. Dan kalau tidak sanggup juga…

Ia harus mengingkarinya dengan hatinya.

Syaikh Hasan Abu Al-Asybal berkata:

يعني: أقل درجات الإنكار أن تنكر بقلبك، وأن تغضب لله عز وجل، وأن يتمعر وجهك لانتهاك حرمة من حرماته سبحانه وتعالى.

“Inilah derajat pengingkaran yang paling rendah, yaitu engkau mengingkari dengan hatimu, engkau marah karena Allah, dan merengut wajahmu karena dilanggarnya larangan-Nya.” (Durus Syaikh Hasan Abu Al-Asybal)

Ya, tampakkanlah ketidaksukaanmu dan ketidakrelaanmu terhadap kemungkaran itu!

Itu yang seharusnya.

Bukan justru tersenyum dan tertawa di hadapan kemungkaran dan kemaksiatan.

Dan bukan malah berselfie ria di hadapan perbuatan dosa dan kesalahan.

 

Siberut, 11 Syawwal 1438

Abu Yahya Adiya