Seorang ayah dikunjungi oleh seseorang, sementara ia tidak mau menemuinya. Ia pun menyuruh anaknya, “Katakan kepadanya, ‘Ayah lagi pergi!”
Dan kasus yang lain….
Seorang ibu berkata kepada anaknya, “Jangan menangis! Nanti ibu belikan kamu mainan.”
Padahal, ia tidak ada niat untuk membelikan mainan untuk anaknya.
Perbuatan apakah semua itu?
‘Abdullah bin ‘Amir bercerita:
دَعَتْنِي أُمِّي يَوْمًا وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَاعِدٌ فِي بَيْتِنَا فَقَالَتْ
“Suatu hari, ibuku memanggilku, sementara Rasulullah ﷺ duduk di dalam rumah kami. Ibuku berkata:
هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ
“Hai kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.”
فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Rasulullah ﷺ pun bertanya kepada ibuku:
وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ
“Apa yang akan engkau berikan kepadanya?”
قَالَتْ
Ibuku menjawab:
أُعْطِيهِ تَمْرًا
“Aku akan memberinya kurma.”
فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Rasulullah ﷺ pun bersabda kepada ibuku:
أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ
“Ketahuilah, jika engkau tidak jadi memberikan sesuatu kepadanya, maka akan dicatat atasmu sebagai kedustaan.” (HR. Abu Daud)
Imam Al-‘Azhim Abadi berkata:
وَفِي الْحَدِيث أَنَّ مَا يَتَفَوَّه بِهِ النَّاس لِلْأَطْفَالِ عِنْد الْبُكَاء مَثَلًا بِكَلِمَاتٍ هَزْلًا أَوْ كَذِبًا بِإِعْطَاءِ شَيْء أَوْ بِتَخْوِيفٍ مِنْ شَيْء حَرَام دَاخِل فِي الْكَذِب
“Dalam hadis ini terdapat keterangan bahwa apa yang diucapkan oleh orang-orang dengan bergurau atau bohong kepada anak-anak tatkala menangis, misalnya akan memberi sesuatu atau menakut-nakuti dari sesuatu (padahal tidak ada) adalah haram dan termasuk dusta.” (‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)
Demikianlah Islam menjunjung tinggi akhlak yang mulia dan merendahkan akhlak yang hina.
Kejujuran adalah akhlak yang mulia. Sedangkan dusta adalah akhlak yang hina.
Karena hinanya dusta, Islam melarang perbuatan tersebut, siapa pun pelakunya dan kepada siapa pun ia melakukannya, walaupun kepada anak kecil yang belum memiliki akal yang sempurna!
Dan karena rendahnya kebohongan, Islam melarang perbuatan tersebut, siapa pun pelakunya dan bagaimanapun kondisinya, walaupun ketika bercanda!
Nabi ﷺ bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah orang yang berkata lalu berdusta agar orang lain tertawa. Celakalah ia. Celakalah ia!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kalau berbohong dalam keadaan tidak serius saja celaka, lantas bagaimana pula kalau melakukannya dengan serius dan sungguh-sungguh?!
Ketika orang tua berdusta di hadapan anaknya, ada dua kenyataan pahit yang harus ia hadapi.
Ia mendapat dosa karena perbuatannya dan anaknya akan meniru perbuatannya.
Maka, jangan ajari anak kita berdusta. Selain menjatuhkannya ke dalam dosa, kita pun harus menanggung dosanya.
Makin sering ia melakukan kedustaan, maka makin banyak dosa yang mesti kita emban.
Siberut, 4 Dzulqa’dah 1444
Abu Yahya Adiya






