Adakah hubungan antara kepintaran dan hidayah?
Tidak ada!
Itulah jawabannya.
Orang yang pintar belum tentu dapat hidayah. Sebagaimana orang yang bodoh belum tentu tidak dapat hidayah.
Contohnya?
Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Ma‘bad Al-Juhani, pencetus Qadariyyah:
وَكَانَ مِنْ عُلَمَاءِ الوَقْتِ عَلَى بِدْعَتِهِ
“Ia termasuk ulama di masanya dalam keadaan ada bidah pada dirinya.” (Siyar A‘lam An-Nubala)
Lihatlah, ulama di masanya!
Ia bukan orang awam dan bodoh!
Yaqut Al-Hamawi berbicara tentang Washil bin ‘Atha, pencetus Muktazilah:
كان متكلما بليغا أديبا متفننا خطيبا
“Ia seorang ahli kalam, fasih, sastrawan, multitalenta, dan orator.” (Mujam Al-Udabaa)
Apakah orang yang keadaannya seperti ini layak dianggap awam dan bodoh?
Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Al-‘Allaaf, tokoh Muktazilah:
شَيْخُ الكَلاَمِ، وَرَأْسُ الاعْتِزَالِ، أَبُو الهُذَيْلِ مُحَمَّدُ بنُ الهُذَيْلِ بنِ عُبَيْدِ اللهِ البَصْرِيُّ، العَلاَّفُ، صَاحِبُ التَّصَانِيْفِ، وَالذَّكَاءِ البَارِعِ.
“Syekh dalam ilmu kalam dan pemimpin Muktazilah yaitu Abu Al-Hudzail Muhammad bin Al-Hudzail bin ‘Ubaidillah Al-Bashri Al-‘Allaaf. Orang yang memiliki beberapa karya tulis dan sangat cerdas.” (Siyar A‘lam An-Nubala)
Lihatlah, yang memiliki beberapa karya tulis dan sangat cerdas!
Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Jahm bin Shafwan, pencetus Jahmiyyah:
كَانَ صَاحِبَ ذَكَاءٍ وَجِدَالٍ
“Ia orang yang cerdas dan pintar berdebat.” (Siyar A‘lam An-Nubala)
Lihatlah, cerdas dan pintar berdebat!
Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Bisyr Al-Marisi, tokoh Jahmiyyah:
المُتَكَلِّمُ، المُنَاظِرُ، البَارِعُ….كَانَ بِشْرٌ مِنْ كِبَارِ الفُقَهَاءِ. أَخَذَ عَنِ: القَاضِي أَبِي يُوْسُفَ
“Ahli ilmu kalam dan pendebat yang ulung….Dulu Bisyr termasuk fukaha senior. Ia mengambil ilmu dari Al-Qadhi Abu Yusuf.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Lihatlah, ia termasuk jajaran fukaha senior!
Al-Balkhi berkata tentang Abul Hasan Ahmad bin Yahya Ar-Rawandi:
لَمْ يَكُنْ فِي نُظَرَاءِ ابْنِ الرَّاوَنْدِيِّ مِثْلُهُ فِي المَعْقُولِ….وَكَانَ عِلْمُهُ فَوْقَ عَقْلِهِ.
“Tidak ada pada pesaing-pesaing Ibnu Ar-Rawandi orang yang semisal dengannya dalam hal logika…dan ilmunya di atas akalnya.” (Siyar A‘lam An-Nubala)
Namun, bagaimana dengan keadaannya?
Ibnu An-Najjar berkata tentang Abul Hasan Ahmad bin Yahya Ar-Rawandi:
وَكَانَ مُعْتَزِلِيّاً، ثُمَّ تَزَنْدَقَ.
“Ia dulunya seorang Muktazilah lalu menjadi zindik.” (Siyar A‘lam An-Nubala)
Ya, menjadi zindik!
Sebelumnya ia membela Islam, lalu di kemudian hari ia menjadi penghujat Islam!
Setelah menyebutkan biografi Ar-Rawandi ini Imam Adz-Dzahabi berkata:
لَعَنَ اللهُ الذَّكَاءَ بِلاَ إِيْمَانٍ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ البَلاَدَةِ مَعَ التَّقْوَى.
“Allah melaknati kecerdasan tanpa iman dan Dia meridai kebodohan disertai dengan ketakwaan.” (Siyar A‘lam An-Nubala)
Maka, tak ada hubungan antara kepintaran dan hidayah.
Bahkan, kalau kita mau melihat contoh nyata di zaman ini….
Siapakah orang tercerdas di abad ini?
Siapakah pemilik IQ tertinggi di abad ini?
Apakah ia seorang muslim?
Maka, jangan menyangkutpautkan kecerdasan dengan hidayah!
Syekh Abu Al-Asybaal Hasan Az-Zuhairi berkata:
وهؤلاء القدرية أناس بلغوا في العلم مبلغاً وشأناً عظيماً جداً، والذين تكلموا في القدر كـ معبد الجهني، وكذلك الجهم بن صفوان من الجهمية وغير واحد من أعلام أهل البدع كانوا في غاية العلم والذكاء والفطنة ولم يكونوا جهالاً، وفرق كبير جداً بين العلم والهداية
“Orang-orang Qadariyyah itu adalah orang-orang yang dalam hal ilmu mencapai prestasi dan kedudukan yang sangat besar. Dan orang-orang yang berbicara tentang takdir seperti Ma‘bad Al-Juhani, dan demikian pula Jahm bin Shafwan dari kalangan Jahmiyyah dan tokoh ahli bidah lainnya, mereka berada dalam puncak ilmu, kecerdasan, dan kecerdikan dan bukan orang-orang bodoh. Sangat beda antara pengetahuan dan hidayah.” (Syarh Kitab Al-Ibanah Min Ushul Ad-Diyanah)
Ya, sangat beda antara pengetahuan dan hidayah.
Bisa jadi seseorang tahu benarnya Al-Quran, tapi ia mendustakannya dan tidak mau mengikutinya.
Bisa jadi seseorang tahu benarnya As-Sunnah, tapi ia mengingkarinya dan tidak mau menerimanya.
Bisa jadi seseorang tahu benarnya manhaj salaf, tapi ia menolaknya dan tidak mau menerimanya.
Hidayah itu di tangan Allah. Bukan di tangan manusia.
Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kau kasihi, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashshash: 56)
Siberut, 3 Dzulqa’dah 1444
Abu Yahya Adiya






