Antara Ibnu Umar dan Penolak Takdir

Antara Ibnu Umar dan Penolak Takdir

Ibnu ‘Umar terkejut. Yahya bin Ma’mar mengabarkan kepadanya bahwa ada orang-orang di Bashrah yang mengingkari takdir. Mereka tidak meyakini takdir Allah. Mereka tidak yakin bahwa segala sesuatu telah Allah takdirkan.

Ibnu ‘Umar pun berkata:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي

“Kalau engkau bertemu dengan mereka, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dariku.

وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

Demi Zat yang ‘Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan nama-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar bukit Uhud, lalu ia infakkan, niscaya Allah tidak akan menerimanya, sebelum ia beriman kepada takdir.”

Ibnu ‘Umar menyitir sabda Nabi ﷺ:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Iman yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk.” (HR.Muslim)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Beriman kepada takdir Allah yang baik maupun buruk adalah termasuk pokok agama.

Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata:

قد ثبت بالكتاب والسنة وإجماع الأمة: أن الإيمان بالقدر أحد أركان الإيمان، وأنه ما شاء الله كان، وما لم يشأ لم يكن،

“Telah tetap berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah serta kesepakatan umat bahwa iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman, dan bahwasanya apa yang Allah kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.

فمن لم يؤمن بهذا فإنه ما آمن بالله حقيقة.

Siapa yang tidak mempercayai ini, maka sebenarnya ia tidak beriman kepada Allah.

فعلينا أن نؤمن بجميع مراتب القدر:

Karena itu, hendaknya kita beriman kepada semua tingkatan takdir.

فنؤمن أن الله بكل شيء عليم، وأنه كتب في اللوح المحفوظ جميع ما كان وما يكون إلى يوم القيامة، وأن الأمور كلها بخلقه وقدرته وتدبيره.

Kita beriman bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dia telah menetapkan dalam Lauhul Mahfuzh segala yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat dan bahwasanya segala perkara terjadi berdasarkan penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan dari-Nya.

ومن تمام الإيمان بالقدر: العلم بأن الله لم يجبر العباد على خلاف ما يريدون، بل جعلهم مختارين لطاعتهم ومعاصيهم.

Dan termasuk kesempurnaan iman kepada takdir yaitu menyadari bahwa Allah tidak memaksa hamba-hamba-Nya untuk melakukan apa yang bertentangan dengan apa yang mereka inginkan. Bahkan, Allah memberikan kepada mereka pilihan untuk menaati dan mendurhakai-Nya.” (Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitab At-Tauhid)

 

  1. Mengingkari takdir Allah adalah kekafiran. Sebab…

1) Ibnu ‘Umar berlepas diri dari orang-orang yang mengingkari takdir.

2) Ibnu Umar menyatakan bahwa sedekah mereka tidak diterima oleh Allah dan sedekah orang kafir tidak diterima oleh Allah.

Allah berfirman:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Dan yang menghalangi infak mereka untuk diterima adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. At-Taubah: 54)

 

  1. Hendaknya seseorang beragama berdasarkan wahyu, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Bukan sangkaan, perkiraan, dan perasaan.

Sebagaimana yang dilakukan Ibnu ‘Umar. Ia menetapkan keyakinannya terhadap takdir berdasarkan sabda nabinya ﷺ. Bukan berdasarkan sangkaan, perkiraan atau perasaannya.

Siberut, 7 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
  3. Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di.